24 April 2022

Sultan Thaha Saifuddin Dan 2 Harimau Tunggangannya Bertempur Melawan Belanda Selama 46 Tahun

Sepak Terjang Sultan Thaha Saifuddin, Pahlawan Nasional Jambi dalam Melawan Belanda Pahlawan nasional Sultan Thaha Saifuddin diapit dua Harimau Sumatera yang merupakan tunggangannya. Sultan Thaha Saifuddin merupakan pahlawan nasional yang dikukuhkan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 079/TK/Tahun 1977 tanggal 24 Oktober 1977. Penganugerahan gelar itu sebagai penghargaan atas kepahlawanannya dalam tugas perjuangan membela bangsa dan negara.  



Penghargaan itu memang layak karena masa perjuangan Sultan Thaha melawan penjajah Belanda menelan waktu yang cukup lama, yaitu 46 tahun (1858-1904). Perlawanan sedemikian lama dengan luas cakupan wilayah yang melebar membutuhkan penanganan dan strategi mantap sehingga semua sumber daya dan komponen pendukung berada dalam jejaring koordinasi dapat berfungsi pada status dan kedudukannya masing-masing. Katakanlah sebagai suatu sistem, perlawanan Sultan dalam masa yang begitu lama sudah tentu ditopang oleh kemampuan strategis dan manajerial yang mumpuni. 

Selain kemampuan mendayagunakan sumber daya perangkat perang atau pasukan, dalam suatu perang gerilya dukungan lingkungan masyarakat di kantong-kantong perlawanan ikut menentukan sifat gerilya itu sendiri. Kekuatan pemukul pada serangan tiba-tiba atau penghadangan pasukan Sultan terhadap pasukan dan patrol Belanda, selain oleh kemampuan "hit and run", juga didukung kemampuan strategi dari mata-mata intelijen dan analisis kekuatan sendiri maupun lawan. 

Pengejaran Belanda terhadap mobilitas kedudukan Sultan sebagai pemimpin besar pasukan Fisabilillah yang dalam waktu lama baru dapat dideteksi Belanda sejak dikuasainya Muaro Tembesi di tahun 1901. Itu pun baru tahun 1903 Belanda punya keyakinan akan posisi positif keberadaan Sultan, yaitu di Pematang Tanah Garo. Terlepas dari legenda akan adanya tunggangan (kendaraan) dalam wujud dua ekor harimau peliharaan Sultan, yang jelas Sultan Thaha Saifuddin (STS) telah menunjukan kemampuannya sebagai seorang panglima. 

Seorang pemimpin perang gerilya dengan strateginya yang terkenal. Penuh Inspirasi dan Kobarkan Semangat Pertama, bertemu langsung dengan (utusan) Belanda dalam setiap perundingan yang digagas Belanda. Perundingan ini sebenarnya merupakan wahana lobi dan menekan Sultan untuk takluk dan diikat perjanjian. Pantangan ini sangat mendukung komitmen Sultan pada strategi perjuangan Sultan. Kedua, strategi perjuangan yang dipatri sumpah setia untuk memegang teguh bahwa “Sultan tidak mati". Kendati keteguhan para pengikut Sultan tersebut menimbulkan berbagai versi cerita sampai kepada ketidakpercayaan bahwa yang dimakamkan di Muaro Tebo bukan jasad STS, tetapi jasad salah seorang panglima atau pengawalnya, Belanda jelas tidak dapat memastikan pula karena secara utuh. Mereka tidak mengenal wajah dan sosok STS karena Sultan berpantang berhadapan muka dengan Belanda. Ketiga, strategi pemindahan secara cepat dan persebaran front perlawanan menunjukan stensel perlawanan secara terorganisir yang terangkai dalam komunitas fleksibel dan langsung baik melalui tipe berantai maupun melalui cara tak kenal lelah. Keempat, mengadakan hubungan "perdagangan" dengan pihak perwakilan dagang atau perwakilan negara-negara seperti Turki, Inggris atau Amerika yang ada di Semenanjung Malaka melalui sistem barter hasil hutan dan perkebunan dengan peralatan persenjataan maupun suplai kebutuhan hidup Sultan dan pasukannya di daerah uluan DAS Batanghari. Penggunaan kamuflase perahu/kapal dagang (kapal canon/kenen) ternyata cukup ampuh untuk melewati barikade dan patrol Belanda di DAS Ilir Batanghari, termasuk pusat markas Belanda di Jambi maupun di Muaro Kumpeh. 

Simpul-simpul pasokan kebutuhan Sultan dipegang oleh Pangeran Wiro Kesumo selain sebagai anggota Pepatih Dalam, juga terakhir adalah sahabat dan besan Sultan Thaha Saifuddin serta beberapa orang lainnya. Alasan perlawanan Sultan Thaha Saifuddin bukan saja oleh adanya markas Belanda di Kuaro Kumpeh atau tambahan kekuatan pasukan Belanda dari Batavia ke Muaro Kumpeh dibawah pimpinan Mayor Van Langen dengan 30 buah kapal perang dan 800 personel serdadu Belanda tanggal 25 September 1858. Tetapi jauh melebihi itu.

Tekanan penguasaan Belanda melalui perjanjian Sungai Baung (Rawas) tanggal 14 November 1833 dengan Letkol Michiels ditandatangani Sultan Muhammad Fachruddin begitu menyakitkan hati Sultan Thaha. Betapa tidak, Belanda menguasai dan melindungi Kerajaan Jambi. Bahkan penguasaan itu memberi kebebasan kerajaan Belanda untuk mendirikan tempat pertahanan di mana saja yang menurut mereka strategis dan dapat mendukung kepentingan Belanda. 

Dampak perjanjian ini berdirilah markas patrol Belanda di Muaro Kumpeh yang sejak semula dipandang strategis sebagai pintu keluar masuknya pelayaran DAS Batanghari dan cukup taktis untuk pengawasan pusat pemerintahan Kesultanan Jambi. Baik strata pertahanan maupun ekonomi melalui perdagangan hasil humi, hasil perkebunan dan hasil hutan Jambi . Perjanjian Sungai Baung ini rupanya oleh penguasa Belanda Résiden Palembang, yaitu PROEFORIUT dikukuhkan kedalam bentuk traktat pada tanggal 15 Desember 1834, sekaligus mempertegas ikatan penguasaan yang lebih melebar dengan detail menambah ekopansi sebagaimana termuat kemudian dalam perjanjian tambahan yang kemudian disyahkan oleh parlemen Belanda tanggal 21 April 1835. Perjanjian ini ditandatangani Sultan Muhamad Fachruddin dan Pangeran Ratu Martaningrat Abdurrahman serta disaksikan para pembesar kerajaan dan keluarga istana Tanah Pilih Pemerintah Belanda Perjanjian tanggal 21 April 1835 tersebut memberikan kewenangan memungut cukai eksport-import barang-barang dan untuk itu Sultan dan Pangeran Ratu akan menerima f 8000 setahun sebagai ganti rugi. 

Pemerintah Belanda memiliki hak monopoli penjualan garam. Yang menyakitkan dan ironinya dalam perjanjian tersebut dinyatakan Jambi menjadi bagian dari Pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu pemerintah Belanda tidak mencampuri urusan ketatanegaraan dalam kerajaan Jambi dan tidak mengganggu adat istiadat kecuali jika ada penggelapan yang berkenaan dengan cukai yang menjual hak dan kewenangan pemerintah Belanda. 

Aplikasi perjanjian Sultan Jambi dengan pemerintah Belarda itu menjadi bahan kajian dan rekaman perbandingan dalam diri Sultan, baik ketika menuntut ilmu di Tanah Rencong Aceh Darussalam maupun dari perjalanan muhibahnya ketika Sultan diangkat sebagai Pangeran Ratu mencampingi pamannya yang dinobatkan sebagai mpengganti Sultan Muhamad Fachruddin yaitu Sultan Abdurrahman Nazaruddin (1841-1855). Pada masa Raden Thaha menjadi Pangeran Ratu, dia menyaksikan dan merasakan campur tangan Belanda terlalu jauh, yang berlindung pada perjanjian-perjanjian yang ditandaiagani ayahnya (Sultan Muhamad Fachruddin). Jiwa patriotnya mulai menggelembung. Tanpa musyawarah dengan sang pamannya sebagai Sultan, Pangeran Ratu Thaha Saifuddin mengadakan kontrak dengan misi dagang Amerika (Walter Gibson) dalam pembelian senjata. Perjanjian ini merupakan wujud persiapan perlawanannya untuk mengusir Belanda dari Jambi. 

Upaya Pangeran Ratu Thaha Saifuddin dalam mempersiapkan perlawanan bersenjata dan pembangkangan serta penghindaran pemungutan cukai diketahui Belanda, Walter Gibson ditangkap dan dibawa ke Batavia. Asisten Residen Strom Vans' Graven Sande dari Palembang dikirim untuk menginspeksi kantor Belanda di Muaro Kumpeh dan menghadap Sultan Abdurrahman Nazaruddin untuk memperingati Sultan agar mematuhi perjanjian (1834,1835) dan melarang memperdagangkan alat persenjataan. Peringatan ini tidak digubris. Orang Jambi tetap melakukan penghindaran diri dari pemungutan cukai. Orang Palembang tetap mengadakan hubungan dalam jual-beli bahan peledak, mesiu dan senjata api. Pengawasan Belanda terhadap Kesultanan Jambi semakin keras dan ketat. Akibatnya tekanan-tekanan Belanda itu menimbulkan ketidaksenangan dan menunaikan perlawanan, kendati masih terselubung karena perlawanan tersebut tidak diperkuat oleh peralatan dan perlengkapan yang sebanding dengan peralatan Belanda. Dengan demikian, pada awalnya perlawanan rakyat Jambi dengan Belanda masih bersifat pemboikotan penjualan hasil bumi, hasil hutan maupun perdagangan lain yang dimonopoli Belanda. Akibat pemboikotan ini, kantor dagang di Muaro Kumpeh ditutup karena tidak ada transaksi penjualan hasil bumi kepada Belanda. Sudah tentu kondisi ini tidak diinginkan Belanda. Berbagai upaya untuk mengadakan perjanjian baru terus dilakukan kendati tidak mendapat tanggapaan, apalagi Pangeran Ratu Thaha Saifuddin dalam kewenangannya sebagai Perdana Menteri semakin membatasi kemungkinan diadakannya pertemuan dengan Belanda.

Ketika Pangeran Ratu Thaha Saifuddin dinobatkan menjadi Sultan pada tahun 1856, ia dibuat melalui perjanjian, adalah pelanggaran terhadap kedaulatan Sultan yang mengarah pada jalan pencaplokan kesultanan. Untuk itu dengan berani Sultan kemudian membatalkan semua perjanjian dengan Belanda yang dibuat secara paksa oleh ayahnya. Sikap perlawanan yang ditujukan Sultan sangat mengejutkan Belanda. Apalagi beberapa tahun kemudian, yakni 1857 Belanda mengetahui Sultan mengutus Pangeran Ratu Martaningrat menyampaikan surat kepada Sultan Turki (masa itu diakui sebagai khalifah dunia Islam) melalui Perwakilan Kesultanan Turki di Singapura untuk mengumumkan larangan campur tangan atas urusan dalam negeri Jambi bagi semua kekuatan dikawasan itu (Taufik Abdullah, 1984). 

Tak ada jalan lain, Belanda mengancam akan menangkap Sultan dan membuangnya ke Batavia. Sultan tak gentar, malah mempersiapkan pasukan untuk menyerang Muaro Kumpeh. Kembali secara licik Belanda menawarkan perundingan dan sementara perundingan dalam proses Belanda memperkuat diri dengan mendatangkan kapal perang dengan 800 personil ke Muaro Kumpeh pada akhir Agustus 1858. Perundingan gagal dan kemudian Belanda memutuskan mengirim pasukan ke Jambi dan sekaligus mengultinatum. 

Kemudian, Sultan Thaha berpikir selama 2x24 jam untuk menandatngani perjanjian baru. Apabila menolak, Sultan akan diganti dan akan diasingkan ke Batavia. Ultimatum dan pemaksaan ini dijawab Sultan - Kerajaan Jambi adalah hak milik rakyat Jambi dan akan kami pertahankan dari perjanjian atau perkosaan oleh siapapun juga dengan tetesan darah yang penghabisan, tidak ada pedoman yang lebih celaka dari pada ketakutan (A. Mekti Nasrudin.1986). Sultan semakin gigih mempersiapkan perlawanan. Tanggal 25 September 1858, Mayor Van Langen dengan kekuatan militernya menyerbu Jambi dan Sultan pun tak tinggal diam. 

Dua hari pertempuran sengit terjadi dan pasukan Sultan terpaksa mundur setelah berhasil menenggelamkan kapal perang Houtman ke dasar Sungai Batanghari. Istana Tanah Pilih berhasil dikuasai Belanda setelah di bumihanguskan oleh Sultan sendiri. Sebelum terjadinya penyerangan Belanda ke Tanah Pilih Jambi, sebenarnya Sultan Thaha Saifuddin, telah mengadakan pertemuan dengan semua Pangeran dan Pembesar Kerajaan Jambi, membahas persiapan bahab makanan yang cukup dibasis-basis pedalaman. Mereka juga bertekad tidak akan menyerah kepada Belanda tidak berkhianat kepada teman seperjuangan maupun kepada negeri. Kesiapan yang dilakukan dari sisi perlawanan rakyat tersebut menjadi proses penggeseran pusat pemerintahan dan perlawanan kehulu DAS Batanghari berjalan dengan baik. Muaro Tembesi ditetapkan sebagai benteng pertahanan untuk menghadang Belanda dan juga sebagai Markas Kemando Pusat Perlawanan, sebagian lain ke Lubuk Ruso dan Dusun Tengah.  

Untuk menjalankan roda pemerintahan Sultan Thaha di Muaro Tembesi, menunjuk Pangeran Hadi sebagai Kepala Bala Tentara. Pangeran Singo sebagai Kepala Pemerintahan Sipil dan Pangeran Lamong dipercaya menjabat Kepala Keuangan (Zuraima, 1996). Sedangkan upaya perkuatan mesin perangnya selain secara estafet menanamkan semangat juang kepada rakyat, Sultan juga mengadakan kapal dagang pengangkut hasil Jambi ke luar negeri untuk ditukar dengan senjata. Kapal tersebut diberi nama “Canon atau Kenen" yang sebagian besar diawaki oleh pelaut Inggris. Kapal Kenen ini adalah kapal Inggris yang dirombak sedemikian rupa oleh Pangeran Wiro Kusumo dan Temenggung Jafar, sehingga menjadi kapal dagang. 

Dengan bermodalkan persenjataan yang cukup modern di masa itu, Sultan membangun sebuah pasukan Fisabilillah dengan kekuatan 20.000 personil dibawah asuhan pelatih yang didatangkan dari Aceh Darussalam. Pasukan Fisabilillah ini kemudian dipecah kedalam tiga Front Komando (Usman Meng, Zuraima;1996) yaitu; A. Wilayah Muaro Tembesi, Batang Tembesi, Serampas, Sungai Tenang, Merangin, Mesumai, Tantan, Pelepat, Senamat, Tabir sampai ke Kerinci berada dibawah komando Tumenggung Mangku Negoro dengan dibantu para Panglima Pangeran H Umar bin Pangeran H Yasir dan Depati Parbo. B. Dari Muaro Tembesi, sepanjang sungai Batanghari, Batang Tebo, Batang Bungo, Jujuhan, Tanjung Simalidu langsung dipimpin oleh Sultan Thaha dan dibantu oleh saudaranya Pangeran Diponegoro (Pangeran Dipo). C. Dari Muaro Tembesi kehilir Kumpeh. Muaro Sabak dan Tungkal dibawah Komando Raden Mattaher, dibantu oleh Raden Pamuk dan Raden Perang.

Kepada para panglima di masing-masing wilayah diamanatkan untuk memobilisasi kekuatan rakyat, meningkatkan pertahanan di wilayah masing-masing dan melakukan sabotase atau penyerangan tiba-tiba pada pos-pos atau patrol Belanda tanpa menunggu komando Sultan. Bahkan aplikasi dari kewenangan itu, Raden Anom berhasil merebut beberapa pucuk senjata di Balai Pertemuan dan beberapa pos Belanda di Jambi (April 1895). 

Serangan mendadak juga terjadi di Sarolangun Rawas (Februari 1890) dibawah pimpinan H Kedemang Rantau Panjang dibantu beberapa Hulubalang. Belanda sangat cerkejut oleh serangan tiba-tiba seperti itu, apalagi didukung oleh peralatan yang cukup modern. Tak heran bila Sultan melakukan pembagian wilayah penyerangan dan penyerangan secara mobil, juga terhadap patrol-patrol yang dilakukan Belanda dalam upaya pengejaran terhadap Sultan Thaha. Terjadilah pertempuran sporadic dari masing-masing wailayah yang cukup memusingkan. Belanda terpaksa memperkuatnya dengan mendatangkan marsose (pasukan istimewa) dari Aceh dan Palembang. 

Sementara itu di tahun 1893, Pangeran Diponegoro dan Pangeran Kusen membangun kantor Bea Cukai di Muaro Sungai Tembesi, Muaro Sikamis, Sungai Aro. Kegiatan ini jelas memukul upaya Belanda memungut cukai atas barang-barang yang dibawa dari pedalaman, sedangkan batter hasil Jambi yang dilakukan Sultan tetap berjalan melalui DAS Batanghari tanpa dapat terdeteksi oleh Belanda. Rasanya pihak Belanda pun tidak mengetahui bahwa di jantung Batang Tabir telah terbangun rumah besak/istana di Pematang Tanah Garo yang sebagian bahan bangunannya dipasok dari Jambi dan Singapura oleh Pangeran Wiro Kusumo. Bahkan sepertinya lepas dari pengamatan Belanda di Jambi, Sultar pan sempat melaksanakan pernikahan anaknya dengan Putra Said Idrus gelar Pangeran Wiro Kusumo di rumah Besak Pematang Tanah Garo selama satu bulan secara meriah sekali. 

Ketertutupan pertahanan dan kediaman keluarga Sultan dari pengamatan Belanda ini antara lain oleh adanya kesetiaan pengikut dan rakyatnya dan atau kemungkinan pengalihan perhatian Belanda yang lebih besar ke daerah lain. Sumpah setia (Setih Setio) para pengikut mengikuti anjuran Sultan bahwa "bila keadaan memaksa untuk menyerah kepada Belanda, maka berpura-pura lah kamu menyerah. Namun bila ada kesempatan Belanda menanyakan dimana tempat Suitan Thaha Saifuddin janganlah kamu menunjukan tempat itu. Sumpah ini tetap dipegang kuat dan menyebabkan Belanda kewalahan mendeteksi keberadaan Sultan dan pertahanannya. 

Medan pertempuran Sultan Thaha berpindah dari satu tempat ke tempat lain sesuai garis strategis perlawanannya. Pusat komando tersebar dalam mobilitas kepemimpinan seorang panglima yang konon didukung oleh kemampuan spiritual dan hewan kendaraan (harimau) yang juga setia mendampingi Sultan bergerak dari satu front ke front yang lain. Menghadapi ketidakmampuan operasi militer belanda lewat patrol yang sering diserang dengan tiba-tiba atau oleh adanya aral rintang di permukaan sungai, anak-anak sungai DAS, pihak belanda selalu mengupayakan mengadakan perundingan. Sultan dengan teguh hati tetap menolak upaya belanda tersebut. Sultan tidak mau berunding dan ini dinyatakan Sultan; "saya tidak mau berunding dengan belanda, bila saya berunding tatap muka) dengan mereka, maka hilanglah saya selama 40 hari". 

Pada tahun 1894. Sultan Thaha akhirnya mengizinkan Pangeran Ratu untuk mengadakan pertemuan dengan Roodt Van Oldenber Nepelt di Muaro Ketalo. Sultan mengikuti perundingan dengan perwakilan belanda itu dari kamar sebelah ruang pertemuan. Perundingan itu gagal, karena belanda tetap menghendaki kesultanan Jambi berada dibawah kekuasaan belanda (Nederlansch), sebaliknya Sultan tetap pada pendiriannya, bahwa urusan kesultanan Jambi sepenuhnya tidak dapat dicampuri belanda. Dengan gagalnya perundingan, pihak belanda tetap berupaya untuk menangkap Sultan. Untuk itu penguasa belanda dengan gencar mengadakan patrol dan menambah personil untuk menggempu pusat pertahanan Sultan di Muaro Tembesi. Sebelum tindakan militer, belanda mengirim kepala staf angkatan perangnya GW Beeger ke Jambi untuk mengkoordinasikan data inpurnakan, terutama mengenai sungai, jalan-jalan tikus antar dusun di daerah Jambi, maupun jalan telijen dan informasi yang mendukung operasi militer besar-besaran. Peta-peta topografi disempurnakan, terutama mengenai sungai, jalan-jalan tikus antar dusun di daerah Jambi maupun jalan kecil yang menghubungi Rawas dan Jambi. Data dan informasi tersebut segera diolah, karena belanda mendapat informasi yang cukup merisaukan, yaitu adanya penyelundupan senjata api repeater sebanyak 1500 buah. 

Tanggal 4 September 1890 Kembali tim intel belanda dikirim ke sekitar Muaro Tembesi untuk mengamati dan membuat perhitungan strategis militer menyusul adanya informasi pedagang dari Sumbar yang diharuskan membayar cukai di Sungai Aro. Permulaan November 1900. kapal-kapal penyelidik bersenjata sudah dekat Muaro Tembesi, tapi Show of Force itu tidak dilanjutkan, karena belanda masih tetap berupaya mengadakan perundingan. Selain itu pihak belanda sedang merampungkan program pembangunan jalan darat dari Jambi ke Muaro Tembesi sebagai sarana pendukung mobilisasi pasukan infantri dan peralatan serta perbekalan perang. Alur-alur sungai pun semakin disempurnakan untuk pengerahan kapal-kapal perangnya dari Jambi. Kapal-kapal penyelidik belanda yang berlayar sampai ke hulu Batanghari (Teluk Kayu Putih), sepertinya tidak mendapat gangguan. Sikap penduduk pun cukup bersahabat tidak memusuhi belanda. Rupanya sikap itu adalah sesuai dengan perintah Sultan Thaha, agar belanda tidak curiga atau mencurigai adanya pos-pos pertahanan pasukan Sultan. Sultan menilai gangguan terhadap kapal penyelidik tersebut akan berentet pada mobilisasi pasukan yang lebih besar, sementara Sultan sendiri saat itu sedang menghimpun kekuatan dan persiapan kemungkinan serangan besar-besaran ke Muaro Tembesi. 

Tanggal 21 Maret 1901 pasukan belanda dari Palembang tiba dan membangun benteng di Muaro Tembesi tanpa ada bentrokan dengan pasukan Sultan atau Pangeran Diponegoro. Kendati pendudukan belanda di Muaro Tembesi berlangsung cepat, tapi belanda tidak berhasil mendapatkan informasi tentang keberadaan Sultan dan pasukannya. Para kepala dusun atau rakyat yang dipanggil "ambtenar" belanda tetap bersahabat tapi tetap membungkam. Pencarian terus dilakukan atas dasar laporan Christian tertanggal 20 Februari 1901, bahwa Sultan Thaha berada di Pematang Dipo di Parunusan yang terletak ditepian Sungai Tabir. Sungai itu telah disebari batang-batang kayu sehingga kapal kecil pun tak dapat melayarinya. Dilain laporan, kepada komando angkatan darat diinformasikan posisi penting jalan setapak antara Parunusan ke Pematang yang harus dikuasai untuk masuk ke tempat berkumpulnya para pembesar Kesultanan. Patroli harus sering dilakukan untuk mengganggu konsentrasi Sultan. Dalain laporan tertanggal 12 Juni 1901, disarankan untuk bertindak tegas terhadap Sultan dan menutup Muaro Tabir. Operasi penangkapan terus dijalankan dengan pengerahan pasukan bersenjata atau setidaktidaknya mendorong Sultan keluar dari persembunyiannya.

Suasana yang dianggap tenang oleh Belanda dalam pendudukan di Muaro Tembesi, ternyata terganggu oleh penyerangan kedudukan kontroler di Sarolangun tanaggal 30 Mei 1901, tanggal 6 Juni 1901 beberapa pos ditepi Sungai Batanghari diserang pula. Lampu-lampu di seberang Muaro Tembesi berhasil dilenyapkan oleh Pasukan Sultan pada tanggal 11 Juli 1901 dan tanggal 27 Juli 1901 pasukan patrol belanda ditembaki dengan gencar oleh pasukan Sultan. Pada tanggal 13 Juli 1901 pasukan belanda yang sedang berpatroli di Singkut ditembaki sehingga satu orang juru tembak belanda mati dan dua orang lainnya menderita luka. Serangan serangan di Singkut tersebut mendorong belanda menambah kekuatan pasukan Ambon dari batalyon garnizun Magelang. Perlawanan semakin seru walau akhirnya pasukan Sultan meninggalkan Singkut dan tidak seorang pun yang menyerah, Benteng-benteng perlawanan; Tanjung Limbur, Limbur, Merangin, Pelayangan. Sekancing. Limbur Tembesi, Datuk Nan Tigo, Kuto Rayo, Sungai Manau, Sungai Alai dan Muaro Siau secara berturut-turut berhasil diduduki pasukan belanda. 

Namun demikian Sultan Thaha dan pasukannya masih tetap melakukan serangan-serangan secara bergerilya. Belanda akhimya menggerakan pasukan-pasukan yang ada di Bayung Lincir, Sarolangun Rawas, Muaro Tembesi, Sijunjung, Tebo dan Jambi untuk melakukan serangan serentak ke wilayah Tabir setelah didapat kepastian posisi Sultan berada disana. Tampaknya strategi penyempitan wilayah pertahanan dan perlawanan Sultan yang dilakubelanda cukup efektif menjerat posisi Sultan Thaha. Rupanya anti gerilya belanda telah mekomunikasi Sultan, belanda menerapkan serangan ovensif agresif dengan dukungan pernil yang banyak dan persenjataan yang kuat. Personil intel yang fleksibel dan akurat dari prajurit bumi (Belanda Hitam) dan isyarat seorang Demang yang dipaksa belanda membuka rahasia keberadaan Sultan Thaha. Pasukan infantri dipimpin Letnan G Badings menyelusuri Sungai Tabir menuju Bangko Pintas tanggal 23 April 1904. Dari penapalan, Remaji dan Muaro Sungai Api (Rantau Api) juga bergerak pasukan infantry tanggal 25 April 1904. Semua pasukan tersebut serentak maju ke Betung Bedaro. Situasi tersebut sangat disadari oleh Sultan yang pada saat itu di Rumah Becak Pematang Tanah Garo. 

Malam itu tanggal 26 April 1904 Sultan berpesan pada Hulubalang "Menurut gerak perasaan saya kemungkinan besar malam ini akan terjadi pertempuran. Kalau itu terjadi musuh tidak akan dapat menyentuh badan saya hidup-hidup, karna saya tidak rela kulit saya disentuh oleh musuh dan ditawan adalah pantang besar bagi saya". Dan malam itu terbukti tekad perjuangan Sultan Thaha yang sampai ketitik darah penghabisan ke bumi persada ibu pertiwi. Seiring munculnya teja diufuk timur tanggal 27 April 1904, Sultan Thaha gugur dalam kancah desingan peluru belanda dengan pedang masih tergenggam ditangan. 

Benarlah tak ada kata menyerah bagi sang Panglima. Sebagai seorang Panglima, Sultan Thaha Saifuddin memegang prinsip sampai akhir hayatnya tidak pernah mau berunding dengan pihak belanda. Sultan cukup menyadari bahwa setiap perundingan dengan belanda pada intinya adalah pengekangan dan intervensi terhadap kedaulatan kesultanan Jambi Untuk menghadapi siasat clicik belanda melalui perjanjian yang dipaksakan, Sultan melancarkan perlawanan gerilia sesuai dengan kemampuan dan kekuatannya secara sporadic dibawah kepemimpinan Hulubalangnya dalam tiga front. Selain itu sikap tidak mau bertemu belanda semakin memoles sikap politik Sultan dalam menggelorakan semangat perjuanggannya yang belakangan menimbulkan keraguan atas wafatnya Sultan di medan laga Betung Bedaro. Strategi gerilya Sultan dalam format modern temyata mendapatkan anti gerilya ternyata cukup ampuh menekan dan mempersempit posisi Sultan yang ditutup dengan serangan frontal, ovensif berkekuatan besar. Walau kemudian belanda meyakini perang dengan Sułtan adalah perang tanpa perdamaian. Pada saat terakhir ada upaya perlindungan terhadap Sultan yang dilakukan oleh Pangeran Ratu Martadiningrat pada bulan Desember 1903. Pangeran Ratu kembali ke Jambi dan menyerahkan keris kepangeranan Ratunya "Singamarjayo" kepada Residen Palembang. Tindakan ini dilakukan karena usia Sultan sudah lanjut (87 tahun dan selama 46 tahun dari umurnya dalam perjuangan). Menurut belanda, bersama penyerahan keris Singamarjayo, Pangeran Ratu juga menyerahkan keris (duplikat) "Siginje" sebagai perlambang kekuasaan Kesultanan. Alur cerita ini seperti pertanda takdir akan berakhimya perlawanan Sultan. Sultan Thaha memaklumi sikap proteksi terhadap dirinya dari Pangeran Ratu Martadiningrat. Sedangkan belanda menyikapi langkah itu dengan kesangsian besar bahwa tanpa keris Siginje pun Sultan Thaha akan tetap melakukan perlawanan dan dia pun tetap dipatuhi sebagai Sultan. Karnanya belanda kemudian tetap melakukan pengejaran terhadap Sultan yang tetap tidak akan menyerah sampai titik darah penghabisan. Nilai kejuangan Sultan ini tetap relevan bagi kita dalam pembangunan daerah disegala bidang, yaitu tanpa kenal menyerah terhadap berbagai kendala dan keterbatasan. Sistem zoning dalam perkuatan sumber daya merupakan salah satu perkuatan didalam kita menyikapi wilayah kerja yang terlalu luas. Manajerial dan skill Sultan patut menjadi pegangan dalam penanganan wilayah.

Sumber: Disadur dari buku SULTAN THAHA SAIFUDDIN PAHLAWAN NASIONAL (Oleh: Drs H Junaidi T Noor MM) 

22 April 2022

37 Rekomendasi Tempat Wisata Alam Merangin oleh drg Wanni

Estetika alam kabupaten Merangin&Nbsp;Provinsi Jambi memang patut teman-teman kunjungi.



Kalau kami berada di kabupaten Merangin&Nbsp;Dan puas wisata alam yang menarik buat mengisi libur di akhir pekan.
Berikut rekomendasi wisata Jambi ini, 37 objek wisata alam air terjun kekinian di Merangin.&Nbsp;&Nbsp;
1. Gunung Masurai/Puncak Masurai
Di Bagian Selatan&Nbsp;Kabupaten Merangin&Nbsp;Kecamtan Jangkat
2. Arboretum Rio Alip
Desa Langling Kec.Bangko
3. Granit - Granodiorit
Desa Air Batu
4. Teluk Gedang
Desa Air Batu
5. Air Terjun Telun Perentak
Desa Bukit Perentak Kec.Pangkalan Jambu
6. Serpihan Mengkarang / Mengkarang Purba
Desa Bedeng Rejo Kec. Bangko Barat
7. Air Terjun Sigerincing
Desa Tuo Kec. Lembah Masurai
8. Air Terjun Parang Jatuh
Desa Tuo Kec. Lembah Masurai
9. Telaga Biru
Desa Tanjung Alam Kec.Jangkat Timur
10. Air Terjun Tepian Mandi Dukun Betuah
Desa Rantau Suli Kec. Jangkat Timur
11. Air Terjun Dan Goa Lubuk Angit
Desa Jangkat Kec. Jangkat Timur
12. Air Terjun Sungai Pasir
Desa Kandang Kec. Tabir
13. Air Terjun Lempisang
Desa Tuo Kec. Lembah Masurai
14. Air Terjun Lematang
Desa Tajung Alam Kec. Jangkat Timur
15. Air Terjun Penghabisan Ikan
Desa Tanjung Berugo Kec. Lembah Masurai
16. Air Terjun Goa Kambing
Desa Tanjungberugokec. Lembah Masurai
17. Hutan Adat Guguk
Desa Guguk Kec. Renah Pembarap
18. Danau Pauh
Desa Pulau Sedang Kec. Jangkat
19. Danau Kumbang
Di atas Gunung Masuraikec. Jangkat
20. Danau Mabuk
Di atas Gunung Masuraikec. Jangkat
21. Danau Depati Empat
Desa Tantaukeremaskec. Jangkat
22. Air Panas Graow
Desa Renah Kemumu Kec. Jangkat
23. Danau Temalam
Desa Karangberahikec. Pamenang
24. Air Terjun Empenau
Desa Talangtembago kec. Jangkattimur
25. Air Terjun Jodoh Teluk Wang Sakti
Desa Biukutanjung kec. Bangko Barat
26. Air Terjun Mengkaring/Muarakaring
Desa Biukutanjungkec. Renahpembarap
27. Air Terjun Talalang Jaya 7 Bidadari
Desa Telentam
28. Air Terjun Talangngah
Desa Talang Sengegah Kecaamatan Renah Pembarap
29. Puncak Ngarau
Desa Rantau Ngarau Kecamatan Tabir Ulu
30. Air Terjun Simpang Manggis
Desa P . Rengas Ulu Kecamatan Bangko Barat
31. Air Terjun Sejinjing
Desa P.&Nbsp; Rengas Ulu Kec. Bangko Barat
32. Air Terjun Puti Daber
Desa Peraduntemeraskec. Muarasiau
33. Air Terjun Serintik Hujan Paneh
Desa talah paruhkec. Lembahmasurai
34. Bukit Gajah
Desa Sekancing Kec. Tiang Pumpung
35. Air Terjun Mukus
Desa&Nbsp; Koto Rami Kec. Lembah Masurai
36. Air Terjun Muara Sangga
Desa Nilo Dingin Kec. Lembah Masurai
37. Air Terjun Sungai Hitam
Desa Renah Pelaan di Kecamatan Jangkat.




14 April 2022

KABUPATEN MERANGIN (JAMBI) DAN WILAYAHNYA, dirangkum oleh drg Wanni





Kabupaten Merangin terbentuk berasal dari pemekaran Kabupaten Sarolangun Bangko jadi Wilayah Kabupaten Merangin dan Kabupaten Sarolangun.Terbentuknya Kabupaten Merangin adalah berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 54 Tahunan 1999 lepas 4 Oktober 1999 Berkenaan Pembentukan Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Tebo, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Di dalam hal ini Kabupaten Merangin sebagai kabupaten orang tua terus bersama dengan Ibukota Pemerintahan di Kota Bangko, yang dulunya juga merupakan ibukota Kabupaten Sarolangun Bangko sebelum dimekarkan.

------baca juga tentang merangin di sini ----------

&Nbsp;1. Geografiskabupaten Merangin merupakan keliru satu Kabupaten berasal dari 11 (Sebelas) Kabupaten/Kota yang berada di Provinsi Jambi. Wilayah Kabupaten Merangin berada di bagian barat Provinsi Jambi dan secara geografis terletak antara 101, 32, 11 - 102, 50, 00 bujur timur dan 1, 28, 23 - 1, 52, 00 bujur selatan. Kabupaten Merangin mempunyai luas wilayah7.679 km2 atau 745,130 Ha yang terdiri berasal dari 4.607 km2 berupa dataran rendah dan 3.027 km2 berupa dataran tinggi, bersama dengan ketinggian berkisar 46-1.206 m berasal dari permukaan air bahari bersama dengan batas wilayah meliputi- Sebelah Timur&Nbsp;&Nbsp; : Kabupaten Sarolangun- Sebelah Barat&Nbsp;&Nbsp;&Nbsp; : Kabupaten Kerinci- Sebelah Utara&Nbsp;&Nbsp;&Nbsp; : Kabupaten Bungo dan Kabupaten Tebo- Sebelah Selatan : Kabupaten Rejang Lebong (Provinsi Bengkulu)


2. Topografiskondisi topografis wilayah Kabupaten Merangin secara generik dibagi didalam 3 (Tiga) bagian, yaitu dataran rendah, dataran tengah dan dataran tinggi. Ketinggian berkisar antara 10-1.206 m dpl bersama bentang alam rata-rata bergelombang. Terhadap dataran rendah terletak terhadap ketinggian 0-100 m dpl bersama dengan luasan 42.77 prosen luas kabupaten. Wilayah dataran tengah yang terletak antara 100-500 m dpl seluas 32.53 % luas kabupaten, sedangkan dataran tinggi yang terletak lebih berasal dari 500 m dpl seluas 14.5 % berasal dari luas Kabupaten Merangin meliputi Kecamatan Jangkat, Muara Siau, Lembah Masurai, Sungai Manau dan beberapa Tabir Ulu. Dataran rendah meliputi Kecamatan Bangko, Pamenang, Tabir, Tabir Selatan dan sebagaian Tabir ulu.wilayah Kabupaten Merangin terhadap waktu ini terdiri atas 24 Kecamatan, 203 Desa dan 10 Kelurahan bersama dengan rincian :


1. Kecamatan Jangkat terdiri berasal dari 12 Desa
2. Kecamatan Sungai Tenang terdiri berasal dari 12 Desa
3. Kecamatan Muara Siau terdiri berasal dari 17 Desa
4. Kecamatan Lembah Masurai terdiri berasal dari 15 Desa
5. Kecamatan Tiang Pungpung terdiri berasal dari 6 Desa
6. Kecamatan Pamenang terdiri berasal dari 13 Desa dan 1 Kelurahan
7. Kecamatan Pamenang Barat terdiri berasal dari 8 Desa
8. Kecamatan Renah Pamenang terdiri berasal dari 4 Desa
9. Kecamatan Pamenang Selatan terdiri berasal dari 4 Desa
10. Kecamatan Bangko terdiri berasal dari 4 Desa dan 4 Kelurahan
11. Kecamatan Bangko Barat terdiri berasal dari 6 Desa
12. Kecamatan Nalo Tantan terdiri berasal dari 7 Desa
13. Kecamatan Batang Mesumai terdiri berasal dari 10 Desa
14. Kecamatan Sungai Manau terdiri berasal dari 10 Desa
15. Kecamatan Renah Pembarap terdiri berasal dari 12 Desa
16. Kecamatan Pangkalan Jambu terdiri berasal dari 8 Desa
17. Kecamatan Tabir terdiri berasal dari 6 Desa dan 5 Kelurahan
18. Kecamatan Tabir Ulu terdiri berasal dari 6 Desa
19. Kecamatan Tabir Selatan terdiri berasal dari 7 Desa
20. Kecamatan Tabir Ilir terdiri berasal dari 7 Desa
21. Kecamatan Tabir Timur terdiri berasal dari 4 Desa
22. Kecamatan Tabir Lintas terdiri berasal dari 5 Desa
23. Kecamatan Margo Tabir terdiri berasal dari 6 Desa
24. Kecamatan Tabir Barat terdiri berasal dari 14 Desa

13 April 2022

SEJARAH SUNGAI MASUMAI DAN SUNGAI MERANGIN, SERTA BUAYA PUTIH NYA

Kota bangko,adalah kota yang terletak di sedang kabupaten merangin.suatu kabupaten di propinsi jambi.kota bangko punya dua sungai besar,yaitu sungai merangin dan sungai mesumai yang kedua sungai ini bertemu terhadap sebuah muara ,Yang di namakan ujung tanjung muara mesumai.ujung tanjung muara mesumai sendiri juga berfaedah sebagai taman kota,dimana taman ini berlimpah di kunjungi penduduk merangin,spesifik nya oleh para remaja terhadap sore maupun malam hari.

     sumber gambar dari internet

Berbicara berkaitan sungai,kedua sungai ini punyai sejarah yang terlampau menarik,dimana terhadap era dahulu berdirilah suatu kerajaan yang bernama kerajaan merangin.raja merangin punyai seorang putra tunggal yang bernama alam jaya.alam jaya sendiri terkenal terlalu arogan,jemawa,dan terkadang bertindak semaunya pada masyarakat-penduduk kecil.

Terhadap sebuah hari,alam jaya tengah pergi berburu ke suatu hutan yang tak jauh berasal dari kerajaan,tempat tersebut kini kami kenal bersama dengan julukan bukit aur.disana,tanpa disengaja alam jaya bertemu bersama seorang gadis yang amat cantik.gadis tersebut bernama Selasih.Alam&Nbsp; jaya menghendaki sekali punya selasi,apalagi idamkan mmperistrinya.tetapi sayang sekali,selasih sendiri menampik karna bukan lama ulang dia akan melangsungkan pernikahannya bersama dengan seorang pemuda biasa,yang bernama mesumai.pasti saja alam jaya merasa terhina akan penolakan tersebut.
Malam tersebut,alam jaya pergi menemui kedua orang tua selasi,alam jaya membujuk supaya pernikahan selasih di batalkan.alam jaya juga menjanjikan ,Jikalau dia sanggup menikahi selasih,maka keperluan hidup semua keluarga selasih akan ditanggung oleh nya,apalagi akan tinggal di istana bersamanya.mendengar tawaran tersebut,kedua orang tua selasih kahirnya menyetujui permintaan alam jaya.tetapi ternyata tanpa disengaja selasih mndengar pembicaraan tersebut.
Malam tersebut,selasih segera secepatnya menemui mesumai,dan menceritakan seluruh yang dia dengar tadi.mesumai yang merasa tak akan bisa untuk bersaing denga seorang putra raja,segera mengambil aturan untuk membawa selasih pergi berasal dari wilayah merangin.tapi sayang,di sedang pelarian,alam jaya dan pasukan nya berhasil menangkap mesumai dan selasih.maka mereka berdua di bawa ke istana untuk diadili,bersama dengan tuduhan perzinahan.tuduhan tersebut sendiri merupakan rekayasa berasal dari alam jaya sendiri.
Tetapi,Ternyata rekaan tersebut bukan dipercayai oleh petinggi-petinggi kerajaan,dikarenakan mereka tau tabiat seorang alam jaya.dan disana,mesumai memberanikan diri untuk berontak,dan menceritakan apa yang sebenrnya.maka raja memutuskan,untuk mengadakan tanding pacuan kuda.siapa yang terlebih dahulu berhasil mencapai garis finish,maka dialah yang akan menikahi selasih.mesumai terima tantangan tersebut,bersama dengan perjanjian,bukan tersedia kecurangan di dalam pertandingan ini.dan mesumai besumpah,jikalau tersedia kecurangan,maka wilayah merangin akan mendapat sebuah bahaya.dan raja pun menyetujui sumpah tersebut.
Keesokan hari nya,pentandingan pun dimulai.petandingan ini miliki garis star dan jalur yang berbeda,tetapi punyai garis finish yang serupa.pertandingan ini di mulai terhadap pas ayam mulai bekokok.pertandingan pun dimulai bersama dengan lintasan yang lumayan jauh,kira-kira 40km.Dan kelanjutannya,tanpa diduga,ternyata mesumai lah yang berhasil mencapai garis finish terlebih dahulu.teriakan gembira dan juga tepuk tangan berasal dari penonton pun ternyata memicu alam jaya jadi malu,bahwa seorang putra tunggal raja ternyata sanggup dikalahkan oleh pemuda biasa.berasal dari atas kuda nya,alam jaya yang begitu di penuhi rasa amarah dan rasa malu,segera saja menebas leher mesumai bersama pedang.dan tewas lah mesumai.
Masyarakat dan petinggi kerajaan hanyalah bias terdiam dan terpana menonton kejadian tersebut.tetapi raja pun memerintahkan pasukan untuk memenjarakan putra tunggal nya sendiri.tapi tak lama sesudah itu suatu gempa besar berjalan,ternyata perjanjian yang dilanggar oleh alam jaya jadi suatu bala besar untuk wilayah merangin.kedua jalur yang di lalui oleh kedua pemuda tadi jadi longsor,dan jadi sungai yang mengaliri air yang begitu panas dan kedua sungai tersebut bertemu dan membentuk suatu muara.sungai itu membawa dampak rakyat resah karna untuk lagi kerumah mereka masing-masing benar-benar bukan barangkali bisa mnyebrangi sungai yang begitu panas.
                                                               sumber gambar dari internet

Malam pun tiba,malam tersebut seorang penasehat raja yang juga seorang ulama bermimpi,bahwa bala ini akan berakhir kalau tersedia seorang yang mau mengorbankan diri nya untuk masuk kedalam sungai sungai panas tersebut.pagi pun tiba,pagi di sedang kerumanan marsayarakat dan petinggi-petinggi kerajaan,penasehat raja mengumumkan berkaitan mimpi yang didpat nya semalam.namu tak tersedia seorang pun yang mau untuk jadi tumbal.dan tampa disengaja,selasih yang merasa hidupnya kini tiada arti kembali,juga mengingat peraturan kedua orang tua nya yang lebih mementingkan harta dibanding kebahagiaan anak nya sendiri,selasih memutuskan untuk rela jadi tumbal.walau tanpa persetujuan kedua orang tua nya selasih terus saja kuat kepada keputusannya.pada akhirnya bersama di menonton masyarakat dan petinggi-ptinggi kerajaan merangin juga triakan embargo juga tangis kedua orang tua nya yang tak dihiraukan nya kembali,selasih mulai terjadi dan turun,lalu masuk kedalam sungai panas itu.
Dan sahih,dan tak lama sesudah itu air sungai yang tadinya mengaliri air yang begitu panas,kini berubah seketika jadi sungai biasa.dua sungai besar yang bertemu di suatu muara,dan membentu huruf Y.Kedua sungai tersebut di berinama sungai mesumai dan sungai merangin.

Tapi sejarah ternya bukan berhenti hingga disini.ternya,di muara itu penduduk terlalu kerap sekali memirsa sosok seekor buaya putih.buaya putih itu terlalu kerap menampakan wujudnya terhadap waktu malam di bulan purnama.buaya putih itu di yakin sebagai jelmaan selasih yang tlah mengorbankan dirinya demi keselamatan wilayah merangin.sampai masa sekarang pun,buaya putih itu masih terlampau kerap menampakan wujud nya.

cerita disarikan dari berbagai sumber.

08 April 2022

Sejarah Asal Usul Kabupaten Merangin Provinsi Jambi

Kabupaten Merangin adalah BENAR satu kabupaten di Provinsi Jambi, Indonesia. Luas wilayahnya 7.668.61 km². bersama dengan populasi 335.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Bangko. Kabupaten ini merupakan pemekaran berasal dari Kabupaten Sarolangun-Bangko dan terbagi jadi 24 kecamatan yang terbagi ulang jadi 9 kelurahan dan 205 desa.


SEJARAH KABUPATEN MERANGIN
Kabupaten Merangin merupakan adalah benar Satu Kabupaten di Provinsi Jambi, apalagi lebih tua berasal dari Propinsi Jambi sendiri. Kabupaten Merangin ini punya luas wilayah 7679 km². Kabupaten Merangin yang berseloko adat “Bumi Tali Undang Tambang Teliti“, merupakan tidak benar satu Kabupaten Strategis yang berada ditengah-sedang Propinsi Jambi.

Ditinjau berasal dari sejarah, Kabupaten Merangin sebelum penjajahan Belanda adalah area yang paling fertile yang didataran Tinggi Jambi dan beberapa besar terhadap dataran rendah yang dialiri oleh lebih dari satu Sungai (Sungai) Sungai (Batang) Tembesi, Sungai (Batang) Merangin dan Sungai (Batang) Tabir dan berlimpah ulang sungai-sungai kecil.


Tempat ini sebelum penjajahan Kolonial Hindia Belanda merupakan pendukung Kerjaan Melayu Jambi tetapi miliki Pemerintahan sendiri lewat tiga Depati, yaitu Depati Setiyo Nyato berkedudukan di Tanah Renah Sungai Manau, Depati Setiyo Rajo Berada di Lubuk Gaung dan Depati Setiyo Beti berada di Nalo Tantan, ditambah bersama Pemuncak Pulau Rengas dan Pembarab Pamenang dan juga Serampas Sungai Tenang.
Реклама
&Nbsp;
Kekuasaan yang depati ini lebih dikenal bersama dengan Depati Tigo yang dibaruh yang merupakan satu kesatuan berasal dari daya (Kerajaan) Pucuk Jambi yang dikenal bersama dengan Depati Tujuh Helai Kain yaitu empat di atas di Kerinci yaitu Depati Muara Langkap, Depati Hatur Bumi, Depati Biangsari dan Depati Rencong Talang dan Tigo dibaruh di Bangko yang telah paksa diatas. Wilayah Pucuk Jambi ini mendapat efek Pagaruyung (Minangkabau) yang sanggup dibuktikan bahwa Adat istiadat dan hukum adatnya tersedia yang mencerminkan berasal dari Hukum Adat Pagaruyung (Minang Kabau).

Terhadap zaman Penjajahan Belanda yang dimulai terhadap sementara Sultan Thaha Gugur Th 1906, sejak tersebut Pemerintahan Kolonial Belanda kenakan Pemerintahan Lokal untuk menjalankan kekuasaannya, Pemerintahan Hindia Belanda dan membagi Wilayah Kewedanaan Bangko didalam sebagian Marga, Penetapan Marga-Marga itu dimulai terhadap tahunan 1916 bersama membagi Wilayah kewedanaan Bangko didalam 14 (Empat belas) Marga, dan tiap-tiap Marga diperintah oleh Pasirah selaku kepala Marga, secara administratif Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Wilayah Merangin merupakan Subdivisi Bangko bawah Devisi Jambi yang masuk ke Kedalam Keresidenan Palembang dan paling akhir gabungan berasal dari Keresidenan Jambi, Pemerintah Hindia Belanda Menciptakan Wilayah Kewedanaan Bangko jadi Bagian berasal dari Keresidenan Jambi.


Terhadap awal kemerdekaan Jambi masih terdiri berasal dari sebagian kewedanaan yaitu Kewedanaan Jambi, Kewedanaan Muara Tembesi, Kewedanaan Sarolangun dan Kewedanaan Bangko, Kewedanaan Muara Bungo dan Kewedanaan Muara Tebo. Pada akhirnya bersama dengan dibentuknya lebih dari satu tempat Otonom di Propinsi Sumatera Sedang, maka Keresidenan Jambi di bagi atas dua Kabupaten yaitu Kabupaten Merangin dan Kabupaten Batanghari.

Terhadap sementara tersebut Serangan Belanda I dan Serangan Belanda Ii, Pemerintahan Kewedanaan Jambi berada didalam Wilayah Gubernur Militer Sumatera Selatan dan bersama aturan Gubernur Militer Sumatera Selatan Nomor 252/1949 lepas 22 Desember 1949 ditetapkanlah M. Kamil sebagai Bupati Kepala Pemerintahan Bangko di Bangko.

Tapi oleh sebab Kewedanaan Bangko merupakan bagian berasal dari Pemerintah Sumatera Sedang, dan sebabkan Belanda melaksanakan Penyerahan Kedaulatan kepada Republik Indonesia, Menteri Didalam Negeri Muhammad Muhammad sebagai Bupati Merangin mulai lepas 1 Januari 1950 bersama dengan peraturan Menteri Didalam Negeri Nomor 32/30/1952.

Lantas berdasarkan undang-undang nomor 12 year 1956 perihal pembentukan area otonom kabupaten didalam lingkungan provinsi sumatera sedang, maka dibentuklah sebagian kabupaten di provinsi sumatera sedang, dan adalah benar satunya adalah kabupaten merangin yang berkedudukan di Muara Bungo.

Tetapi sebab wahana dan prasarana pemerintahan di Muara Bungo belum lengkap, maka aktivitas pemerintahan (Kantor Bupati) Kabupaten Merangin konsisten dijalankan di Bangko, dan terhadap year 1958 ketika berlangsung pemberontakan PRRI Kantor Bupati Merangin di Bangko Dibakar, lantas pemerintahan Kabupaten Merangin Dipindahkan ke Muara Bungo.

Dibakarnya, Kantor Bupati Saat tersebut, akhirnya dibangun, Lagi terhadap Year 1965. Bersamaan bersama dengan terjadinya Pemberontakan itu, dijalankan pemekaran Kabupaten Merangin jadi dua, yaitu Kabupaten Sarolangun Bangko dan Kabupaten Bungo Tebo. Sesudah berdirinya Kabupaten Sarolangun Bangko lewat UU No. 7 th 1965, maka pusat pemerintahan kabupaten sarolangun Bangko ditempatkan di Kota Bangko, tepatnya di pasar Bawah kawasan Ujung Tanjung. Page 2 JENDELAAN KABUPATEN JENDERAL KABUPATEN JEMBER Sudar Km 2 Bangko, sedangkan kantor lama waktu ini jadi anjungan Biduk Amo dan Museum Geopark.

Bersama dengan adanya pemekaran wilayah disesuaikan bersama dengan UU No. 54 tahunan 1999 berkaitan pembentukan Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Tebo, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, maka wilayah Kabupaten Sarolangun Bangko dimekarkan jadi dua kabupaten yaitu Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin.

- - - - baca juga tentang Pahlawan dari Bangko disini

Kabupaten Sarolangun beribukota di Sarolangun dan Kabupaten Sarolangun Bangko dirubah namanya ulang ke sebutan asal tersebut Kabupaten Merangin beribukota di Bangko. Sebagai dasar pembentukan wilayah Kabupaten Merangin Undang-Undang Nomor 7 th 1965 perihal Pembentukan Tempat Taraf II Sarolangun-Bangko dan Area Taraf II Tanjung Jabung (Ln th 1965 Nomor 50, TLN Nomor 2755) sebagai landasan yuridis pembentukan Kabupaten Sarolangun Area Taraf II Sarolangun.

Tetapi demikian, didalam rangka mengenang tonggak sejarah Pemerintah Kabupaten Merangin laksanakan penelitian atas kumpulan fakta-fakta sejarah. Berasal dari hasil pencarian itu, terhadap tahunan 2016 Pemerintah Kabupaten Merangin dan DPRD Kabupaten Merangin mengusulkan supaya hari menjadi Pemerintah Kabupaten Merangin yang semula balik terhadap lepas 5 Agustus 1965 dirubah jadi 22 Desember 1949 yang sudah ditetapkan bersama dengan Keputusan Area Nomor 4 Th 2016 mengenai Penetapan Hari Lahir Kabupaten Merangin. Bersama dengan demikian, Hari Kembali Th (Hut) Kabupaten Merangin terhadap Th 2017 merupakan hari menjadi yang ke-68.

Terhadap year 2016 Pemerintah Kabupaten Merangin dan DPRD Kabupaten Merangin mengusulkan hari menjadi Pemerintah Kabupaten Merangin yang semula balik terhadap lepas 5 Agustus 1965 dirubah jadi 22 Desember 1949 yang sudah ditetapkan bersama dengan Keputusan Area Nomor 4 Year 2016 perihal Penetapan Hari Lahir Kabupaten Merangin. Bersama dengan demikian, Hari Lagi Year (Hut) Kabupaten Merangin terhadap Tahunan 2017 merupakan hari menjadi yang ke-68.

Terhadap year 2016 Pemerintah Kabupaten Merangin dan DPRD Kabupaten Merangin mengusulkan hari menjadi Pemerintah Kabupaten Merangin yang semula balik terhadap lepas 5 Agustus 1965 dirubah jadi 22 Desember 1949 yang sudah ditetapkan bersama Ketentuan Tempat Nomor 4 Year 2016 berkaitan Penetapan Hari Lahir Kabupaten Merangin. Bersama dengan demikian, Hari Kembali Th (Hut) Kabupaten Merangin terhadap Tahunan 2022 merupakan hari menjadi yang ke-73.

&Nbsp;



06 April 2022

Ulang Tahun Zibelle Yang Pertama, Mari kita bersyukur

Tidak terasa juga telah 1 tahun usaha skincare zibelle dijalani drg Wanni. sebagai seorang pengusaha, drg Wanni menghadapi banyak tantangan. yang paling berbekas hingga saat ini adalah ketika drg. Wanni terpaksa harus menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan perkembangan zibelle. kurang tidur dan mata lelah sudah makanan yang biasa.

normalnya seseorang itu tidur selama 6 -8 jam sehari, namun drg wanni hanya tidur 4 jam saja. drg Wanni pun wajib bekerja keras untuk mendapatkan perhatian masyarakat, melalui strategi marketing yang up to date. melalui perhatian masyarakat dan testmoni dari zibelian (sebutan untuk pecinta zibelle), diharapkan produk zibelle mampu membanggakan Indonesia.

cengkeh, pala, gaharu dan sirih merupakan tanaman khas Indonesia, dan oleh karena itulah Bangsa Indonesia dikenal luas di mancanegara. Indonesia yang memiliki kekayaan alam khas nya, tentu menjadi buah pikir tim zibelle dalam menciptakan produk berkualitas global.

zibelle merupakan produk pertama diIndonesia dan dunia yang mengandung kekayaan alam khas Indonesia. mari dukung produk Indonesia menjadi produk GLobal.


Jika kamu cinta Indonesia, berarti kamu juga cinta zibelle. karena Zibelle adalah produk Indonesia yang original.

buktikan sekarang dan beli di https://zibellekhasindoglobal.com atau langsung di marketplace zibelle ya.

terimakasih 

Anda Suka Olahraga Lari? Waspada, Kuku Kaki Bisa Lepas lalu Menghitam dan Dicabut!

  Anda Suka Olahraga Lari? Waspada, Kuku Kaki Bisa Lepas lalu Menghitam dan Dicabut! Hai teman-teman semua, mungkin anda sudah gak sabar i...