17 Januari 2022

Mengenal Buah Pala

 

Pala (Myristica fragrans) merupakan tumbuhan berupa pohon yang berasal dari kepulauan BandaMaluku. Akibat nilainya yang tinggi sebagai rempah-rempahbuah dan biji pala telah menjadi komoditas perdagangan yang penting sejak masa Romawi. Pala disebut-sebut dalam ensiklopedia karya Plinius "Si Tua". Semenjak zaman eksplorasi Eropa pala tersebar luas di daerah tropika lain seperti Mauritius dan Karibia (Grenada). Istilah pala juga dipakai untuk biji pala yang diperdagangkan.

Pala



Pala

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan:

Plantae

Divisi:

Magnoliophyta

Kelas:

Magnoliopsida

Ordo:

Magnoliales

Famili:

Myristicaceae

Genus:

Myristica

Spesies:

M. fragrans

Nama binomial

Myristica fragrans

Tumbuhan ini berumah dua (dioecious) sehingga dikenal pohon jantan dan betina. Daunnya berbentuk elips langsing. Buahnya berbentuk lonjong seperti lemon, berwarna kuning, berdaging dan beraroma khas karena mengandung minyak atsiri pada daging buahnya. Bila masak, kulit dan daging buah membuka dan biji akan terlihat terbungkus fuli yang berwarna merah. Satu buah menghasilkan satu biji berwarna coklat.

Pala dipanen bijisalut bijinya (arillus), dan daging buahnya. Dalam perdagangan, salut biji pala dinamakan fuli, atau dalam bahasa Inggris disebut mace, dalam istilah farmasi disebut myristicae arillus atau macis). Daging buah pala dinamakan myristicae fructus cortex. Tanaman pala merupakan tanaman yang cukup lama pertumbuhannya hingga pemanenan. Panen pertama dilakukan 7 sampai 9 tahun setelah pohonnya ditanam[1] dan mencapai kemampuan produksi maksimum setelah 25 tahun. Tumbuhnya dapat mencapai 20m dan usianya bisa mencapai ratusan tahun.

Sebelum dipasarkan, biji dijemur hingga kering setelah dipisah dari fulinya. Pengeringan ini memakan waktu enam sampai delapan minggu. Bagian dalam biji akan menyusut dalam proses ini dan akan terdengar bila biji digoyangkan. Cangkang biji akan pecah dan bagian dalam biji dijual sebagai pala.

Biji pala mengandung minyak atsiri 7-14%. Bubuk pala dipakai sebagai penyedap untuk roti atau kue, puding, saus, sayuran, dan minuman penyegar (seperti eggnog). Minyaknya juga dipakai sebagai campuran parfum atau sabun. Selain itu, tanaman ini juga kaya akan manfaat, diantaranya buah pala yang terdiri dari kulitnya dapat dijadikan bahan tambahan obat pengusir nyamuk; dagingnya yang mengandung banyak nutrisi dapat dijadikan bahan dasar pembuatan berbagai jenis makanan dan minuman seperti manisan, sirup, dan permen; biji dan fulinya sering dijadikan sebagai bahan utama pembuatan minyak atsiri; begitu juga dengan daunnya, namun pada daging buahnya pun sering dijadikan bahan baku minyak atsiri.[2][3]

Kondisi optimal untuk tumbuh dan pembibitan

Tanaman pala secara umum dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian sekitar 0-700 mdpl dengan kebutuhan curah hujan yang cukup tinggi yaitu 2000–3500 mm/tahunnya dan kelembapan udara sekitar 50-80 %. Tanaman ini dapat tumbuh biasanya hingga ketinggian pohon 5-15 meter atau bahkan dapat mencapai 30 meter. Pala cocok tumbuh pada suhu udara sekitar 20-30oC dengan struktur tanah tempat tumbuhnya memiliki rentang yang cukup besar yaitu dari tanah padat hingga berpasir serta memiliki derajat keasaman 5,5 – 7.[1]

Pada pembibitan tanaman pala biasanya dilakukan pengairan setiap 1-2 kali dalam sehari apabila tidak ada hujan sama sekali disertai penyiangan dari tanaman gulma disekitarnya dan juga perlakuan penggemburan tanah. Dilakukan pula penambahan pupuk tanaman seperti pupuk kandang, pupuk kompos, ataupun pupuk anorganik seperti urea setiap 3 bulan sekali. Pemanenan pala dapat dilakukan sebanyak 3 kali dalam satu tahun, yaitu saat awal musim hujan yang memberikan hasil buah pala dengan kualitas paling baik, lalu pertengahan musim hujan dengan biasanya buah pala yang siap panen berjumlah paling banyak diantara periode lainnya, kemudian jumlah pala siap panen menurun dan dapat dipanen pada akhir musim hujan.[1]

Penyebaran

Tanaman pala tersebar pada wilayah atau negara yang memiliki iklim tropis termasuk diantaranya Guangdong dan Yunan di Cina, Taiwan, Malaysia, Grenada di Kepulauan Karibia, Kerala di India, Sri Lanka, dan Afrika Selatan, terutama juga di negara asalnya yaitu Indonesia. Pada negara Indonesia, penghasil utama pala ada pada Kepulauan Maluku, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, dan Papua. Umur tanaman pala pun cukup panjang bahkan bisa mencapai 100 tahun.[4][5]

Indonesia memasok sekitar 60% dari total kebutuhan pasar pala dunia setiap tahunnya. Jawa Barat merupakan salah satu daerah sentra produksi pala pada tahun 2008 saja tercatat luas areal tanaman pala sekitar 4049 hektar dengan produksi 778 ton dan rata-rata produktivitas tanaman 359 kg/hektar dimana angka tersebut lebih tinggi dibanding produktivitas tanaman pala nasional. Kabupaten Sukabumi dan Bogor merupakan wilayah dengan produksi pala terbesar di Jawa Barat. Selain itu, di Jawa Barat pula telah banyak industri pengolahan pala yang lebih berkembang pesat dibanding daerah lainnya, diantaranya adalah minyak atsiri dan manisan pala [6][7]

Minyak Atsiri Pala dan Analisis Kandungannya

Produk utama dari tanaman pala adalah minyak atsiri yang dapat dihasilkan melalui penyulingan dari bahan baku berupa daging buah, biji, dan fuli pala. Pada minyak atsiri mengandung berbagai senyawa, yang paling banyak dan menjadi ciri khas adalah myristicin[8]. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 06-2388-2006) syarat kadar myristicin  dalam minyak atsiri pala minimal 10%. Myristicin sebenarnya dapat dijadikan sebagai agen insektisida, penambah rasa pada rokok, chemopreventive dan hepatoprotective, namun senyawa ini dapat memberikan efek halusinasi yang sama seperti narkotik. Seiring perkembangan zaman, minyak atsiri pala ini bahkan dijadikan sebagai bahan baku aromaterapi yang bersifat menghilangkan stress karena adanya kandung myristicin-nya. Kandungan myristicin  lebih tinggi kadarnya pada daging buah pala dibandingkan dengan biji dan fulinya.[8]

Pada SNI 06-2388-2006 pun didapati adanya syarat lain yang harus dimiliki oleh minyak atsiri pala, diantaranya adalah nilai rata-rata indeks bias pada suhu 20oC harus berkisar pada rentang 1,475-1,485. Minyak atsiri pala harus memiliki bau khas pala dengan memiliki warna dari tidak berwarna hingga kuning muda dengan berat jenis 20oC/20oC pada rentang 0,885-0,907. Minyak atsiri pala pun harus larut dengan sempurna dan tetap jernih pada etanol 90% dengan rentang 1:1-1:3. Kelarutan minyak atsiri pada etanol 90% sangat berkaitan dengan jenis komponen kimia yang terkandung didalamnya. Kandungan senyawa terpen teroksigenisasi seperti α-terpineol dam terpinen-4-ol banyak terkandung dala minyak atsiri pala.Senyawa terpen teroksigenisasi lebih mudah larut dalam alkohol dibanding terpen, sehingga semakin tinggi kandungan terpen maka semakin rendah daya larutnya[9]

Telah dilakukan beberapa analisis kandungan senyawa dalam minyak atsiri pala salah satunya dengan pendekatan metabolomik. Analisis dilakukan pada minyak atsiri pala yang berasal dari daging buah menggunakan instrumen Gas chromatography–mass spectrometry (GC-MS) oleh Sipahelut dan Telussa pada tahun 2011. Didapati adanya 21 senyawa yang teridentifikasi diantaranya sebagai berikut.

1.     α-thujene

2.     α-pinene

3.     Camphene

4.     β-pinene

5.     β-myrcene

6.     α-phellandrene

7.     Linalool

8.     α-terpineol

9.     Safrole

10.  Myristicin

Mutu dan rendemen minyak atsiri dapat ditentukan distilasi atau penyulingannya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, myristicin merupakan senyawa ciri khas dan menjadi karakteristik utama dalam minyak atsiri pala dengan titik didih paling tinggi diantara senyawa lainnya yaitu 276,5oC. Peningkatan mutu minyak atsiri dapat memanfaatkan pendekatan metabolomik, contohnya dengan membandingkan kadar myristicin juga senyawa lainnya pada berbagai metode distilasi, contohnya distilasi air dan air-uap. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sipahelut dan Telussa pada tahun 2011, metode penyulingan minyak atsiri pala dengan distilasi air menghasilkan lebih banyak myristicin yang terekstraksi karena bahan dasar kontak langsung dengan air mendidih sehingga senyawa lebih mudah keluar dari jaringan bahan. Maka dari itu, mutu minyak atsiri pala dapat dimaksimalkan salah satunya dengan peningkatan kadar myristicin terkekstraksi menggunakan distilasi air.

 

Sumber tulisan ini adalah dari Wikipedia.

 

6 Cara Menangani Jerawat Membandel, Keliru Satunya Gunakan Zibelle

 

6 Cara Menangani Jerawat Membandel, Gunakan Zibelle

Punyai paras yang rentan berjerawat adalah keliru satu persoalan yang memadai menyebabkan pusing. Tak hanya mampu mengganggu penampilan, jerawat yang bukan langsung diatasi juga mampu menyebar dan memburuk kondisinya. Penanganan jerawat yang tepat terlampau diperlukan, untuk tersebut tersedia baiknya masing-masing Kamu mengenali model kulit paras semenjak dini.
Bersama mengenali model kulit paras, Kamu mampu memilih product dan bahan-bahan apa saja yang tepat untuk mengobati jerawat dan menghilangkan bekasnya. Gara-gara, jerawat tak sekedar muncul di style kulit berminyak. Pemilik model kulit kering juga mampu mengembangkan jerawat.
Perubahan gaya hidup biasanya juga berperan besar untuk menangani jerawat. Mempertahankan pola makan, memastikan tubuh mendapat asupan air putih yang lumayan, tidur teratur, dan memerhatikan kehigienisan sarung bantal sampai handuk paras adalah sebagian tips menanggulangi jerawat yang mampu dipraktikkan.



Melansir berasal dari American Academy of Dermatology Association dan Healthline, berikut ini adalah lebih dari satu tips menangani jerawat yang ampuh dan mampu diikuti di tempat tinggal.

1. Cuci Muka bersama dengan Sahih

Tips menangani jerawat yang pertama adalah bersama dengan mempraktikkan cara mencuci muka yang sahih. untuk menolong menahan dan menangani jerawat, berarti untuk menghilangkan keunggulan minyak, kotoran, dan keringat berasal dari paras tiap tiap hari. Tapi, mencuci muka terlampau justru mampu memperburuk jerawat.
Ketika Kamu menghilangkan sebum alami kulit bersama dengan mencuci muka secara berlebih, hal ini mampu membawa dampak kulit memproduksi lebih segudang minyak untuk menyeimbangkan ulang kondisinya. Menjadi, mencuci muka secara hiperbola memang mampu memperburuk jerawat, layaknya halnya mengenakan pembersih atau astringents yang mengeringkan kulit secara hiperbola.
Disarankan bagi Kamu yang tengah berjerawat untuk memakai sabun pembersih paras bebas sulfat, bebas pewangi, dan memadai lembut untuk pemanfaatan dua kali sehari, dan hindari mengenakan scrub fisik yang keras atau pembersih berbusa yang mengeringkan.

2. Gunakan Pelembap

Tips menangani jerawat yang kedua adalah bersama memakai pelembap. Pelembap menunjang kulit terus terhidrasi. Lebih-lebih jikalau Kamu punya jerawat, memakai pelembap konsisten vital dikarenakan terkecuali kulit jadi benar-benar kering, hal tersebut akan menghasilkan minyak (Sebum) dan keunggulan sebum sanggup membuat jerawat tumbuh lebih segudang.
Tapi, memang segudang pelembap yang punya kandungan minyak, pewangi sintetis, atau bahan lain yang mampu mengiritasi kulit dan membuat jerawat. Untuk tersebut, pastikan Kamu selalu memeriksa daftar bahan sebelum membeli product pelembap dan periksa apakah product itu telah bebas pewangi dan noncomedogenic.

3. Gunakan Obat Perawatan Jerawat yang Dijual Bebas, seperti acne buster lotion dari zibelle skincare terbaik

Tips menangani jerawat yang ketiga adalah bersama dengan mengenakan obat perawatan jerawat yang dijual bebas. Perawatan jerawat yang dijual bebas (Otc) bisa menolong menyembuhkan jerawat atau apalagi mencegahnya semenjak awal.
Perawatan OTC ini terkadang bisa sebabkan kemerahan, iritasi, dan kekeringan bersama pemakaian yang hiperbola, menjadi signifikan bagi Kamu untuk selalu mengikuti petunjuk pemanfaatan berasal dari pabriknya.
Berikut adalah bahan aktif paling generik yang akan Kamu temukan di dalam perawatan jerawat Otc:
·&Nbsp;&Nbsp;&Nbsp;&Nbsp;&Nbsp;&Nbsp; Benzoil peroksida. Benzoil peroksida bekerja paling baik terhadap jerawat yang meradang - layaknya kista dan benjolan merah - dikarenakan membunuh bakteri penyebab jerawat.
·&Nbsp;&Nbsp;&Nbsp;&Nbsp;&Nbsp;&Nbsp; Asam salisilat. Bahan ini benar-benar ideal untuk komedo dan whiteheads gara-gara bermanfaat untuk mengakses pori-pori dan kurangi peradangan.
·&Nbsp;&Nbsp;&Nbsp;&Nbsp;&Nbsp;&Nbsp; Sulfur. Sulfur adalah bahan alami yang seringkali lebih lembut berasal dari dua yang disebutkan di atas. Bisa mengeringkan sel kulit mati untuk terhubung pori-pori dan menyerap sebum berlebih.
Terkecuali Kamu bukan percaya perawatan jerawat OTC mana yang paling baik untuk kulit atau tujuan kulit spesifik Kamu, barangkali tersedia baiknya mengunjungi dokter kulit untuk meraih pendapat pakar terkait suasana kulit Kamu kala ini.
Dokter kulit bisa mengimbuhkan rekomendasi profesional untuk product mana yang akan digunakan dan memberi Kamu saran terkait hubungan apa pun yang mesti Kamu waspadai. Misalnya, memakai asam beta hidroksi (Layaknya asam salisilat) bersama dengan bersama retinol mampu membuat kemerahan dan kekeringan yang hiperbola, menjadi sebaiknya jangan mencampur product bersama bahan-bahan ini.

4. Konsisten Terhidrasi
Tips menanggulangi jerawat yang ke empat adalah bersama mempertahankan tubuh konsisten terhidrasi. Terkecuali Kamu mengalami kehilangan cairan tubuh, tubuh akan memberi frekuwensi terhadap kelenjar minyak kulit untuk memproduksi lebih berlimpah minyak. Kehilangan cairan tubuh juga memicu kulit Kamu tampak kusam dan sebabkan peradangan dan kemerahan.
Untuk mempertahankan tubuh supaya terhidrasi bersama dengan baik, minumlah setidaknya delapan gelas air 8 ons tiap-tiap hari. Minum lebih tak terhitung sesudah berolahraga, terkecuali Kamu tengah hamil atau menyusui, atau pas tengah menghabiskan kala di lingkungan yang panas dan lembap.

5. Batasi Pemanfaatan Make-Up

Tips menangani jerawat yang kelima adalah bersama dengan membatasi pemanfaatan make-up. Kenakan make-up untuk menutupi jerawat memang nampak layaknya jalan pintas yang menggoda bagi lebih dari satu orang. Tetapi, hal tersebut sanggup menyumbat pori-pori dan menyebabkan radang.
Kemungkinan sulit untuk menghilangkan pemakaian make-up berasal dari rutinitas harian, layaknya pas hendak bekerja. Jikalau Kamu masih memutuskan untuk mengaplikasikan make-up, sebaiknya pilih alas bedak atau concealer yang noncomedogenic dan bebas pewangi supaya kulit bukan semakin teriritasi.
Pastikan juga untuk membersihkan riasan bersama dengan lembut sesudah Kamu selesai memakainya, terutama sebelum tidur di malam hari. Tak sekedar membatasi riasan, Kamu kudu menyimak product lain yang digunakan terutama product penata rambut.
Semprotan rambut, sampo kering, dan product yang memberi tekstur mampu bersentuhan bersama kulit dan membuat jerawat. Cari juga opsi bebas minyak dan nonkomedogenik untuk product-product ini.

6. Batasi Paparan Sinar Matahari

Tips menanggulangi jerawat yang ke enam adalah bersama membatasi paparan sinar matahari terhadap kulit. Memperoleh sebagian pancaran sinar matahari mampu mengeringkan jerawat didalam jangka pendek, namun membawa dampak persoalan besar di dalam jangka panjang.
Paparan sinar matahari yang kerap menyebabkan kulit kehilangan cairan tubuh, yang, bersamaan selagi, menyebabkannya menghasilkan lebih segudang minyak dan menyumbat pori-pori. Berarti untuk menggunakan tabir surya untuk menolong melindungi kulit Kamu sepanjang year. Untuk bantuan matahari dan jerawat, pilihlah tabir surya noncomedogenic dan bebas minyak

 

13 Januari 2022

Post-, Telefon- und Telegrafenbetriebe – Wikipedia

Post-, Telefon- und Telegrafenbetriebe

RechtsformÖffentliche DienstleistungenGründung1928Auflösung1. Januar 1998AuflösungsgrundEuropäische Liberalisierung des FernmeldewesensSitzBernLeitungJean-Noel Rey (Generaldirektor)[1]Mitarbeiterzahl58.431Umsatz1,6 Milliarden FrankenBranchePost, TelekommunikationStand: 1997

Die schweizerische PTT (Post-, Telefon- und Telegrafenbetriebe) war zwischen 1928 und 1. Januar 1998 die staatliche Behörde für den Post-, Telefon-, Telegraf- und Telefaxbetrieb in der Schweiz und Liechtenstein. Der Vorläufer der PTT war die schweizerische Post, die bereits 1847 während des Sonderbundskriegs gegründet wurde. Mit dem Inkrafttreten der Verfassung der Schweizerischen Eidgenossenschaft im Jahr 1848 wurde die Post unter staatliche Aufsicht gestellt und in die Eidgenössische Post umgewandelt. Gegen Mitte der 1880er Jahre wandte sich die Eidgenössische Post dem Aufbau eines Telefonnetzes unter Alexander Graham Bells System zu. In den 1920er Jahren wurden Unternehmungen unternommen, um die damaligen Post- und Telegrafen-Direktionen zu vereinen. Diese gelangen 1928 mit der Gründung der PTT.Im zweiten wie auch im Ersten Weltkrieg war die PTT intensiv damit beschäftigt, Interniertenpost zu zustellen. Im Laufe der europäischen Liberalisierung des Fernmeldewesens wurden die PTT per 1. Januar 1998 aufgelöst und ihre Aufgaben der Schweizerischen Post und der Swisscom übertragen.

PTT-Signete von 1938 (unten) und 1988 (oben)Geschichte[Bearbeiten | Quelltext bearbeiten]Postwesen in der Helvetischen Republik[Bearbeiten | Quelltext bearbeiten]

1798 brach die Alte Eidgenossenschaft unter dem militärischen und politischen Druck Frankreichs zusammen. Die Helvetische Republik[2] ersetzte ab 12. April 1798 als Zentralstaat das lose Gebilde der 13 Kantone mit ihren zugewandten Orten. Der merkantilistischen Logik gehorchend, sollte das Postwesen nur noch vom Zentralstaat kontrolliert werden.[3] Einen ersten Anlauf zur Zentralisierung der kantonalen Postunternehmen machte nicht etwa der Grosse Rat (heute: Nationalrat), sondern das Direktorium in Aarau (Regierung, heute: Bundesrat in Bern) mit dem Postdienst-Kleiderreglement vom 5. Mai 1798. Die juristische Grundlage, das Postregal, erhielt erst ab 1. September 1798 durch den Grossen Rat und den Senat (heute: Ständerat) Gesetzeskraft.[4] Organisatorisch nahm die Helvetische Post mit dem Gesetz über die Einrichtung einer «Regiepostverwaltung» und Festlegung einheitlicher Posttaxen ab 16. November 1798 Form an. Problematisch erwies sich die örtliche Festlegung der postalischen Zentralverwaltung. Denn 1798 war kein fester Regierungssitz der Republik beschlossen. Im Turnus sollte die Hauptstadt zwischen Aarau, Luzern, Basel, Zürich und Bern wechseln.[5]

Die Zentralisierung der Post sah die Schaffung von fünf Postkreisen vor. Der erste Postkreis war Basel. Der zweite Postkreis Zürich umfasste die Regionen Zürich, Baden, Aargau, Graubünden, Glarus, Waldstätten, Bellinzona und Lugano. St. Gallen mit den Kantonen Säntis und Linth war der dritte Postkreis. Auf den vierten Postkreis Schaffhausen, den selbigen Kanton umfassend, folgte der fünfte Postkreis Bern mit den Gebieten Bern, Oberland, Léman, Freiburg, Solothurn und Wallis. Der Kanton Wallis war allerdings ab 1802 durch die Abtrennung von der Helvetischen Republik kurzzeitig eine eigene Republik.[5]

Infolge innerer Unruhen durch föderalistisch gesinnte Aufständische («Stecklikrieg»[6]) im Sommer 1802 war der Helvetischen Republik nur eine kurze Dauer beschert. General und Erster Konsul Bonaparte – ab 1804 Kaiser Napoleon – intervenierte 1802 und liess durch die Mediationsakte die kantonale Souveränität wiederherstellen.[7] Während der Mediationszeit (1803–1815) wandelte sich der Zentralstaat zum losen Staatenbund von 19 Kantonen (ohne Genf, Wallis, Neuenburg, Bistum Basel und Biel). Die Zentralgewalt beschränkte sich auf ein Minimum und ein Landammann der Schweiz ersetzte das Direktorium der Helvetischen Republik. Die Vertreter der Kantone beschlossen an der wieder eingeführten Tagsatzung in Freiburg 1803 als direkte Folge die Auflösung der Zentralpostverwaltung per 10. September 1803.[8]

Der Bundesvertrag vom 7. August 1815 ersetzte die Mediationsakte[9] von 1803, jedoch blieb die wiedererlangte kantonale Postsouveränität bis zur Gründung des Bundesstaates erhalten.[8]Vom Staatenbund zum Bundesstaat[Bearbeiten | Quelltext bearbeiten]

Postbriefkasten, 1880 (Museum für Kommunikation, Bern)

Die schweizerische Post entstand nach dem Sonderbundskrieg (1847) im Zuge der Gründung des Schweizer Bundesstaates von 1848, dessen Verfassung am 12. September 1848 in Kraft trat. Die vormals 17 kantonalen Postverwaltungen und eine Zentrale sollten gemäss Bundesbeschluss der eidgenössischen Räte vom 28. November 1848 unter dem Dach des Post- und Baudepartementes (heute: UVEK) unter Aufsicht des Schweizer Bundesrates vereinigt werden.[10] Mit den Gesetzen über das Postregal[11] und die Postorganisation vom 4. Juni 1849 nahm die Eidgenössische Post Konturen an.[10] Die Übernahme durch den Bund war für den 1. Januar 1849 festgesetzt, erfolgte allerdings erst am 1. Oktober 1849 mit dem Inkrafttreten des einheitlichen Tarifgesetzes.[12][13] Der Basler Benedikt La Roche Stehelin bekleidete das Amt des Generaldirektors der Eidgenössischen Post.[14][15][16] Die politische Oberaufsicht lag beim St. Galler Bundesrat Wilhelm Matthias Naeff. Aus den 18 eidgenössischen Postkreisen entstanden damals deren elf. Diese Einteilung hatte bis 1911 bestand und wurde nur geringfügig durch den Wechsel des Kantons Zug vom Postkreis Zürich in den Postkreis Luzern geändert. Die Kreispostdirektionen ersetzten die Kantonalpostdirektionen. Der Gesamtpersonalbestand betrug ein Jahr nach dem Aufbau der Organisation 2'803 Personen.[17][18]

Mit der ersten Totalrevision der Bundesverfassung vom 29. Mai 1874 befreite die Bundesversammlung den Bund von der Pflicht der finanziellen Postregalentschädigung an die Kantone. Zudem erhielt der Art. 36 in der Verfassung eine Ergänzung bezüglich des Telegrafenwesens. Fortan war nicht nur das Post-, sondern auch das Telegrafenwesen auf dem Gebiet der Eidgenossenschaft reine Bundessache. Der Ertrag der "Post und Telegraphenverwaltung" floss in die eidgenössische Staatskasse.[19][20]

Die Gründung des Weltpostvereins mit der Schweiz als Gründungsmitglied fiel ebenfalls ins Jahr 1874.[19][21]Aufbau loser Telefonnetze[Bearbeiten | Quelltext bearbeiten]

Pionier auf dem Gebiet der Telefonie war das Deutsche Reich. Die schweizerische Telegraphendirektion, das Reich zum Vorbild nehmend, bestellte 1877 erste Telefongeräte der Firma Siemens & Halske. Im Dezember 1877 erfolgten Versuchsbetriebe zwischen Bern, Thun und Interlaken sowie in Bellinzona. Private Konzessionen erteilte die Telegrafendirektion trotz Anfrage noch nicht, erlaubte aber im Gegenzug dem kantonalen Innendepartement des Kantons Waadt die telefonische Anbindung der psychiatrischen Klinik in Cery. Der schweizerische Bundesrat unterstellte 1878 das Telefonwesen dem Telegrafenmonopol. Dieser staatsmonopolistische Anspruch der Telegrafendirektion war nicht unumstritten. So richtete der Telefonunternehmer Wilhelm Ehrenberg eine Beschwerde an die schweizerische Bundesversammlung. Die eidgenössischen Räte hielten dennoch am erweiterten Postregal fest.[22]

Wechsel des Postpersonals für die Weiterfahrt nach Splügen bzw. Chiavenna, 1914–1918 (Foto: Walter Mittelholzer)

Für den Netzaufbau war anfänglich die International Bell Telephone Company im Gespräch. Wilhelm Ehrenberg wiederum stellte für die Firma Kuhn & Ehrenberg ein Gesuch auf Bau einer zentralen Telefonstation in Zürich, die mit der Telefonübertragung des eidgenössischen Sängerfestes in Zürich über eine Leitung nach Basel von sich reden machte. Die „Central-Telephon-Station in Zürich“ ging am 2. Oktober 1880 offiziell in Betrieb. Die private Zürcher Telefongesellschaft blieb aber Episode. 1886 übernahm der Bund das Zürcher Netz. In den anderen Schweizer Städten zeichnete die Telegrafendirektion selbst für den Aufbau des Telefonnetzes verantwortlich. Das Post- und Eisenbahndepartement von Bundesrat Simeon Bavier erteile 1880 dazu die Bewilligung. Entscheidend für den Aufbau war die Zahl der Abonnenten. „Während sich in Basel die Telegrafendirektion selbst auf die Suche nach Teilnehmern machte“, halfen in den anderen Städten die privatwirtschaftlichen Gewerbe-, Industrie- oder Bankiervereinigungen im eigenen Interesse bei der Suche nach Abonnementen. So entstanden zuerst in den Städten, dann in grösseren Gemeinden lose Telefonnetze, die erst nach und nach miteinander verbunden wurden.[22]

Verladen der Postsäcke vor dem Feldpostbureau in Delsberg, 1914–18Erster Weltkrieg[Bearbeiten | Quelltext bearbeiten]

12 Januari 2022

Partial Thromboplastin Time (PTT, aPTT) - Testing.com

As part of an investigation of a possible bleeding disorder or blood clot (thrombotic episode); to help investigate recurrent miscarriages or diagnose antiphospholipid syndrome (APS); as needed to monitor unfractionated (standard) heparin anticoagulant therapy; as indicated as part of an evaluation before surgery or other invasive procedureWhen To Get Tested?

When you have unexplained bleeding, inappropriate blood clotting, or recurrent miscarriages; sometimes when you are on standard heparin anticoagulant therapy; sometimes before a scheduled surgerySample Required?

A blood sample drawn by needle from a vein in your armTest Preparation Needed?

None; however, a high-fat meal prior to the blood draw may interfere with the test and should be avoided.

You may be able to find your test results on your laboratory’s website or patient portal. However, you are currently at Testing.com. You may have been directed here by your lab’s website in order to provide you with background information about the test(s) you had performed. You will need to return to your lab’s website or portal, or contact your healthcare practitioner in order to obtain your test results.

Testing.com is an award-winning patient education website offering information on laboratory tests. The content on the site, which has been reviewed by laboratory scientists and other medical professionals, provides general explanations of what results might mean for each test listed on the site, such as what a high or low value might suggest to your healthcare practitioner about your health or medical condition.

The reference ranges for your tests can be found on your laboratory report. They are typically found to the right of your results.

If you do not have your lab report, consult your healthcare provider or the laboratory that performed the test(s) to obtain the reference range.

Laboratory test results are not meaningful by themselves. Their meaning comes from comparison to reference ranges. Reference ranges are the values expected for a healthy person. They are sometimes called “normal” values. By comparing your test results with reference values, you and your healthcare provider can see if any of your test results fall outside the range of expected values. Values that are outside expected ranges can provide clues to help identify possible conditions or diseases.

While accuracy of laboratory testing has significantly evolved over the past few decades, some lab-to-lab variability can occur due to differences in testing equipment, chemical reagents, and techniques. This is a reason why so few reference ranges are provided on this site. It is important to know that you must use the range supplied by the laboratory that performed your test to evaluate whether your results are “within normal limits.”

For more information, please read the article Reference Ranges and What They Mean.What is being tested?

The partial thromboplastin time (PTT; also known as activated partial thromboplastin time (aPTT)) is a screening test that helps evaluate a person’s ability to appropriately form blood clots. It measures the number of seconds it takes for a clot to form in a sample of blood after substances (reagents) are added. The PTT assesses the amount and the function of certain proteins in the blood called coagulation or clotting factors that are an important part of blood clot formation.

When body tissue(s) or blood vessel walls are injured, bleeding occurs and a process called hemostasis begins. Small cell fragments called platelets stick to and then clump (aggregate) at the injury site. At the same time, a process called the coagulation cascade begins and coagulation factors are activated in a step-by-step process. Through the cascading reactions, threads called fibrin form and crosslink into a net that clings to the injury site and stabilizes it. This forms a stable blood clot to seal off injuries to blood vessels, prevents additional blood loss, and gives the damaged areas time to heal.

Each part of this hemostatic process must function properly and be present in sufficient quantity for normal blood clot formation. If the amount of one or more factors is too low, or if the factors cannot do their job properly, then a stable clot may not form and bleeding continues.

With a PTT, your result is compared to a normal reference interval for clotting time. When your PTT takes longer than normal to clot, the PTT is considered “prolonged.”

When a PTT is used to investigate bleeding or clotting episodes or to rule out a bleeding or clotting disease (e.g., preoperative evaluation), it is often ordered along with a prothrombin time (PT). A health care practitioner will evaluate the results of both tests to help rule out or determine the cause of bleeding or clotting disorder.

It is now understood that coagulation tests such as the PT and PTT are based on what happens artificially in the test setting (in vitro) and thus do not necessarily reflect what actually happens in the body (in vivo). Nevertheless, they can be used to evaluate certain components of the hemostasis system. The PTT and PT tests each evaluate coagulation factors that are part of different groups of chemical reaction pathways in the cascade, called the intrinsic, extrinsic, and common pathways.The PTT is used to evaluate the coagulation factors XII, XI, IX, VIII, X, V, II (prothrombin), and I (fibrinogen) as well as prekallikrein (PK) and high molecular weight kininogen (HK).A PT test evaluates the coagulation factors VII, X, V, II, and I (fibrinogen).Common QuestionsHow is it used?

The PTT is used primarily to investigate unexplained bleeding or clotting. It may be ordered along with a prothrombin time (PT/INR) to evaluate the process that the body uses to form blood clots to help stop bleeding. These tests are usually the starting points for investigating excessive bleeding or clotting disorders.

By evaluating the results of the two tests together, a healthcare practitioner can gain clues as to what bleeding or clotting disorder may be present. The PTT and PT are not diagnostic but usually provide information on whether further tests may be needed.

Some examples of uses of a PTT include:To identify coagulation factor deficiency; if the PTT is prolonged, further studies can then be performed to identify what coagulation factors may be deficient or dysfunctional, or to determine if an antibody against a coagulation factor (known as a factor-specific inhibitor) is present in the blood.To detect nonspecific autoantibodies (antiphospholipid antibodies), such as lupus anticoagulant; these are associated with clotting episodes and with recurrent miscarriages. For this reason, PTT testing may be performed as part of a clotting disorder panel to help investigate recurrent miscarriages or diagnose antiphospholipid syndrome (APS). A variation of the PTT called the LA-sensitive PTT may be used for this purpose.To monitor standard (unfractionated, UF) heparin anticoagulant therapy; however, some labs now use the anti-Xa test to monitor heparin therapy. Heparin is an anticoagulation drug that is given intravenously (IV) or by injection to prevent and to treat blood clots (embolism and thromboembolism). It prolongs PTT. When heparin is administered for therapeutic purposes, it must be closely monitored. If too much is given, the treated person may bleed excessively; with too little, the treated person may continue to clot.Based on carefully obtained patient histories, the PTT and PT are sometimes selectively performed before a scheduled surgery or other invasive procedures to screen for potential bleeding tendencies.When is it ordered?

The PTT may be ordered along with other tests such as a PT when you have:Unexplained bleeding or easy bruisingA blood clot in a vein or arteryAn acute condition such as disseminated intravascular coagulation (DIC) that may cause both bleeding and clotting as coagulation factors are used up at a rapid rateA chronic condition such as liver disease that may affect clotting

A PTT may be ordered:As part of an evaluation for lupus anticoagulant, anticardiolipin antibodies, and antiphospholipid syndrome, when you’ve had a blood clot or when a woman has had recurrent miscarriagesWhen you are switched from heparin therapy to longer-term warfarin (Coumadin®) therapy, the two are overlapped and both the PTT and PT are monitored until you have stabilized.When you have a surgical operation scheduled; you may have a PTT prior to surgery when the surgery carries an increased risk of blood loss and/or when you have a clinical history of bleeding, such as frequent or excessive nose bleeds and easy bruising, which may indicate the presence of a bleeding disorder.What does the test result mean?

PTT: Was Ihr Laborwert bedeutet

Die Messung der PTT ist eine Laboruntersuchung zur Überprüfung der Blutgerinnung. Sie dient zum einen der Diagnostik von Gerinnungsstörungen und zum anderen der Verlaufsbeurteilung bei der Einnahme bestimmter Medikamente.

Hinweis: Die aPTT (aktivierte partielle Thromboplastinzeit) ist eine abgewandelte Untersuchungsform: Hier wird die Gerinnung im Labor durch Zugabe von Phospholipiden aktiviert. Dadurch lassen sich andere an der Blutgerinnung beteiligte Faktoren testen.Wann bestimmt man die PTT?

Der Blutwert PTT wird im klinischen Alltag häufig bei Patienten bestimmt, die mit gerinnungshemmenden Medikamenten wie Heparin behandelt werden. Durch die Untersuchung kann der Arzt die Wirksamkeit der Therapie beurteilen.

Außerdem führt man den Test bei Verdacht auf eine Blutgerinnungsstörung durch. Ein solcher Verdacht ergibt sich zum Beispiel bei häufigem Nasenbluten, spontanen Blutergüssen (Hämatomen) oder verlängerter Blutung nach Verletzungen.Laborwert PTT: Welche Werte sind normal?

Für die Bestimmung der partiellen Thromboplastinzeit benötigt der Arzt eine Blutprobe. Das so gewonnene Blutplasma vermischt er mit Citrat: Das verhindert die Blutgerinnung bis zum eigentlichen Untersuchungszeitpunkt. Im Labor wird dann die Blutgerinnung ausgelöst und die Zeit bis zum Eintritt der Gerinnung gemessen. Der PTT-Normwert liegt bei 20 bis 38 Sekunden; für die aPTT gilt ein Normalwert von 27 bis 35 Sekunden.

25,1 - 36,5 secWann ist die PTT verkürzt?

Ist der PTT-Wert verkürzt, heißt das, dass das Blut zu schnell gerinnt. Der Mediziner nennt das Hyperkoagulabilität. Sie findet sich zum Beispiel bei folgenden Erkrankungen:Faktor-V-LeidenMangel an Protein S oder Protein C (angeboren oder durch Leber- oder chronische Darmerkrankungen erworben)Anithrombin-MangelWann ist die PTT verlängert?

Eine verlängerter PTT-Wert oder aPTT-Wert tritt bei verschiedenen Störungen der Blutgerinnung auf:Mangel an bestimmten Gerinnungsfaktoren (I, II, V, X, XI und XII)Hämophilie (Mangel an Faktor VIII oder IX)Antiphospholipidantikörpersyndrom (sog. Lupus antikoagulans)Von Willebrand-Jürgens-SyndromVerbrauchskoagulopathie (disseminierte intravasale Gerinnung)Vitamin-K-MangelSchäden des Lebergewebes

Außerdem hemmen verschiedene Medikamente die Blutgerinnung und bewirken so eine PTT-Verlängerung. Das gilt zum Beispiel für Heparin und Acetylsalicylsäure (ASS).Was tun bei veränderter PTT?

Ist die partielle Thromboplastinzeit verlängert, muss der Arzt die Ursache abklären. Hat der Patient nämlich eine bislang unbekannte Blutgerinnungsstörung, kann das bei späteren Operationen oder Verletzungen gefährlich werden. Hegt der Arzt aufgrund verschiedener Symptome (häufiges Nasenbluten, Hämatome etc.) den Verdacht auf eine Gerinnungsstörung, bestimmt er weitere Laborwerte wie zum Beispiel die Aktivität der Gerinnungsfaktoren oder Autoantikörper.

Bei Patienten, die eine Heparintherapie erhalten, ist es ganz normal und gewollt, dass die PTT um das etwa Zwei- bis Dreifache des Normalwertes verlängert ist. Hier besteht also kein Handlungsbedarf. Ist der PTT-Wert bei heparinisierten Patienten aber nicht im gewünschten Bereich, kann der Arzt die Dosis des Blutgerinnungshemmers Heparin steigern oder senken.Autoren- & Quelleninformationen

Dieser Text entspricht den Vorgaben der ärztlichen Fachliteratur, medizinischen Leitlinien sowie aktuellen Studien und wurde von Medizinern geprüft.

Autoren:

Lena Machetanz

Eva Rudolf-Müller ist freie Autorin in der NetDoktor-Medizinredaktion. Sie hat Humanmedizin und Zeitungswissenschaften studiert und immer wieder in beiden Bereich gearbeitet - als Ärztin in der Klinik, als Gutachterin, ebenso wie als Medizinjournalistin für verschiedene Fachzeitschriften. Aktuell arbeitet sie im Online-Journalismus, wo ein breites Spektrum der Medizin für alle angeboten wird.

Quellen:Dörner, K.: Klinische Chemie und Hämatologie. Georg Thieme Verlag, 8. Auflage, 2013.Hagemann, O.: Laborlexikon, www.laborlexikon.de (Abruf: 29.05.2019)Halwachs-Baumann, G. et al.: Labormedizin. Springer Verlag, 2. Auflage, 2011.Kessler, K.-P. et al.: Das Zweite Kompakt – Grundlagen. Springer Verlag, 2008.Kretz, F.-J. et al.: Anästhesie, Intensivmedizin, Notfallmedizin, Schmerztherapie. Springer Verlag, 3. Auflage, 2001.Kretz, F.-J. & Teufel, F.: Anästhesie und Intensivmedizin. Springer Verlag, 2006.Laborgemeinschaft Nord-West: www.lgnw.eu (Abruf: 29.05.2019)Neumeister, B. & Otto, B.: Klinikleitfaden Labordiagnostik. Elsevier Verlag, 5. Auflage, 2014.Pötzsch, B. & Madlener, K.: Hämostaseologie. Springer Verlag, 2. Auflage, 2010.Wilhelm, W.: Praxis der Intensivmedizin. Springer Verlag, 2. Auflage, 2013.

Anda Suka Olahraga Lari? Waspada, Kuku Kaki Bisa Lepas lalu Menghitam dan Dicabut!

  Anda Suka Olahraga Lari? Waspada, Kuku Kaki Bisa Lepas lalu Menghitam dan Dicabut! Hai teman-teman semua, mungkin anda sudah gak sabar i...