25 Desember 2021

Persatuan Dokter Gigi Indonesia Selenggarakan Seminar Ilmiah I

Suara.com - Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB-PDGI) bekerja sama dengan Koelnmesse dan Traya Events akan menyelenggarakan Seminar Ilmiah dan Pameran Indonesia Dental Exhibition & Conference (IDEC) 2017, di Assembly Hall Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, pada 15-17 September 2017. Penyelenggaraan perdana IDEC diarahkan untuk menjadi acara kedokteran gigi yang harus dihadiri oleh praktisi industri kedokteran gigi Indonesia, dengan mengadakan seminar dan hands on serta diikuti oleh peserta pameran nasional dan internasional.

Sebagai negara terpadat ke-4 di dunia, peluang perkembangan industri kedokteran gigi di Indonesia sangat besar. Pertumbuhan tahunan industri kedokteran gigi diperkirakan sebesar 20 persen setiap tahunnya, dari pasar kesehatan Indonesia secara keseluruhan. Potensi tersebut perlu disikapi dengan update mengenai industri kedokteran gigi di Indonesia dalam sebuah pameran dan seminar untuk memajukan indutsri kedokteran gigi di tanah air.

“Indonesia Dental Exhibition and Conference (IDEC) diharapkan bisa menjadi barometer baru bagi para pelaku industri kedokteran gigi, mulai dari dokter, tenaga medis, dental supplier, bahkan bagi masyarakat umum untuk mengetahui perkembangan teknologi terkini dalam hal kedokteran gigi,” ujar drg. Diono Susilo, Chairman IDEC 2017.

Pameran yang baru pertama kali digelar ini akan memberikan edukasi yang lengkap bagi profesional kedokteran gigi Indonesia melalui seminar dan workshop dengan topik lengkap, terkait dengan kesehatan gigi, seperti restorative dentistry dan esthetic treatment, sampai topik endodontic terkini, dan lain lain.

Dengan tema “Modern Science and technology for The Future of Dentistry”, IDEC 2017 akan menghadirkan 6 pembicara internasional dan 10 pembicara nasionaldalam bentuk seminar ilmiah, diskusi panel dan workshop. Seminar ini diharapakan akan menjadi media belajar dan pembahasan bersama para dokter gigi untuk memajukan kualitas pelayanan dan fasilitas kedokteran gigi, agar dapat bersanding sejalan dengan perkembangan industri kedokteran gigi dunia.

“IDEC tidak hanya memamerkan produk peralatan kedokteran gigi saja. Seminar dalam IDEC akan menghadirkan pembicara ahli kedokteran gigi, baik nasional maupun internasional, yang akan menjelaskan pengalaman dan penelitian profesional mereka yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan kedokteran gigi di Indonesia,” tutur Dr. Sri Hananto Seno, drg,MM, Sp.BM, Ketua Umum PDGI.

Seminar ini akan mengeksplorasi keterampilan dan teknik untuk meningkatkan kemampuan profesional seorang dokter gigi dalam menentukan diagnosa dan pemilihan perawatan yang sesuai untuk berbagai kondisi kesehatan mulut dan gigi.

Melalui IDEC 2017, PDGI, yang memiliki 28,880 anggota dan kurang lebih 3,260 dokter spesialis akan mendorong perkembangan dunia kesehatan gigi Indonesia untuk meningkatkan kualitas perawatan kesehatan gigi dan mulut di Indonesia.

Tiga hari pameran ini akan memperkuat posisi IDEC sebagai sarana pilihan bagi perusahaan yang ingin meluncurkan produk kedokteran gigi terbaru, menemukan target bisnis dan networking, meningkatkan kesadaran pada brand yang dimiliki serta membuka peluang investasi. Meskipun ini merupakan penyelenggaraan perdana, IDEC mendapat banyak dukungan dari perusahaan baik perusahaan nasional maupun internasional.

"IDEC 2017 memberikan karakter yang berbeda dalam kegiatan kedokteran gigi di Indonesia, dengan area pameran yang terdiri dari setengah area pameran yang diikuti oleh peserta pameran internasional dan sebagian area dikuti oleh perusahaan nasional. Pameran ini juga akan melibatkan 5 paviliun nasional seperti dari negara Jerman, Italia, Korea, Swiss dan China. Kolaborasi ini akan memberi banyak benefit bagi para pengunjung serta profesional di bidang kedokteran gigi untuk tidak hanya mengeksplorasi produk terbaru yang tersedia dari dalam negeri maupun dari luar negeri, namun juga merupakan sarana penting untuk terjadinya kontak bisnis secara langsung," ujar Mathias Kuepper, Managing Director Koelnmesse Pte Ltd, yang juga merupakan penyelenggara dari International Dental Expo & Meeting (IDEM) di Singapura.

"Tujuan kami dengan kehadiran IDEC adalah membantu perusahaan mendapatkan momentum bisnis dengan memfasilitasi peserta untuk terhubung serta mengeksplorasi lebih jauh tentang kebutuhan pasar Indonesia yang akan membantu bisnis mereka berkembang," lanjutnya.

Penyelenggaraan perdana IDEC 2017 mendapat dukungan dari dalam negeri serta disambut dengan sangat baik, mulai dari pemerintahan, asosiasi serta perusahaan nasional yang berpartisipasi mendukung pameran dan seminar ini.

"IDEC telah mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah Indonesia dan pelaku industri kedokteran gigi di dalam negeri, tentunya dengan dukungan dari perusahaan internasional," kata Bambang Setiawan, Presiden Direktur PT Traya Eksibisi International (Traya Event), selaku panitia penyelenggara IDEC 2017.

Sebanyak 120 peserta pameran akan mengambil sekitar 5.000 meter persegi area pameran mulai 15-17 September 2017 di Jakarta, Indonesia.

Daftarkan keikutsertaan pada program ilmiah atau mendaftar sebagai sebagai pengunjung melalui Pendaftaran secara online di www.indonesiadentalexpo.com.

Kemahasiswaan – Kedokteran Gigi

KELUARGA ALUMNI KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA (KAGUMY)

Kagumy singkatan dari Keluarga Alumni Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kagumy berdiri sejak tahun 2010 yang beranggotakan alumni mahasiswa kedokteran gigi UMY. Kagumy dibuat oleh PSPDG UMY dengan tujuan memfasilitasi keluarga alumni agar saling terhubung dan tetep terjalin silaturahmi walaupun sudah menjadi dokter gigi yang tersebar diseluruh Indonesia.

Secara umu kegiatan Kagumy diantaranya:Seminar

Setiap tahun, Kagumy selalu berpartisipasi aktif dalam kegiatan seminar yang diselenggarakan oleh Program Studi Kedokteran Gigi UMY yaitu pada seminar CDE (Continuing Dental Education) yang merupakan seminar yang diselenggarakan oleh mahasiswa profesi; seminar DREAM (Dental Research Exhibition and Meeting); serta seminar IMUNITY yang diselanggarakan oleh mahasiswa program sarjana.Pengabdian masyarakat

PSPDG UMY memfasilitasi kagumy dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang diselenggarakan setiap 2 tahun sekali. Anggota Kagumy berperan sebagai Dokter Gigi pelaksana (operator), dibantu oleh mahasiswa UMY yang tergabung dalam DenRes (Dental Rescue) dan DenMer (Dental Emergency).RPS

Anggota Kagumy secara sukarela menjadi pembicara dalam kegiatan RPS yaitu kuliah pakar yang diselenggarakan oleh program profesi PSPDG UMY. Materi yang disampaikan terkait dengan kesuksesan yang telah diraih oleh alumni dengan tujuan memberikan pengetahuan akademis dan klinis serta motivasi kepada adik-adik angkatan agar termotivasi oleh kesuksesan kakak angkatan.Berlangganan jurnal online

Sebagai kontribusi terhadap almamater, Kagumy memberikan kontribusi layanan langgan jurnal internasional secara gratis untuk mahasiswa kedokteran gigi diantaranya jurnal operative dentistry subcription, europian journal of prosthodontics and restorative dentistry, pediatric dentistry, journal of oral and maxillofacial surgery.Informasi lowongan kerja

Kagumy memberikan informasi lowongan pekerjaan untuk semua alumni yang disebar melalui group Kagumy.

Ketua Umum: drg. Wustha Farani, MDSc

Ketua I Organisasi dan Keanggotaan: drg. Lidyana Trianita Tamim, MDSc, Sp. KGA

Ketua II Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga: drg. Ardhy Nugrahanto Wokas

Ketua III Informasi dan Komunikasi: drg. Regia Aristiyanto, MMR, Sp. KG

Ketua IV Pengabdian Masyarakat: drg. Ageng Kresna, MMR

Ketua V USAHA DAN PENGEMBANGAN PROFESI: drg. Afryla Femilian, MDSc

Sekretaris: drg. Dian Yosi Arinawati, MDSc, PhD

Bendahara: drg. Nyka Dwi Febria, M. MedEd

PROGRAM KERJA BIDANG I: ORGANISASI DAN KEANGGOTAANMelakukan pendataan anggota melalui kerjasama dengan Program Studi Kedokteran Gigi (PSKG) UMY, dengan teknis pelaksanaan:

a. Penelusuran domisili alumni melalui tracer study. Alumni mengisi tracer studi melalui laman https://dentistry.umy.ac.id/demo/tracer-study/

b. Pembagian regional daerah:Sumatera 1 (Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat)Sumatera 2 (Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung)Jawa 1 (Jabodetabek, Jawa Barat)Jawa 2 (DI. Yogyakarta, Jawa tengah)Jawa 3 (Jawa Timur)Kalimantan 1 (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah)Kalimantan 2 (Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara)Sulawesi (semua propinsi)Bali, NTB, NTTMaluku dan Maluku UtaraPapua dan Papua Barat

c. Membuka rekening untuk menerima donasi dari alumni

PROGRAM KERJA BIDANG II: KERJASAMA DAN HUBUNGAN ANTAR LEMBAGAMeningkatkan hubungan kerjasama antar lembaga internal dan eksternal dengan teknis pelaksanaan:

a. Silaturahmi perguruan tinggi baik negri maupun swasta sebagai jembatan kerjasama dan pengenalan KAGUMY dimata luar

b. Silaturahmi dengan pemerintah daerah

PROGRAM KERJA BIDANG III: INFORMASI DAN KOMUNIKASIRapat koordinasi berkala 3 bulanan pada tingkat regional daerahPertemuan rutin alumni yang dilaksanakan setiap tahun sekali pada kegiatan seminar (CDE dan DREAM) yang diselenggarakan oleh PSPDG UMY

PROGRAM KERJA BIDANG IV: PENGABDIAN MASYARAKAT

1.Pelayanan kepada masyarakat bekerja sama dengan PSPDG UMY:

a. Menjadi dokter gigi operator pada pemeriksaan gigi gratis

b. Menjadi dokter gigi penyuluh pada bakti sosial

2. Pemberian penghargaan kepada civitas akademika

PROGRAM KERJA BIDANG V: USAHA DAN PENGEMBANGAN PROFESIPelatihan seminar dan workshop bekerja sama dengan PSPDG UMY secara berkalaKontribusi terhadap almamater:

a. Memberikan layanan langgan jurnal internasional gratis secara online

b. Memberikan kuliah berisi keilmuan akademik, klinis serta motivasi kepada mahasiswa PSPDG dalam kegiatan RPS.

PDGI Gelar Seminar 'Medan Conference of Dentistry'

Diharapkan melalui kegiatan seminar kedokteran gigi ini dapat membantu pemerintahan kota Medan, khususnya dinas kesehatan dalam mengatasi permasalahan kesehatan gigi dan mulut, sebut Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan dr. Edwin Effendi, M.Sc, ketika membuka seminar tersebut di Tiara Convention Center, Jum’at (30/8/2019).

Di kesempatan yang lain Ketua PDGI Cabang Medan drg. Meriah Ukur Sembiring menyatakan dengan semakin meningkatnya kasus kesehatan gigi dan mulut yang dirujuk ke Rumah Sakit dari FKTP maka setiap dokter gigi harus menyelaraskan fenomena tersebut dengan terus meningkatkan skills dan kompetensi.

\"Tujuan seminar yang mengambil tema \"The Art and Approach of Modern Dentistry\" ini untuk menjawab tantangan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut saat ini sehingga kalangan dokter gigi perlu dibekali dengan keilmuan yang cukup agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna bagi masyarakat,\" sebut drg. Meriah Ukur Sembiring.

Sementara itu Ketua PDGI Wilayah Sumatera Utara drg. M. Sahbana mengingatkan bagi kolega dokter gigi agar dapat patuh dan taat pada setiap regulasi/peraturan perundang-undangan tentang kesehatan sekaligus kode etik kedokteran gigi.

 Hal yang senada juga disampaikan Ketua Panitia Seminar drg. Ranu Putra Armidin didampingi Sekretaris Panitia drg. Fitrady Ulianda Siregar, M. Kes. Ia menyebut seminar kedokteran gigi ini diikuti lebih dari 500 peserta seminar dan 250 peserta Hands On, dengan menghadirkan pembicara berskala nasional.

\"Kegiatan seminar diselenggarakan pada tanggal 30-31 Agustus 2019 dan di tutup dengan kegiatan bakti sosial kedokteran gigi pada tanggal 1 September 2019 bertempat di Panti Asuhan Al-Kahfi dan Pesantren Al-Husna.

Selain itu juga, seminar ini menyajikan kegiatan lomba presentasi poster dan kegiatan Dental Exhibition yang diikuti lebih dari 20 booth pameran perusahaan alat dan bahan kedokteran gigi berskala lokal dan nasional,\" ungkapnya.

Kegiatan seminar ini di sponsori oleh Sensodyne, PT. Exeltis, PT. Internasional Karya Utama, 3M Espe dan Gamacha.

Hadir selain Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, juga perwakilan Dekanat FKG USU, Dekanat FKG Unpri dan seluruh fungsionaris pengurus PDGI Cabang Medan."/>Diharapkan melalui kegiatan seminar kedokteran gigi ini dapat membantu pemerintahan kota Medan, khususnya dinas kesehatan dalam mengatasi permasalahan kesehatan gigi dan mulut, sebut Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan dr. Edwin Effendi, M.Sc, ketika membuka seminar tersebut di Tiara Convention Center, Jum’at (30/8/2019).

Di kesempatan yang lain Ketua PDGI Cabang Medan drg. Meriah Ukur Sembiring menyatakan dengan semakin meningkatnya kasus kesehatan gigi dan mulut yang dirujuk ke Rumah Sakit dari FKTP maka setiap dokter gigi harus menyelaraskan fenomena tersebut dengan terus meningkatkan skills dan kompetensi.

\"Tujuan seminar yang mengambil tema \"The Art and Approach of Modern Dentistry\" ini untuk menjawab tantangan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut saat ini sehingga kalangan dokter gigi perlu dibekali dengan keilmuan yang cukup agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna bagi masyarakat,\" sebut drg. Meriah Ukur Sembiring.

Sementara itu Ketua PDGI Wilayah Sumatera Utara drg. M. Sahbana mengingatkan bagi kolega dokter gigi agar dapat patuh dan taat pada setiap regulasi/peraturan perundang-undangan tentang kesehatan sekaligus kode etik kedokteran gigi.

 Hal yang senada juga disampaikan Ketua Panitia Seminar drg. Ranu Putra Armidin didampingi Sekretaris Panitia drg. Fitrady Ulianda Siregar, M. Kes. Ia menyebut seminar kedokteran gigi ini diikuti lebih dari 500 peserta seminar dan 250 peserta Hands On, dengan menghadirkan pembicara berskala nasional.

\"Kegiatan seminar diselenggarakan pada tanggal 30-31 Agustus 2019 dan di tutup dengan kegiatan bakti sosial kedokteran gigi pada tanggal 1 September 2019 bertempat di Panti Asuhan Al-Kahfi dan Pesantren Al-Husna.

Selain itu juga, seminar ini menyajikan kegiatan lomba presentasi poster dan kegiatan Dental Exhibition yang diikuti lebih dari 20 booth pameran perusahaan alat dan bahan kedokteran gigi berskala lokal dan nasional,\" ungkapnya.

Kegiatan seminar ini di sponsori oleh Sensodyne, PT. Exeltis, PT. Internasional Karya Utama, 3M Espe dan Gamacha.

Hadir selain Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, juga perwakilan Dekanat FKG USU, Dekanat FKG Unpri dan seluruh fungsionaris pengurus PDGI Cabang Medan."/>Diharapkan melalui kegiatan seminar kedokteran gigi ini dapat membantu pemerintahan kota Medan, khususnya dinas kesehatan dalam mengatasi permasalahan kesehatan gigi dan mulut, sebut Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan dr. Edwin Effendi, M.Sc, ketika membuka seminar tersebut di Tiara Convention Center, Jum’at (30/8/2019).

Di kesempatan yang lain Ketua PDGI Cabang Medan drg. Meriah Ukur Sembiring menyatakan dengan semakin meningkatnya kasus kesehatan gigi dan mulut yang dirujuk ke Rumah Sakit dari FKTP maka setiap dokter gigi harus menyelaraskan fenomena tersebut dengan terus meningkatkan skills dan kompetensi.

\"Tujuan seminar yang mengambil tema \"The Art and Approach of Modern Dentistry\" ini untuk menjawab tantangan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut saat ini sehingga kalangan dokter gigi perlu dibekali dengan keilmuan yang cukup agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna bagi masyarakat,\" sebut drg. Meriah Ukur Sembiring.

Sementara itu Ketua PDGI Wilayah Sumatera Utara drg. M. Sahbana mengingatkan bagi kolega dokter gigi agar dapat patuh dan taat pada setiap regulasi/peraturan perundang-undangan tentang kesehatan sekaligus kode etik kedokteran gigi.

 Hal yang senada juga disampaikan Ketua Panitia Seminar drg. Ranu Putra Armidin didampingi Sekretaris Panitia drg. Fitrady Ulianda Siregar, M. Kes. Ia menyebut seminar kedokteran gigi ini diikuti lebih dari 500 peserta seminar dan 250 peserta Hands On, dengan menghadirkan pembicara berskala nasional.

\"Kegiatan seminar diselenggarakan pada tanggal 30-31 Agustus 2019 dan di tutup dengan kegiatan bakti sosial kedokteran gigi pada tanggal 1 September 2019 bertempat di Panti Asuhan Al-Kahfi dan Pesantren Al-Husna.

Selain itu juga, seminar ini menyajikan kegiatan lomba presentasi poster dan kegiatan Dental Exhibition yang diikuti lebih dari 20 booth pameran perusahaan alat dan bahan kedokteran gigi berskala lokal dan nasional,\" ungkapnya.

Kegiatan seminar ini di sponsori oleh Sensodyne, PT. Exeltis, PT. Internasional Karya Utama, 3M Espe dan Gamacha.

Hadir selain Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, juga perwakilan Dekanat FKG USU, Dekanat FKG Unpri dan seluruh fungsionaris pengurus PDGI Cabang Medan."/>Skip to content

PDGI Cabang Medan menyelenggarakan seminar ilmiah bertajuk "Medan Conference of Dentistry".

Diharapkan melalui kegiatan seminar kedokteran gigi ini dapat membantu pemerintahan kota Medan, khususnya dinas kesehatan dalam mengatasi permasalahan kesehatan gigi dan mulut, sebut Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan dr. Edwin Effendi, M.Sc, ketika membuka seminar tersebut di Tiara Convention Center, Jum’at (30/8/2019).

Di kesempatan yang lain Ketua PDGI Cabang Medan drg. Meriah Ukur Sembiring menyatakan dengan semakin meningkatnya kasus kesehatan gigi dan mulut yang dirujuk ke Rumah Sakit dari FKTP maka setiap dokter gigi harus menyelaraskan fenomena tersebut dengan terus meningkatkan skills dan kompetensi.

"Tujuan seminar yang mengambil tema "The Art and Approach of Modern Dentistry" ini untuk menjawab tantangan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut saat ini sehingga kalangan dokter gigi perlu dibekali dengan keilmuan yang cukup agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna bagi masyarakat," sebut drg. Meriah Ukur Sembiring.

Sementara itu Ketua PDGI Wilayah Sumatera Utara drg. M. Sahbana mengingatkan bagi kolega dokter gigi agar dapat patuh dan taat pada setiap regulasi/peraturan perundang-undangan tentang kesehatan sekaligus kode etik kedokteran gigi.

 Hal yang senada juga disampaikan Ketua Panitia Seminar drg. Ranu Putra Armidin didampingi Sekretaris Panitia drg. Fitrady Ulianda Siregar, M. Kes. Ia menyebut seminar kedokteran gigi ini diikuti lebih dari 500 peserta seminar dan 250 peserta Hands On, dengan menghadirkan pembicara berskala nasional.

"Kegiatan seminar diselenggarakan pada tanggal 30-31 Agustus 2019 dan di tutup dengan kegiatan bakti sosial kedokteran gigi pada tanggal 1 September 2019 bertempat di Panti Asuhan Al-Kahfi dan Pesantren Al-Husna.

Selain itu juga, seminar ini menyajikan kegiatan lomba presentasi poster dan kegiatan Dental Exhibition yang diikuti lebih dari 20 booth pameran perusahaan alat dan bahan kedokteran gigi berskala lokal dan nasional," ungkapnya.

Kegiatan seminar ini di sponsori oleh Sensodyne, PT. Exeltis, PT. Internasional Karya Utama, 3M Espe dan Gamacha.

24 Desember 2021

Seminar Ilmiah dan Workshop Menarik Mengenai Layanan Kedokteran Gigi – dental.id

Prof. Dr. Rajiv Saini, salah satu pakar dalam bidang Periodontology dan Oral Implantology, tengah menjelaskan mengenai “Oral Hygiene and Systemic Health” kepada para peserta konferensi ilmiah IDEC 2017

Permasalahan yang dihadapi para profesional kesehatan gigi di Indonesia sangatlah kompleks. Mulai dari edukasi perawatan gigi, kebutuhan memperoleh peralatan kedokteran gigi, hingga metode untuk melakukan perbaikan gigi. Para profesional kesehatan gigi juga dituntut untuk update dengan teknologi terbaru dalam dentistry.

Pameran Indonesia Dental Exhibition & Conference (IDEC) 2017 menjadi salah satu jawaban bagi permasalahan-permasalahan yang sering ditemui oleh para dokter gigi di tanah air dan di negara-negara lain. Selama pameran berlangsung juga digelar serangkaian seminar ilmiah berikut workshop yang mengupas secara mendalam mengenai perkembangan teknologi dental dunia.

Mengusung tema utama “Modern Science and Technology for The Future of Dentistry,”  pada hari ketiga IDEC 2017 menampilkan 5 seminar dengan topik Clinical Advantages of Fast Curing MTA Based Materials yang disampaikan oleh Alexander Pavlov. Dilanjutkan dengan seminar berjudul Comprehensive Diagnostic – Approach for Oral Lessions oleh drg. Riani Setiadhi,  SpPM, dosen Ilmu Penyakit Mulut di Universitas Padjajaran Bandung,  Oral Hygiene and Systemic Health oleh Prof. Dr. Rajiv Saini, dokter asal India yang menekuni bidang Periodontology and Oral Implantology.

“IDEC merupakan acara yang bagus, saya berharap acara ini akan semakin besar dan dihadiri oleh lebih banyak peserta dari mancanegara, bukan  hanya peserta lokal,” ujar drg. D. Yudha Rismanto sebagai salah satu pembicara dalam seminar di hari kedua yang mengusung topik Periodental Esthetic Treatment as Primary Option in Dental Therapy.

Seminar yang tak kalah menarik dipaparkan oleh oleh drg. Jusuf Sjamsudin, yang juga merupakan pengajar di FKG Universitas Airlangga Surabaya, dengan judul Management Anterior Cross Bite in Mixed Dentition With Inclined Bite Plane: Indication and Contra Indication dan ditutup dengan Complication In Implant Dentistry: Peri-implantitis oleh Dr. drg. Marzella Mega Lestari, MDS, Sp.BM, Jakarta.

“Acaranya bagus karena ada seminar dan exhibition-nya. Saya sudah ikut seminarnya dari hari Jumat. Banyak hal menarik yang saya dapat di IDEC, salah satunya dari teknologi, karena seiring berjalannya waktu, kita perlu mengikuti perkembangan teknologi dentistry masa kini,” tutur drg. Anita, salah satu peserta seminar asal Pekanbaru.IDEC 2017 telah mendapat dukungan yang signifikan dari dunia internasional. Sebanyak 60% ruang pameran digunakan oleh perusahaan internasional. Lima diantaranya menghadirkan paviliun dari Negara Jerman, Swiss, Korea Selatan, Italia dan Cina untuk mewakili industri kedokteran gigi negara mereka.IDEC 2017 telah mendapat dukungan yang signifikan dari dunia internasional. Sebanyak 60% ruang pameran digunakan oleh perusahaan internasional. Lima diantaranya menghadirkan paviliun dari Negara Jerman, Swiss, Korea Selatan, Italia dan Cina untuk mewakili industri kedokteran gigi negara mereka.

" data-image-description="" data-image-meta="{"aperture":"3.5","credit":"","camera":"NIKON D7100","caption":"","created_timestamp":"1505685257","copyright":"","focal_length":"18","iso":"1000","shutter_speed":"0.008","title":"","orientation":"1"}" data-image-title="2b" data-large-file="https://i2.wp.com/dental.id/wp-content/uploads/2017/09/2b.jpg?fit=800%2C534&ssl=1" data-lazy-sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" data-lazy-src="https://i2.wp.com/dental.id/wp-content/uploads/2017/09/2b.jpg?resize=800%2C534&is-pending-load=1" data-lazy-srcset="https://i2.wp.com/dental.id/wp-content/uploads/2017/09/2b.jpg?w=800&ssl=1 800w, https://i2.wp.com/dental.id/wp-content/uploads/2017/09/2b.jpg?resize=150%2C100&ssl=1 150w, https://i2.wp.com/dental.id/wp-content/uploads/2017/09/2b.jpg?resize=300%2C200&ssl=1 300w" data-medium-file="https://i2.wp.com/dental.id/wp-content/uploads/2017/09/2b.jpg?fit=300%2C200&ssl=1" data-orig-file="https://i2.wp.com/dental.id/wp-content/uploads/2017/09/2b.jpg?fit=800%2C534&ssl=1" data-orig-size="800,534" data-permalink="https://dental.id/seminar-ilmiah-dan-workshop-menarik-mengenai-layanan-kedokteran-gigi/2b/" data-recalc-dims="1" height="534" loading="lazy" src="https://i2.wp.com/dental.id/wp-content/uploads/2017/09/2b.jpg?resize=800%2C534" srcset="data:image/gif;base64,R0lGODlhAQABAIAAAAAAAP///yH5BAEAAAAALAAAAAABAAEAAAIBRAA7" width="800">IDEC 2017 telah mendapat dukungan yang signifikan dari dunia internasional. Sebanyak 60% ruang pameran digunakan oleh perusahaan internasional. Lima diantaranya menghadirkan paviliun dari Negara Jerman, Swiss, Korea Selatan, Italia dan Cina untuk mewakili industri kedokteran gigi negara mereka.IDEC 2017 telah mendapat dukungan yang signifikan dari dunia internasional. Sebanyak 60% ruang pameran digunakan oleh perusahaan internasional. Lima diantaranya menghadirkan paviliun dari Negara Jerman, Swiss, Korea Selatan, Italia dan Cina untuk mewakili industri kedokteran gigi negara mereka.

Pada hari ke-3 juga digelar beberapa Hands-On dengan topik mencakup Direct Inclined Bite Plane Fabrication oleh drg. Jusuf Sjamsudin, Management of Treatment for Special Needs oleh Roosje Rosita Dewen & Team, Correction of Perforation With Rootdent oleh Alexander Pavlov, Lab Examination to Support Comprehensive Diagnostic for Oral Lesions oleh drg. Riani Setiadhi dan Dr. Irna Sufiawati, drg., Sp.PM. – dokter gigi dan dosen Departemen Ilmu Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unpad, Bandung.

“Acaranya menarik, pesertanya serius mengikuti seminar dan workshop hands-on. IDEC dapat menjadi terobosan untuk acara-acara kedokteran gigi selanjutnya,” papar Prof. drg. Laura Susanti Himawan, SpPros (K), salah satu pembicara Hands-On dengan topik Simple Way to Diagnose TMD and Its Early Treatment.

Salah satu Hands-On yang menarik adalah membahas mengenai koreksi perforasi di daerah akar, mahkota dan furkasi gigi yang disampaikan oleh Alexander Pavlov, salah satu dokter gigi asal Rusia yang spesialis di bidang prosthetic dentistry atau pembuatan gigi palsu. Saat ini banyak masyarakat yang belum sadar ketika akan membuat gigi palsu tidak berkonsultasi dengan dokter gigi atau ahli gigi yang kompeten di bidangnya.

“Acara IDEC sangat menambah wawasan saya sebagai mahasiswa bahwa dunia kedokteran gigi ini sangat luas. Bahkan saya menemukan teknologi-teknologi baru dalam bidang kedokteran gigi di acara ini.  Ini membuka peluang bagi dokter gigi maupun mahasiswa untuk lebih update terhadap bidang kedokteran gigi, tidak sebatas melayani pasien atau melakukan perawatan standar seperti yang dipelajari di perkuliahan,” komentar Dani, mahasiswa Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran sekaligus pengunjung IDEC.

home

Dentalosophy merupakan klinik gigi yang dapat dipercaya untuk mengatasi seluruh permasalahan gigi dan mulut anda dengan berbagai macam perawatan yang siap kami berikan kepada anda. Kami hadir ditengah – tengah masyarakat terutama di daerah jakarta selatan dan BSD (Tangerang) dengan mengedepankan kenyamanan pasien ditunjang oleh kehadiran dokter gigi dan dokter gigi spesialis yang mumpuni dalam bidangnya, peralatan yang steril, bahan yang berkualitas, keramahan dari para dokter gigi dan staff, serta ruangan yang bersih dan nyaman. Klinik kami juga dilengkapi protokol kesehatan sesuai anjuran WHO dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia untuk mencegah penularan COVID-19. Dengan biaya yang terjangkau dan sistem pembayaran yang fleksibel, kami berharap dapat memberikan pelayanan yang optimal dan komprehensif. Because your dental problem is our priority. 

Teeth Whitening / Dental Bleaching, Veneers, and Gum Bleaching

Bleaching (Memutihkan gigi), Veneer, Gum Bleaching (Mencerahkan warna gusi)

Implan gigi adalah gigi tiruan yang ditanamkan didalam rahang pasien sehingga tampak seperti gigi asli. Jika dibandingkan dengan gigi tiruan lepasan, implan jauh lebih nyaman karena terasa sama seperti gigi asli dan tidak dapat dilepas pasang

Removable Prosthesis (Valplast, Acrylic, and Metal) and Fixed Prosthesis (Crown and Bridge)

Pemasangan gigi tiruan cekat (crown, bridge) dan lepasan (valplast atau fleksi, akrilik, metal)

Pemasangan behel lepasan, behel metal, behel ceramic, behel damon, Invisalign, Clear aligner (by Klar)

Perawatan gigi anak meliputi penambalan gigi susu, cabut gigi susu, perawatan saluran akar gigi susu, pemeriksaan rutin gigi susu

Cabut Gigi, Operasi Gigi Bungsu, Operasi minor

Penambalan Gigi dan Perawatan Saluran Akar

Penambalan sewarna gigi dilakukan untuk memperbaiki bentuk dan warna gigi yang rusak akibat lubang gigi. Perawatan saluran akar dilakukan jika lubang gigi sangat besar dan dalam sehingga dibutuhkan pembersihan pada saluran akar

Akhirnya bisa ke dokter gigi, sesenang itu. Aku coba ke Dentalosophy Pondok Indah. Dokternya ramah dan baik banget, penjelasannya juga oke dan logis. Tentunya di sini mereka udah pake APD lengkap! Proud and thank you!- Agil Muhammad

Gue mau ngajak kalian buat perawatan gigi di Dentalosophy! Di sini gue ditanganin langsung sama drg Vania. Gue scaling untuk bersihin plak dan bleaching untuk memutihkan gigi. Tunggu apalagi, ayo rawat gigi kalian di Dentalosophy.- Irfan Hakim

Sebagai pribadi yang pernah pasang veneer, aku serahkan ke tenaga medis kepercayaanku drg Dian Paramita di Dentalosophy. Direct veneer yang kupasang sekitar 3thn lalu masih aman, awet, dan nyaman. Hanya perlu dipoles sedikit ketika aku udah di Jakarta. Thank you, my tooth fairy!- Felo Felicia

    1. Program Sarjana Universitas Trisakti Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2008

    2. Program Profesi Universitas Trisakti Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2012

    3. Program Sekolah Implan Dental Trisakti tahun 2015

    1. Sertifikasi Implan Dental

    1. Perawatan Gigi Rutin

    2. Penambalan Gigi

    3. Perawatan Estetik Gigi

    4. Pembuatan Gigi Palsu

    6. Odontektomi (Operasi Gigi Bungsu)

    1. Program Sarjana Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2006

    2. Program Profesi Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2010

    3. Program Spesialis Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia tahun 2013

    1. Perawatan Gigi anak (tambal,cabut,dll)

    1. Program Sarjana Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2003

    2. Program Profesi Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2006

    3. Program Spesialis Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia tahun 2010

    1. Staf Pengajar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

    2. Aktif menjadi pembicara di berbagai Seminar Kedokteran Gigi

    1. Penambalan Gigi (Perawatan Konservasi Gigi)

    2. Perawatan Saraf Gigi (Perawatan endodontik)

    1. Program Sarjana Universitas Padjadjaran Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2012

    2. Program Profesi Universitas Padjadjaran Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2016

    1. Lulus program profesi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dengan IPK 4.0

    2. Juara 2 Mahasiswa Berprestasi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Tahun 2015

    3. Finalis Abang None Jakarta Pusat 2014

    4.Besar Penerima Beasiswa Chevron Scholastic Award 2012

1. Virtual Skill Training: Class IV Direct Composite Restoration - PB PDGI & PDEC

2. Isolation and Moisture Control in Dentistry - PDGI Jakarta Pusat

3. Perawatan dan Manajemen Pulpitis Hiperplasia Kronik - PB PDGI

4. Penanganan Infeksi Odontogenik dalam Masa Pandemi Covid-19 - Safari Ilmu Bedah Mulut & Maksilofasial

5. Update in Ortognathic - KSM Bedah Mulut dan Maksilofasial

6. Clinical Management of Dentine Hypersensitivity in Clinical Practice - PB PDGI & PDEC

7. Manajemen Komplikasi Bedah Dentoalveolar - Safari Ilmu Bedah Mulut & Maksilofasial

    1. Perawatan Gigi Rutin

    2. Perawatan Estetik Gigi

    3. Penambalan Gigi

    4. Pembuatan Gigi Palsu

    1. Program Sarjana Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2002

    2. Program Profesi Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2005

    3. Program Magister Ilmu Kedokteran Gigi Dasar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia tahun 2010

    1. Lulus program Magister Ilmu  Kedokteran Gigi Dasar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia dengan predikat Cum Laude

    1. Perawatan Estetik Gigi

    2. Perawatan Gigi Rutin

    3. Penambalan Gigi

    4. Pencabutan Gigi

    5. Pembuatan Gigi Palsu

    6. Perawatan Kawat Gigi

    7. Perawatan Saraf Gigi

    1. Program Sarjana Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2013

    2. Program Profesi Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2017

- Dentistry Scientific Meeting

- Hands On Direct Veneer PDGI Jakarta Pusat

    1. Perawatan Gigi Rutin

    2. Penambalan Gigi

    3. Perawatan Estetik Gigi

    4. Pembuatan Gigi Palsu

    5. Perawatan Gigi Anak

    1. Program Sarjana Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2002

    2. Program Profesi Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2005

    3. Program Spesialis Prostodonsia Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2010

    1. Implant Gigi

    2. Pembuatan Gigi Palsu

    1. Program Sarjana Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2003

    2. Program Profesi Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2005

    3. Program Spesialis Bedah Mulut Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2014

    1. Program Sarjana Universitas Trisakti Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2008

    2. Program Profesi Universitas Trisakti Fakultas Kedokteran Gigi tahun 2012

    1. Lulusan terbaik semester gasal tahun 2015 program profesi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti dengan predikat Cum Laude

    1. Perawatan Gigi Rutin

    2. Penambalan Gigi

    3. Perawatan Estetik Gigi

    4. Pembuatan Gigi Palsu

    5. Perawatan Orthodontik

Fakultas Kedokteran Gigi | Universitas Muslim Indonesia

PORTAL UMITENTANG UMIProfil & Sejarah UMIVisi Misi UMIORGANISASIYayasan Wakaf UMIPimpinan UMISenat AkademikFAKULTASAKADEMIKKalender AkademikPenerimaan Program Sarjana (S1)Penerimaan Program PascasarjanaSIMPADUFASILITASRS. Ibnu SInaPerpustakaanRusunawaLAYANANE-LearningWebmail UMIBlog DosenIT Support

BERANDATENTANGProfilSejarahDeskripsi SingkatVisi, Misi dan TujuanStruktur OrganisasiProfil PejabatRenstra FakultasProgram StudiPendidikan Dokter GigiProfesi Dokter GigiDosenProfil DosenKegiatan Dosen Dalam AsosiasiPrestasi DosenTenaga KependidikanPeraturan AkademikPerkuliahan Dan PraktikumPengajuan Karya IlmiahPengesahan Karya IlmiahPenelitianSeminarUjian AkhirPENELITIANKegiatan PenelitianPublikasi NasionalPublikasi InternasionalPenelitian Terindeks ScopusKegiatan SeminarPENGABDIANFokus PengabdianKegiatan PengabdianDesa BinaanKEMAHASISWAANBadan Eksekutif MahasiswaInfo BeasiswaProgram Kreatifitas MahasiswaALUMNIData AlumniPendaftaran AlumniTracert Study AlumniHUBUNGI KAMI

Berita Fakultas

RAPAT KERJA CIVITAS AKADEMIKA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI DAN RSIGM UNIVERSITAS MUSLIM INDONESI, MALINO 5-7 NOVEMBER 2021

Bantuan Sarana Cuci Tangan diserahkan Dari Ketua POMD FKG UMI Untuk digunakan Dalam Kegiatan Tatap Muka Pembelajaran Masa Pendemik di FKG UMI

October 30, 2021

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1443 H Civitas Fakultas Kedokteran Gigi UMI

October 27, 2021

“RAPAT SENAT TERBUKA LUAR BIASA” Pengucapan Sumpah Dokter Gigi Dan Janji Sarjana Kedokteran Gigi Periode II Tahun 2021 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia

October 20, 2021

STADIUM GENERAL DAN RAMAH TAMAH BERSAMA ORANG TUA MAHASISWA ANGKATAN 2021

September 7, 2021

BAKTI SOSIAL FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANGKATAN 2020

September 3, 2021

Kabar Alumni

“RAPAT SENAT TERBUKA LUAR BIASA” Pengucapan Sumpah Dokter Gigi Dan Janji Sarjana Kedokteran Gigi Periode II Tahun 2021 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia

October 20, 2021

Pengumuman Hasil Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Gigi (UKMP2DG) Periode II Yang Diikuti 27 Orang Mahasiswa Periode Juni 2021

June 27, 2021

PENGUCAPAN SUMPAH DOKTER GIGI DAN JANJI SARJANA KEDOKTERAN GIGI PERIODE I TAHUN 2021 UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA, FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

April 9, 2021

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA KEGIATAN YUDISIUM DOKTER GIGI DAN SARJANA (S1) KEDOKTERAN GIGI ANGKATAN II TAHUN AJARAN 2019/2020

December 12, 2019

Yudisium dokter gigi FKG UMI

June 4, 2019

Yudisium sarjana kedokteran gigi

March 22, 2019

Coas Pertama Kedokteran Gigi UMI Siap Praktek di Rumah Sakit

Setelah berhasil meraih gelar sarjana kedokteran gigi selama 7 semester.

July 20, 2016

Fakultas Kedokteran Gigi UMI Optimalkan Proses Belajar Aktif

Belajar adalah proses aktif, untuk mengoptimalkan proses interaksi aktif dan

March 30, 2014

Artikel

RAPAT KERJA CIVITAS AKADEMIKA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI DAN RSIGM UNIVERSITAS MUSLIM INDONESI, MALINO 5-7 NOVEMBER 2021

November 8, 2021

Bantuan Sarana Cuci Tangan diserahkan Dari Ketua POMD FKG UMI Untuk digunakan Dalam Kegiatan Tatap Muka Pembelajaran Masa Pendemik di FKG UMI

October 30, 2021

STADIUM GENERAL DAN RAMAH TAMAH BERSAMA ORANG TUA MAHASISWA ANGKATAN 2021

September 7, 2021

FKG UMI Lakukan Pengabdian Tentang Workshop Pembuatan Video Animasi

September 2, 2021

PENDAMPINGAN PENYUSUNAN DAN REVISI DOKUMEN SISTEM PENJAMIN MUTU INTERNAL FAKULTAS KEDOKTERAN DANFAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA OLEH LEMBAGA PENJAMIN MUTU

June 16, 2021

Pendaftaran Mahasiswa Baru Tahun Ajaran Priode 2021/2022 Universitas Muslim Indonesia 1 Maret – 9 Juli 2021

March 11, 2021

Kegiatan WORKSHOP Pengembangan PROFESI DOKTER GIGI Yang Difasilitasi Oleh AFDOGI Dan Diikuti Oleh DOSEN Penanggung Jawab Bagian Pada FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA, UNIVERSITAS MULAWARMAN, Dan UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Bertempat Di BANJARMASIN, Pada Tanggal 15-16 DESEMBER 2019

December 17, 2019

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA KEGIATAN YUDISIUM DOKTER GIGI DAN SARJANA (S1) KEDOKTERAN GIGI ANGKATAN II TAHUN AJARAN 2019/2020

December 12, 2019

Search for:

IDEC 2017, Seminar Ilmiah Berkelanjutan dan Pameran Pertama untuk Profesional Kedokteran gigi di Indonesia - Indonesia Dental Exhibition & Conference

Meningkatkan standar kesehatan gigi di Indonesia melalui Seminar Ilmiah terbaik dan pameran terkini bagi Dokter Gigi di Indonesia

Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB-PDGI) bekerjasama dengan Koelnmesse dan Traya Events akan menyelenggarakan Seminar Ilmiah dan Pameran Indonesia Dental Exhibition & Conference (IDEC) 2017 di Assembly Hall Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, pada tanggal 15-17 September 2017. Penyelenggaraan perdana IDEC diarahkan untuk menjadi acara kedokteran gigi yang harus dihadiri oleh praktisi industri kedokteran gigi Indonesia, dengan mengadakan seminar dan hands on serta diikuti oleh peserta pameran nasional dan internasional.

Sebagai negara terpadat ke-4 di dunia, peluang perkembangan industri kedokteran gigi di Indonesia sangat besar. Pertumbuhan tahunan industri kedokteran gigi diperkirakan sebesar 20% setiap tahunnya dari pasar kesehatan Indonesia secara keseluruhan. Potensi tersebut perlu disikapi dengan update mengenai industri kedokteran gigi di Indonesia dalam sebuah pameran dan seminar untuk memajukan indutsri kedokteran gigi di tanah air.

“Indonesia Dental Exhibition and Conference (IDEC) diharapkan bisa menjadi barometer baru bagi para pelaku industri kedokteran gigi, mulai dari dokter, tenaga medis, dental supplier, bahkan bagi masyarakat umum untuk mengetahui perkembangan teknologi terkini dalam hal kedokteran gigi,” ujar drg. Diono Susilo, Chairman IDEC 2017.“Sangat penting untuk para dokter gigi dapat menyediakan perawatan kesehatan gigi terbaik untuk pasiennya, tetap up to date dengan keilmuan, penelitian dan teknologi terkini dalam industri kesehatan gigi. “Pameran yang baru pertama kali digelar ini akan memberikan edukasi yang lengkap bagi professional kedokteran gigi Indonesia melalui seminar dan workshop dengan topik lengkap terkait dengan kesehatan gigi seperti restorative dentistry dan esthetic treatment sampai topik endodontic terkini dan lain lain.

Dengan tema “Modern Science and technology for The Future of Dentistry” seminar di dalam IDEC 2017 akan menghadirkan 6 pembicara internasional dan 10 pembicara nasional, yang akan menampilkan dan membahas masing masing keahlian mereka dalam bentuk seminar ilmiah, diskusi panel dan workshop. Seminar ini diharapakan akan menjadi media belajar dan pembahasan bersama para dokter gigi untuk memajukan kualitas pelayanan dan fasilitas kedokteran gigi agar dapat bersanding sejalan dengan perkembangan industri kedokteran gigi dunia.

“IDEC tidak hanya memamerkan produk peralatan kedokteran gigi saja. Seminar di dalam IDEC akan menghadirkan pembicara ahli kedokteran gigi baik nasional maupun internasional, yang akan menjelaskan pengalaman dan penelitian professional mereka yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan kedokteran gigi di Indonesia,” tutur Dr. Sri Hananto Seno, drg,MM, Sp.BM selaku Ketua Umum PDGI.” Seminar ini akan mengeksplorasi keterampilan dan teknik untuk meningkatkan kemampuan profesional seorang dokter gigi dalam menentukan diagnosa dan pemilihan perawatan yang sesuai untuk berbagai kondisi kesehatan mulut dan gigi. Pameran ini akan membawa dokter gigi kepada jasa dan teknologi modern yang saat ini tersedia di dalam industri kedokteran gigi, sehingga dapat diterapkan dalam praktik keseharian untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik”.

Melalui IDEC 2017, PDGI yang memiliki 28,880 anggota dan kurang lebih 3,260 dokter spesialis akan mendorong perkembangan dunia kesehatan gigi Indonesia, untuk meningkatkan kualitas perawatan kesehatan gigi dan mulut di Indonesia.

Tiga hari pameran ini akan memperkuat posisi IDEC sebagai sarana pilihan bagi perusahaan yang ingin meluncurkan produk kedokteran gigi terbaru, menemukan target bisnis dan networking, meningkatkan kesadaran pada brand yang dimiliki serta membuka peluang investasi. Meskipun ini merupakan penyelenggaraan perdana, IDEC mendapat banyak dukungan dari perusahaan baik perusahaan nasional maupun internasional.“IDEC 2017 memberikan karakter yang berbeda dalam kegiatan kedokteran gigi di Indonesia, dengan area pameran yang terdiri dari setengah area pameran yang diikuti oleh peserta pameran internasional dan sebagian area dikuti oleh perusahaan nasional. Pameran ini juga akan melibatkan 5 paviliun nasional seperti dari negara Jerman, Italia, Korea, Swiss dan China. Kolaborasi ini akan memberi banyak benefit bagi para pengunjung serta profesional di bidang kedokteran gigi untuk tidak hanya mengeksplorasi produk terbaru yang tersedia dari dalam negeri maupun dari luar negeri, namun juga merupakan sarana penting untuk terjadinya kontak bisnis secara langsung” seperti yang disampaikan oleh Mathias Kuepper, Managing Director Koelnmesse Pte Ltd, yang juga merupakan penyelenggara dari International Dental Expo & Meeting (IDEM) di Singapura. “Tujuan kami dengan kehadiran IDEC adalah membantu perusahaan mendapatkan momentum bisnis dengan memfasilitasi peserta untuk terhubung serta mengeksplorasi lebih jauh tentang kebutuhan pasar Indonesia yang akan membantu bisnis mereka berkembang.”

Penyelenggaraan perdana IDEC 2017 mendapat dukungan dari dalam negeri serta disambut dengan sangat baik, mulai dari pemerintahan, asosiasi serta perusahaan nasional yang berpartisipasi mendukung pameran dan seminar ini:

“IDEC telah mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah Indonesia dan pelaku industri kedokteran gigi di dalam negeri, tentunya dengan dukungan dari perusahaan internasional,” kata Bambang Setiawan, Presiden Direktur PT Traya Eksibisi International (Traya Event), selaku panitia penyelenggara IDEC 2017. “Sebanyak 120 peserta pameran akan mengambil sekitar 5.000 meter persegi area pameran mulai 15-17 September 2017 di Jakarta, Indonesia. Seiring semakin dekat penyelenggaraan IDEC, kami akan membantu kemudahan berbisnis dengan memfasilitasi program business matching guna untuk membantu para peserta, memasarkan serta menemukan pembeli yang sesuai sebagai mitra bisnis yang sesuai target, untuk mengeksplorasi kerjasama kemitraan bisnis jangka panjang. ”

Kolaborasi seminar ilmiah dan pameran yang fokus pada Industri Kedokteran gigi di Indonesia ini merupakan momentum yang sangat baik sebagai sarana berkumpulnya seluruh pelaku industri kedokteran gigi dari seluruh Indonesia.

Daftarkan keikutsertaan pada program ilmiah atau mendaftar sebagai sebagai pengunjung melalui Pendaftaran secara online di www.indonesiadentalexpo.com

Tentang PDGIPersatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) merupakan satu-satunya organisasi profesi yang menghimpun dokter gigi di indonesia yang didirikan di Bandung pada tanggal 22 Januari 1950. Saat ini PDGI telah memiliki 18 Pengurus Wilayah di tingkat Provinsi dan 243 Pengurus cabang di tingkat Kabupaten/Kota ditambah dua calon cabang PDGI yang baru. Di tingkat internasional PDGI merupakan Country Member pada berbagai organisasi antara lain APDF/APRO (Asia Pacific Dental Federation/Asia Pacific Regional Organization)-Organisasi Dokter Gigi Regional se-Asia Pasifik dan FDI (Federation Dentaire Internationale)-Organisasi Dokter Gigi se-dunia.

Tentang Koelnmesse Pte LtdKoelnmesse merupakan penyelenggara pameran trade fair terkemuka yang mengadakan lebih dari 80 pameran didunia. Dengan pameran industry terkemuka disektor makanan, furniture dan kedokteran gigi, peserta pameran dapat diyakinkan bahwa pameran yang diselenggarakan oleh Koelnmesse merupakan pameran yang memenuhi standar professional tertinggi.

Tentang Traya EventsPT Traya Eksibisi Internasional (Traya Events) berdiri pada tahun 2015 adalah bagian dari PT Amara Pameran Internasional, yang memiliki 5 anak perusahaan penyelenggara pameran dengan fokus masing masing pada industri spesifik yang berbeda. Sebagai salah satu penyelenggara pameran terkemuka di Indonesia PT Amara Pameran Internasional mengadakan event-event besar melalui setiap anak perusahaannya. Melalui event-event dan publikasi efektif, grup PT Amara Pameran Internasional melayani ratusan peserta pameran, pengunjung, media, dan pembeli berkualitas melalui platform bisnis tatap muka yang efektif.

Informasi lebih lanjut:PT. Traya Eksibisi Internasional (Traya Events)A Subsidiary of API Events

Drg. Monica Dewi R (PDGI)T : +62 812 9495 037E : monic@pdgi.or.id

Public Relations (Indonesia):Nur Fazriah (Lulu)T : +62 21-29125577 ext.711F : +62 21-29125566E : lulu@lima-event.com

Public Relations (International)Andrea BerghoffT : +65 6500 6706E : a.berghoff@koelnmesse.com.sg

26 July 2017idec3RELEASE 0 Comments Like

Seminar Nasional Riset Kedokteran

Bela negara harus dipahami dalam konteks yang luas dimana setiap warga negara merupakan entitas yang hidup didalam sebuah bangunan negara sehingga secara hakiki warga negara wajib untuk menjaga, memelihara, dan mengayomi setiap pranata, institusi, dan perangkat kelengkapan negara. Berbeda dengan negara yang otoriter atau negara yang tidak amanah terhadap kepentingan rakyat.Ketahanan negara dan pemahaman bela negara sangat penting untuk ditingkatkan khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan. Hasil-hasil riset dan inovasi dari Fakultas Kedokteran dapat memfasilitasi terbentuk peningkatan ketahanan nasional dalam bidang kedokteran. Begitu pula peningkatan kualitas pendidikan.

Banyak tantangan untuk mewujudkan ketahanan nasional di segi kesehatan, seperti : pemerataan kesehatan, pembentukan SDM unggul di bidang kedokteran dan kesehatan, inovasi dan teknologi di bidang kesehatan yang dapat melindungi dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Hal-hal ini semua memerlukan kerjasama bersama untuk peningkatan ketahanan nasional Indonesia. Selain itu, tantangan dalam bidang pendidikan juga tidak kalah banyak, mulai dari mencetak SDM yang berkualitas dan berdaya saing sampai dengan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, sehingga anak- anak Indonesia tidak kalah bersaing dengan pendidikan luar negeri dan dapat mengatasi perubahan global di dunia.

Penyakit virus corona (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang baru-baru ini ditemukan. Sebagian besar orang yang tertular COVID-19 akan mengalami gejala ringan hingga sedang, dan akan pulih tanpa penanganan khusus Pertimbangan yang berbeda bagi berbagai tahap kehidupan masyarakat dalam hal risiko terkait infeksi COVID-19, prioritas layanan kesehatan keseluruhan, dan implikasi pada langkah-langkah kesehatan masyarakat dan perubahan-perubahan sosial lain terkait pandemi ini (WHO. 2020). Update Terakhir pada tanggal 09 Januari 2021 di Indonesia, dengan kasus positif sebanyak 818.386, sembuh sebanyak 673.511, dan meninggal sebanyak 23.947. Kematian tenaga medis dan kesehatan di Indonesia tercatat paling tinggi di Asia, dan 5 besar di seluruh dunia. Bahkan, sepanjang bulan Desember 2020 mencatat 52 tenaga medis dokter meninggal dunia akibat terinfeksi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Berdasarkan data yang dirangkum oleh Tim Mitigasi IDI dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (PATELKI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dari Maret hingga akhir Desember 2020 terdapat total 504 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19. Para dokter yang wafat tersebut terdiri dari 131 dokter umum (4 guru besar), 101 dokter spesialis (9 guru besar), serta 5 residen, yang keseluruhannya berasal dari 25 IDI Wilayah (provinsi) dan 102 IDI Cabang Kota/Kabupaten.

Covid 19 menuntut untuk melakukan perubahan, baik dalam hal cara berpikir, cara berperilaku, dan cara bekerja. Tantangan selanjutnya adalah cara berpikir dan cara berperilaku yang dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan tangguh terhadap ancaman penyakit Tenaga kesehatan masyarakat sangat perlu dilibatkan secara optimal dalam banyak aspek promotif dan preventif kesehatan masyarakat. Para tenaga kesehatan masyarakat bisa berinovasi dan menciptakan strategi percepatan penanganan Covid-19 di Indonesia, dengan fokus utama edukasi dan berdayakan masyarakat dan fokus kedua perkuat pelayanan kesehatan

Kebiasaan dan perilaku yang baru berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat inilah yang kemudian disebut sebagai new normal. Cara yang dilakukan dengan rutin cuci tangan pakai sabun, pakai masker saat keluar rumah, jaga jarak aman dan menghindari kerumunan. Pihaknya berharap kebiasaan baru ini harus menjadi kesadaran kolektif agar dapat berjalan dengan baik.

Oleh karena itu, sangat diperlukan untuk adanya konsolidasi dan sinergitas dari berbagai komplemen bangsa dalam mewujudkan bela negara dan ketahanan nasional. Seminar nasional riset kedokteran ini diharapkan dapat menginisiasi peningkatan pemahaman dalam bidang ketahanan negara dan bela negara dan digitalisasi ini.

1. Meningkatkan adaptasi dan Edukasi di Masa Pandemi Covid-19: Masalah, Tantangan dan Solusi Kedokteran dan Kesehatan dalam Bela Negara

2. Meningkatkan publikasi dan kerjasama di bidang kedokteran khususnya dalam mewujudkan bela negara.

Waktu : Senin, 8 Februari 2021 -> Sudah terlaksana.

Pendaftaran CFP : https://conference.upnvj.ac.id/index.php/sensorik/user/register

Waktu : Selasa, 9 Februari 2021 -> Sudah terlaksana.

Pendaftaran Semnas : https://s.id/regsensorik2021

Tanggal Penting -> Sudah terlaksana.

Pendaftaran Seminar nasional : 13 Januari - 7 Februari 2021

Pengumpulan naskah CFP : 13 Januari - 7 Februari 2021 (Batas akhir pukul 24.00 WIB)

Pengumuman naskah diterima : 7 Febuari 2021

Pelaksanaan Presentasi CFP : 8 Febuari 2021

Pelaksanaan Seminar nasional : 9 Febuari 2021

Presenter -> https://drive.google.com/drive/folders/1eZfBTlXBSmkH0M1F0UiA9U2frtm38YlW?usp=sharing

Peserta -> https://drive.google.com/drive/folders/1BP8_5ErYVq5lWj9YtZlJMITBsNv78T4Q?usp=sharing

Bagi yang belum ada namun ikut serta silahkan email ke profesimedika@upnvj.ac.id

PENDIDIKAN DOKTER GIGI INDONESIA – Jurusanku.com

Sungguh bangga jadi dokter gigi. Profesi dokter gigi memang bergengsi. Untuk menjadi dokter gigi perlu kuliah di FKG (Fakultas Kedokteran Gigi). Tulisan ini merupakan petunjuk pengenalan kuliah FKG.BERAPA LAMA KULIAH KEDOKTERAN GIGI?

Pendidikan kedokteran gigi terbagi atas 2 tahap yaitu pendidikan akademik dan pendidikan profesi. Pendidikan akademik lamanya 8 semester (4 tahun), sedang pendidikan profesi 4 semester (2 tahun). Total kuliah dokter gigi selama 12 semester atau 6 tahun.  Setelah itu harus mengikuti ujian kompetensi yang diselenggarakan secara nasional di bawah supervisi Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi. Uji kompetensi secara nasional merupakan ujian yang khusus bagi lulusan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi.

Memang lama studi kedokteran gigi cukup panjang, bahkan lebih lama dari kuliah untuk menjadi dokter di Fakultas Kedokteran (FK). Hal ini karena pada profesi kedokteran gigi terdapat ketrampilan klinik yang harus dipelajari. Masa studi yang lama karena hendak menciptakan dokter gigi yang bermutu.

Setelah menempuh pendidikan dokter gigi selama 6 tahun, masih harus ditambah lagi dengan mengikuti internsip selama 1 tahun. Internsip merupakan kegiatan pemahiran dan pemandirian. Internsip dilaksanakan di puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah. Dalam rangka pemerataan, internsip selama 1 tahun terutama dilaksanakan di daerah terpencil.

Permasalahan yang terjadi adalah waktu tunggu untuk mendapatkan giliran internsip. Selain itu terdapat pula pemberitaan mengenai beberapa dokter yang meninggal dunia ketika menjalankan internsip di daerah terpencil. Diharapkan dilakukan peningkatan penatalaksanaan dan jaminan bagi peserta internsip.KULIAH DI FKG MANA?

Terdapat cukup banyak institusi pendidikan dokter gigi, hingga harus cerdas memilih FKG. Perlu diketahui, FKG yang terbaik adalah FKG yang terkreditasi A. Di Indonesia FKG dengan akreditasi A terdapat pada universitas negeri yang bereputasi baik yaitu FKG Universitas Indonesia (UI), FKG Universitas Pajajaran (UNPAD), FKG Universitas Gajah Mada, FKG Universitas Airlangga, dan FKG Universitas Hasanuddin. Sedangkan FKG perguruan tinggi swasta hanya 2 yang terakreditasi A yaitu FKG Universitas Trisakti, dan FKG Universitas Muhammadyah Yogyakarta (UMY).

Sebaiknya kuliah di FKG dengan akreditasi A. Lulusan FKG dengan akreditasi A akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan, lebih mudah diterima menjadi  pegawai negeri, TNI/Polri. Bila ingin melanjutkan pendidikan spesialis maka lulusan FKG terakreditasi A akan lebih mudah diterima. Hanya FKG dengan akreditasi A yang boleh menyelenggarakan pendidikan spesialis.KURIKULUM KEDOKTERAN GIGI

Kurikulum pendidikan dokter gigi terdiri atas program akademik selama 4 tahun, dan dilanjutkan program profesi selama 2 tahun. Setelah itu ujian kompetensi dan kemudian internsip selama 1 tahun di puskesmas serta rumah sakit umum daerah.

Pada program akademik atau disebut juga pendidikan preklinik terutama mengenai  kedokteran dasar dan kedokteran gigi dasar. Dokter gigi perlu menguasai ilmu kedokteran dasar sama seperti yang dipelajari calon dokter (dokter umum) di fakultas kedokteran (FK). Meski bidang kerjanya terutama menyangkut gigi dan mulut, namun dokter gigi juga menguasai ilmu kedokteran dasar. Dengan demikian kurang tepat kalau dikatakan dokter gigi kedudukannya dibawah dokter atau dokter gigi kurang bergengsi dibanding dokter.

Program profesi kedokteran gigi disebut juga pendidikan klinik. Pada program profesi mahasiswa berlatih secara langsung mengerjakan pasien di klinik. Ciri khas kedokteran gigi adalah ketrampilan klinik, hingga calon dokter gigi harus berlatih secara langsung mengerjakannya. Permasalahannya adalah kesulitan mendapatkan pasien yang bersedia untuk dikerjakan oleh mahasiswa program profesi. Apalagi dengan adanya BPJS Kesehatan maka semakin sedikit yang mau menjadi pasien untuk dikerjakan oleh mahasiswa program profesi kedokteran gigi. Akibatnya cukup banyak yang terpaksa molor, tidak dapat menyelesaikan studi tepat waktu.

Selamat menempuh kuliah kedokteran gigi dan menjalani karir dokter gigi!

Sumber: http://pendidikandrg.ucoz.net/news/pedoman_kuliah_kedokteran_gigi_pendidikan_dokter_gigi_indonesia/2016-04-06-2

Portal:Indonésia – Wikipédia, a enciclopédia livre

Origem: Wikipédia, a enciclopédia livre.ConteúdoTemas geraisPortaisCategoriasListasGlossáriosÍndice A-Z

Indonésiaver   

A República da Indonésia é um grande país localizado entre o sudeste asiático e a Austrália que é composto pelo maior arquipélago do mundo, as Ilhas de Sonda, e ainda a metade ocidental da Nova Guiné. Tem fronteiras terrestres com a Malásia, em Bornéu, com Timor-Leste, e com a Papua-Nova Guiné; e marítimas com as Filipinas, Malásia, Singapura, Palau, Austrália e com o estado indiano de Andaman e Nicobar. A localização entre dois continentes, a Ásia e a Oceania, faz da Indonésia uma nação transcontinental. Sua capital é Jacarta. É o quarto país mais populoso do mundo e o primeiro entre os países islâmicos.

Desde o século XVII, o arquipélago passou a ser habitado pelos portugueses, holandeses e ingleses, principalmente para a exploração e comercialização. Mais tarde, esses países exigiam mais do que simplesmente especiarias e começaram a colonizar a Indonésia. Os holandeses governaram a Indonésia durante mais de 300 anos e em 1942, os japoneses chegaram à Indonésia e governaram por três anos.

A Indonésia declarou sua independência em relação aos japoneses em 17 de agosto de 1945. O país tem mais de 250 milhões de cidadãos e é a mais populosa nação de maioria muçulmana. Atualmente, a Indonésia está tentando se recuperar após uma série de desastres como o tsunami de 2004, o terremoto de Java em 2006 e das erupções do Monte Merapi de 2010.

Mais sobre a Indonésia ...

Mostrar novas seleções

O Conjunto de Borobudur é o maior monumento budista do mundo. Localiza-se no Vale de Kedu, região de Magelang, no sudeste da Província da Java Central na Ilha de Java, na Indonésia, aproximadamente a 40 kma noroeste da cidade de Yogyakarta, um dos principais centros da cultura javanesa tradicional. É a mais importante e visitada atração turística do país. Foi construído no século VIII, originalmente como um templo hindu. Posteriormente sua construção foi continuada como um stupa budista. Com o advento do islamismo à ilha de Java, Borobudur foi esquecido e abandonado e nos séculos seguintes foi envolvido pela selva até a sua redescoberta em 1814 por colonos ingleses.

editar  Você sabia…

... que há um lago chamado Lago Kelimutu ou Danau Tiga Warna (lago três cores) em Sonda Oriental? Ele possui três cores e as mudanças ocorrem periodicamente a cada ano?

... que o rinoceronte-de-java é um dos mamíferos de grande porte mais raros e mais ameaçados em qualquer parte do mundo. De acordo com estimativas de 2002, apenas 60 permanecem vivos, na Indonésia e Vietnã. Eles são encontrados principalmente no Parque Nacional de Ujung Kulon, Java, mas os avistamentos são extremamente raros.

... que o Puncak Jaya é o ponto mais alto na Indonésia? A montanha está localizada em Papua e atinge 4.884 m acima do nível do mar. No pico existem camadas de gelo, embora seja localizado no clima tropical próximo ao Equador.

IndonésiaHistóriaPolíticaSubdivisõesSímbolosGeografiaEconomiaDemografiaCulturaListas

editar  Coisas que você pode fazer

Artigos para desenvolver:Outros artigos:

Artigos para revisar/reciclar:

Artigos para sofrerem fusão:Observação importante: Após fazer a fusão, favor riscar o nome da lista acima usando e .

Artigos para traduzir:Observação importante: Após fazer a fusão, favor riscar o nome da lista acima usando e .

Predefinições a traduzir/completar:Observação importante: Ao criar novos artigos procure criar todos os possíveis redirecionamentos.

Três guerreiros da etnia Batak, c. 1870.

editar  Biografia selecionada

Suharto (8 de junho de 1921 - 27 de janeiro de 2008) foi o segundo presidente da Indonésia, tendo ocupado o cargo durante 32 anos a partir de 1967 após a remoção de Sukarno até sua renúncia em 1998.

Suharto ascendeu ao posto de Major-General após a independência da Indonésia. Uma tentativa de golpe em 30 de setembro de 1965 foi anulada por Suharto com tropas lideradas pelos EUA e a resposabilidade foi atribuída ao Partido Comunista Indonésio. O exército posteriormente conduziu um expurgo anti-comunista, e Suharto arrebatou o poder do presidente fundador da Indonésia, Sukarno. Ele foi nomeado presidente interino em 1967 e presidente no ano seguinte. O apoio à presidência de Suharto corroeu após a crise financeira asiática de 1997-1998. Ele foi forçado a renunciar da presidência em maio de 1998 e morreu em 2008.

Mapa mostrando grupos religiosos na Indonésia.

editar  WikiProjetosWikiProjeto ÁsiaWikiProjeto Filipinas

editar  Associados WikimediaIndonésia no Wikinotícias    Indonésia no Wikiquote    Indonésia no Wikilivros    Indonésia no Wikisource    Indonésia no Wikcionário    Indonésia na Wikiversidade    Indonésia no Wikivoyage    Indonésia no CommonsNotíciasCitaçõesLivros didáticos e manuaisBibliotecaDefiniçõesRecursos de aprendizadoGuias de viagemImagens e mídia

O que são Portais?Lista de portaisPortais destacadosRecarregar

Outros portaisvde

PortaisArteBiografiasCiênciaFilosofiaGeografiaHistóriaMatemáticaSociedadeTecnologia

Wikipédiavde

Indonesia Maps & Facts

Covering an area of 1,904,569 sq. km, and strategically positioned between the Pacific and Indian Oceans, Indonesia comprises over 17,504 islands and is by far the largest and the most varied archipelago on Earth. Of these islands, the larger islands of Sumatra, Java, Kalimantan (which comprises two-thirds of the island of Borneo), Sulawesi, and Irian Jaya are quite mountainous, with some peaks reaching 12,000 ft. These mountains on the major Indonesian Islands are densely forested and volcanic in origin. The mountains with the highest elevations (over 16,000 ft) are found on Irian Jaya in the east.

Located in the Papua province and as a part of the Sudirman mountain range is Puncak Jaya – the highest point in Indonesia. At an elevation of 16,502 ft. (5,030 m) Puncak Jaya is also the world’s highest island peak and the Southwestern Pacific’s tallest mountain. The lowest point is the Indian Ocean (0m). Indonesia's former tallest peak, Mount Tambora (8,930 ft, 2,722 m), is an active stratovolcano whose 1815 eruption was the largest ever in recorded history - killing nearly 71,000 people. The explosion alone was heard as far west as Sumatra island, some 1,200 miles (2,000 km) away, and ashfalls were recorded on the islands of Borneo, Sulawesi, Java, and Maluku.

In addition to the mountainous landscape, much of the islands as observed on the map, are covered in thick tropical rainforests that give way to coastal plains. The significant rivers of Indonesia include the Barito, Digul, Hari, Kampar, Kapuas, Kayan, and Musi. There are also some scattered inland lakes as well which are relatively small in size.

Due to its location along the south-western arm of the Ring of Fire, Indonesia has about 400 volcanoes within its borders, with at least 90 still active in some way. The most active volcanoes are Mount Kelud (which has erupted more than 30 times since 1000 AD) and Mount Merapi (which has erupted more than 80 times since 1000 AD) on Java island. For its location between numerous tectonic plates, including the two continental plates: the Eurasian Plate (Sunda Shelf) and the Australian Plate (Sahul Shelf), and two oceanic plates: the Philippine Sea Plate and Pacific Plate; natural disasters are common in Indonesia.

The most notable natural disaster is the 9.2 earthquake that struck in the Indian Ocean and which triggered the Tsunami of December 2004 and devastated many of the islands within Indonesia's archipelago.Provinces of Indonesia Map

Indonesia is divided into 34 administrative provinces. These provinces are: Aceh, Bali, Banten, Bengkulu, Gorontalo, Jakarta, Jambi, Jawa Barat (West Java), Jawa Tengah (Central Java), Jawa Timur (East Java), Kalimantan Barat (West Kalimantan), Kalimantan Selatan (South Kalimantan), Kalimantan Tengah (Central Kalimantan), Kalimantan Timur (East Kalimantan), Kalimantan Utara (North Kalimantan), Kepulauan Bangka Belitung (Bangka Belitung Islands), Kepulauan Riau (Riau Islands), Lampung, Maluku, Maluku Utara (North Maluku), Nusa Tenggara Barat (West Nusa Tenggara), Nusa Tenggara Timur (East Nusa Tenggara), Papua, Papua Barat (West Papua), Riau, Sulawesi Barat (West Sulawesi), Sulawesi Selatan (South Sulawesi), Sulawesi Tengah (Central Sulawesi), Sulawesi Tenggara (Southeast Sulawesi), Sulawesi Utara (North Sulawesi), Sumatera Barat (West Sumatra), Sumatera Selatan (South Sumatra), Sumatera Utara (North Sumatra), and Yogyakarta. Out of these 34 provinces, the provinces of Aceh, Jakarta (national capital district), Yogyakarta (special region), Papua and West Papua have special status.

These provinces are subdivided into regencies and cities, which are further subdivided into districts and again into rural or urban villages.

Covering an area of 1,904,569 sq. km, Indonesia comprises over 17,504 islands and is by far the largest and the most varied archipelago on Earth.  Located on the north-western coast of the most populous island of Java is Jakarta – the capital and the largest city of Indonesia. It is the administrative center as well as an important industrial, financial, trading, and business hub.Where is Indonesia?

The archipelagic nation of Indonesia is located just to the north of Australia and off the Southeast Asian mainland, between the Pacific and Indian Oceans. It is placed across the Equator and hence is geographically positioned both in the Northern and Southern Hemispheres of the Earth as well as the Eastern Hemisphere. It is bordered by Malaysia, Papua New Guinea, and Timor-Leste. It is surrounded by the Indian Ocean in the south; by the Pacific Ocean (South China Sea) in the north, and over a dozen regional seas. Indonesia shares its maritime borders with India, Australia, Palau, Singapore, Philippines, Vietnam, and Thailand.

Indonesia Bordering Countries:Malaysia,Papua New Guinea,Timor-Leste.

Regional Maps: Map of AsiaOutline Map of Indonesia

The above blank map represents the archipelagic nation of Indonesia - the world's largest island nation that is strategically positioned between the Pacific and Indian Oceans. The above map can be downloaded, printed and used for geographic education purposes like map-pointing and coloring activities.

The above outline map represents the archipelagic nation of Indonesia - the world's largest island nation that is strategically positioned between the Pacific and Indian Oceans. Key FactsLegal NameRepublic of IndonesiaFlagCapital CityJakarta6 10 S, 106 49 ETotal Area1,904,569.00 km2Land Area1,811,569.00 km2Water Area93,000.00 km2Population270,625,568Major CitiesJakarta (10,770,487)Bekasi (3,394,273)Surabaya (2,944,403)Depok (2,727,209)Bandung (2,580,191)Tangerang (2,338,547)Medan (2,337,958)Semarang (1,866,492)Palembang (1,722,700)Makassar (Ujung Pandang) (1,583,553)CurrencyIndonesian rupiah (IDR)GDP$1.12 TrillionGDP Per Capita$4,135.57

This page was last updated on February 25, 2021

Indonésia – Wikipédia, a enciclopédia livre

Negara Kesatuan Republik IndonesiaRepublik IndonesiaNusantara República da IndonésiaLema: Bhinneka Tunggal Ika(Javanês antigo) ("Unidade na Diversidade")Hino nacional: Indonesia Raya(Indonésio) ("Grande Indonésia")Gentílico: indonésio(a)

CapitalJacarta6° 10' S 106° 49' ECidade mais populosaJacartaLíngua oficialIndonésioGovernoRepública presidencialista - PresidenteJoko Widodo - Vice-presidenteMa'ruf AminIndependênciados Países Baixos  - Declarada17 de agosto de 1945  - Reconhecida27 de novembro de 1949 Área  - Total1 904 569 km² (15.º) - Água (%)4,8 FronteiraCom a Malásia (N), com a Papua-Nova Guiné (E) e com Timor-Leste (E); fronteiras marítimas adicionais com as Filipinas, Singapura (N), Palau (E), Austrália (S) e Índia (NO)População  - Estimativa para 2017260 580 739[2] hab. (4.º) - Densidade126 hab./km² (61.º)PIB (base PPC)Estimativa de 2014 - TotalUS$ 2,554 trilhões * (15.º) - Per capitaUS$ 10 156 (122.º)PIB (nominal)Estimativa de 2014 - TotalUS$ 856,066 bilhões * (18.º) - Per capitaUS$ 3 403 (109.º)IDH (2019)0,718 (107.º) – alto[4]Gini (2005)36,3[5] MoedaRupia indonésia (IDR)Fuso horário(UTC+7 a +9, oficial: +7) - Verão (DST)não observado (UTC+7 a +9)ClimaTropical úmido e tropicalOrg. internacionaisONU, OMC, G15, OPEP, ASEAN, G20Cód. ISOIDNCód. Internet.idCód. telef.+62Website governamentalwww.indonesia.go.id

Indonésia (em indonésio: Indonesia, pronunciado: [ɪndonesia]), oficialmente República da Indonésia (em indonésio: Republik Indonesia, pronunciado: [rɛpublik ɪndonesia]), é um país localizado entre o Sudeste Asiático e a Austrália, sendo o maior arquipélago do mundo, composto pelas Ilhas de Sonda,[6] a metade ocidental da Nova Guiné e compreendendo no total 17 508 ilhas.[7] Por ser um arquipélago, tem fronteiras terrestres com a parte oriental da Malásia (na ilha de Bornéu), Timor-Leste (na ilha do Timor) e Papua-Nova Guiné (na Nova Guiné); e marítimas com as Filipinas, Malásia, Singapura, Palau, Austrália e com o território indiano de Andamão e Nicobar. A localização entre dois continentes — Ásia e Oceania — faz da Indonésia uma nação transcontinental. O país é uma república,[8] com poder legislativo e presidente eleitos por sufrágio universal, sendo sua capital a cidade de Jacarta, com uma população de cerca de 10 milhões de pessoas. É um dos membros fundadores da Associação de Nações do Sudeste Asiático (ASEAN) e membro do G20. A economia indonésia é a décima oitava maior economia do mundo e décima quinta maior em paridade do poder de compra.

O arquipélago indonésio tem sido uma região de grande importância para o comércio desde os séculos VI e VII, quando Serivijaia começou a comercializar com a China e com a Índia. Apesar de sua grande população e regiões densamente povoadas, a Indonésia tem vastas áreas desabitadas e é um dos países mais biodiversos do mundo.[10] Desde os primeiros séculos da era cristã, governantes locais gradativamente absorveram modelos culturais, políticos e religiosos estrangeiros, enquanto reinos hindus e budistas floresceram.

A história da Indonésia tem sido influenciada por poderes estrangeiros atraídos por seus vastos recursos naturais. Comerciantes árabes muçulmanos trouxeram o islamismo, agora a religião dominante no país. As potências europeias trouxeram o cristianismo e, além disso, lutaram entre si para monopolizar o comércio de especiarias nas ilhas Molucas durante a Era dos Descobrimentos. Depois de três séculos e meio de colonialismo holandês, a Indonésia conquistou sua independência após a Segunda Guerra Mundial. A história do país desde então tem sido turbulenta, com desafios colocados por catástrofes naturais, corrupção política, movimentos separatistas, processo de democratização e períodos de rápida mudanças econômicas. A nação atual da Indonésia é uma república presidencial unitarista composta por trinta e quatro províncias.[11]

Com mais de 250 milhões de habitantes, é o quarto país mais populoso do mundo e o primeiro entre os países islâmicos.[8] Através de suas várias ilhas, o povo indonésio está distribuído por distintos grupos étnicos, linguísticos e religiosos. O lema nacional Bhinneka Tunggal Ika ("Unidade na diversidade") articula a diversidade que há na nação.[8] A Indonésia é um país rico em questão de recursos naturais, contrastando com sua população, que é, em sua maioria, de baixa renda.

Em 2020, o Vulcão Anak Krakatoa entra em erupção e lança cinzas a 500 metros de altura. O país sofre com frequênciaterremotos violentos, já que se encontra entre placas tectônicas e que registra grande parte das erupções vulcânicas.[14]Etimologia[editar | editar código-fonte]

O nome "Indonésia" deriva do grego indós e nesus, que significa "ilha índica". O nome data do século XVIII, precedendo a formação de uma Indonésia independente.[16] Em 1850, George Earl, etnólogo inglês, propôs os termos Indunesians, ou também Malayunesians, para se referir aos habitantes do "arquipélago indiano" ou "arquipélago malaio". Na mesma publicação, um dos estudantes de Earls, James Richardson Logan, utiliza a palavra "Indonésia" como sinônimo de "arquipélago indiano". Entretanto, os acadêmicos neerlandeses que escreveram publicações nas Índias Orientais negavam a usar o vocábulo Indonésia, usando em seu lugar termos como Maleische Archipel ("Arquipélago Malaio"); Nederlandsch Oost Indië (Índias Orientais Neerlandesas); de Oost (o leste); e inclusive Insulinde.[nota 1]

A partir de 1900 o uso do termo Indonésia se tornou mais comum em círculos acadêmicos fora dos Países Baixos, e grupos nacionalistas indonésios adotaram o termo para expansão política. Adolf Bastian, da Universidade de Berlim, popularizou o nome no seu livro Indonesien oder die Islas des Malayischen Archipels, 1884–1894. O primeiro erudito indonésio a utilizar o nome foi Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), quando em 1913 estabeleceu uma imprensa nos Países Baixos com o nome Indonesisch Pers-mesa.[16]História[editar | editar código-fonte]

Um navio esculpido em Borobudur aproximadamente no ano 800. Barcos indonésios podem ter feito viagens comerciais para a costa oriental da África no século I.

Restos fossilizados de Homo erectus, popularmente conhecido como Homem de Java, sugerem que a Indonésia tenha sido habitada de 2 000 000 a 500 000 anos atrás, aproximadamente.[22] O Homo-sapiens chegou à região, provavelmente, há 45 000 anos. Os austronésios, que constituem a maioria da população moderna do país, emigraram ao sudeste asiático a partir da ilha de Formosa. Por volta do ano 2 000 a.C., chegaram à Indonésia e expandiram seus territórios para as ilhas melanésias do oriente. Nos princípios do século VIII a.C., as condições agrícolas ideais e o aperfeiçoamento das técnicas do cultivo do arroz permitiram o surgimento de pequenas aldeias e reinos. A posição estratégica da Indonésia estimulou o comércio entre as ilhas e com o continente. Por exemplo, as relações com os reinos da China e da Índia se estabeleceram há vários séculos antes de Cristo, o que demonstra que o comércio sempre fez parte da história da Indonésia.

Entre os séculos VII e XIV, formaram-se, nas ilhas de Samatra e Java, vários reinos hindus e budistas). Dois grandes reinos que surgiram nessa época foram o Serivijaia e Majapait. Do século VII até o século XIV, o reino budista de Serivijaia, em Sumatra, cresceu rapidamente. Em seu auge, o Serivijaia controlava desde o oeste de Java até a península malaia. No século XIV, também surgiu o reino hindu de Java Oriental, Majapait, que conseguiu obter poder sobre o território que é a maior parte da Indonésia atual e sobre quase toda a Península Malaia.

Com a chegada de comerciantes árabes de Gujarate (Índia) no século XII, o Islão tornou-se a religião dominante na maior parte do arquipélago, iniciando ao norte de Sumatra. Outras áreas da Indonésia gradualmente adotaram o islamismo, o que o tornou a religião dominante em Java e Sumatra no final do século XVI. O islamismo se misturou a influências culturais e religiosas da região, que moldaram a forma predominante do islamismo na Indonésia, particularmente em Java. Sultanatos islâmicos como o de Mataram e de Bantém se instalaram na região.Colonização europeia[editar | editar código-fonte]

23 Desember 2021

Indonesia – Travel guide at Wikivoyage

COVID-19 information: Indonesia restricts entry and transit for all foreign visitors in response to the COVID-19 pandemic. See the Get In section for more information.

A reduced social interaction action is implemented across the country. Entering many establishments and intercity travel requires evidence of vaccination or recovery through the tracing app PeduliLindungi. It is required to wear a face mask whenever you are not at your home, and in large cities, this is strictly enforced, with monetary or corporal consequences for disobedience. A negative test is also compulsory for inter-island travel, intercity travel with public transportation, and in some cases for entry to specific destinations.(Information last updated 20 Sep 2021)

Indonesia is a huge archipelago of diverse islands scattered over both sides of the Equator between the Indian Ocean and the Pacific Ocean. With an extensive, but quickly carved out amount of green forests on all of its islands and halfway between the poles, Indonesia is nicknamed The Emerald of the Equator.Regions[edit]

The nation of Indonesia is almost unimaginably vast: More than 18,000 islands providing 108,000 km of beaches.The distance between Aceh in the west and Papua in the east is 4,702 km (2,500 mi), comparable to the distance between New York City and San Francisco.Lying on the western rim of the Ring of Fire, Indonesia has more than 400 volcanoes, of which 129 are considered active, as well as many undersea volcanoes. The island of New Guinea (on which the Indonesian province of Papua is located) is the second-largest island in the world, Borneo (about 2/3 Indonesian, with the rest belonging to Malaysia and Brunei) is the third-largest, and Sumatra is the sixth-largest.

Travellers to Indonesia tend to have Bali at the top of their mind as their reason to visit, which is a shame given there are even more breathtaking natural beauty and cultural experiences elsewhere that are waiting to be explored. The vastness of the estate and the variety of islands offer significant cultural differences that are worth sensing.

Most of the 34 provinces are composed of a group of smaller islands (East & West Nusa Tenggara, Maluku), or divide up a larger island and its outlying islands into pieces (Sumatra, Kalimantan, Java, Sulawesi, Papua). The listing below follows a simpler practice of putting together several provinces in one region, except with Bali, which is treated as a separate region in Wikivoyage.

 Sumatra (incl. the Riau Islands and Bangka-Belitung)Wild and rugged, the sixth-largest island in the world has a great natural and cultural wealth with more than 40 million inhabitants and is the habitat for many endangered species. This is where you can find Aceh, Palembang, Padang, Lampung and Medan, as well as the multi-coloured Lake Toba in the land of the outspoken Toba Batak and Indonesia's gateway island, Batam. Kalimantan (Borneo)The vast majority of Borneo, the world's third-largest island, forms Kalimantan (with the remainder belonging to Malaysia and Brunei). An explorer's paradise for the uncharted (but quickly disappearing) forest, mighty rivers, the indigenous Dayak tribe, and home to most of the orangutans. The cities of Pontianak, Banjarmasin, and Balikpapan are some of the fastest growing in the nation. Bali By far the most popular tourist destination and has the most complete facilities for all kinds of tourists in Indonesia. Bali's blend of unique Hindu culture, legendary beaches, numerous religious and historical sites, spectacular highland regions and unique underwater life make it a perennial favourite amongst global travellers. Sulawesi (Celebes)Strangely shaped, this island houses a diversity of societies and some spectacular scenery. This includes the Toraja culture, megalithic civilisation in Lore Lindu National Park, rich flora and fauna, and world-class diving sites like Bunaken and Bitung. Nusa Tenggara (NT) Also known as the Lesser Sunda Islands — literally the "Southeast Islands" — they are divided into East Nusa Tenggara and West Nusa Tenggara and contain scores of ethnic groups, languages and religions, as well as Komodo lizards and more spectacular diving.West NT contains Lombok and Sumbawa and many small islands.Lombok is the less-visited but equally interesting sister of Bali and offers several diving sites as well as historical and religious locations.East NT contains Flores, Sumba and West Timor as well as several other islands, including Komodo Island, home of the Komodo dragon, and offers the unique attraction of containing tiny kingdoms on Sumba. Traditional art in East NT, especially woven cloth, is interesting and reasonably priced, and you can find beaches that are literally covered with sand of unique colours, coral, and shells. Maluku (Moluccas)The historic Spice Islands, formerly much fought over by colonial powers, are now seldom visited, but Ambon, the Banda Islands and the Kei Islands are promising destinations for marine tourism. Papua (Irian Jaya)The western half of the island of New Guinea, with mountains, forests, swamps and an almost impenetrable wilderness in one of the remotest places on earth.Aside from the gold and copper mining in the area of Freeport, this is probably one of the most pristine parts of the country, and scientists have discovered previously unknown species here.Cities[edit]

1 Jakarta — the perennially congested capital which is also the largest city in the country2 Bandung — university town in the cooler highlands of Java3 Banjarmasin — a cultural hub of Kalimantan4 Jayapura — the capital of Papua and a gateway to the highlands5 Kuta — with its great beaches and exciting nightlife, Kuta is yet another reason for visiting Bali6 Makassar (Ujung Pandang) — the gateway to Sulawesi and home of the regionally famous Bugis seafarers7 Medan — the diverse main city of Sumatra and gateway to Lake Toba and the rest of the Batak land8 Surabaya — a very active port that is the capital of East Java and the second-largest city in the country9 Yogyakarta — central Java's cultural hub and the access point to the mighty temples of Prambanan and BorobudurOther destinations[edit]

The following is a limited selection of some of Indonesia's top sights.1 Baliem Valley — superb trekking into the lands of the Lani, Dani and Yali tribes in remote Papua2 Borobudur — one of the largest Buddhist temples in the world located in Central Java province; often combined with a visit to the equally impressive Hindu ruins at nearby Prambanan3 Bromo-Tengger-Semeru National Park — some of the scariest volcanic scenery on the planet and one of the best locations in the world to see the sunrise4 Bunaken — one of the best scuba diving destinations in Indonesia, if not the world5 Kerinci Seblat National Park — tigers, elephants, and monstrous rafflesia flowers in this huge expanse of forest in Sumatra6 Komodo National Park — home of the Komodo dragon and a hugely important marine ecosystem7 Lake Toba — the largest volcanic lake in the world8 Lombok — popular island to east of Bali with the tiny laid-back Gili Islands and mighty Mount Rinjani9 Tana Toraja — highland area of Southern Sulawesi famed for extraordinary funeral ritesUnderstand[edit]CapitalJakartaCurrencyrupiah (IDR)Population270.6 million (2019)Electricity127 volt / 50 hertz and 230 volt / 50 hertz (Europlug, Schuko)Country code+62Time zoneIndonesia Western Standard Time to Indonesia Central Standard Time and Asia/Pontianak, Asia/Makassar, Asia/JayapuraEmergencies112Driving sideleft

With 18,330 islands, 6,000 of them inhabited, Indonesia is the largest archipelago in the world. To imagine how vast Indonesia is, Indonesia stretches from west to east as wide as the USA or Western and Eastern Europe combined, yet more than two thirds of the area is sea water.

With more than 260 million people, Indonesia is the fourth most populous country in the world — after China, India and the USA — and by far the largest in Southeast Asia.

Indonesia International Travel Infromation

U.S. Embassy Jakarta

Jl. Medan Merdeka Selatan No. 3 - 5Jakarta 10110, IndonesiaTelephone: +(62)(21) 5083-1000Emergency After-Hours Telephone: +(62)(21) 5083-1000 ext. 0 (operator)Fax: +(62)(21) 385-7189Email: JakartaACS@state.govConsulates

U.S. Consulate General SurabayaJl. Citra Raya Niaga No. 2Surabaya 60217IndonesiaTelephone: +(62)(31) 297-5300Emergency After-Hours Telephone: +(62)(811) 334-183Fax: +(62)(31) 567-4492Email: SurabayaACS@state.gov

U.S. Consular Agency BaliJalan Hayam Wuruk 310, Denpasar, BaliTelephone: +(62)(361) 233-605Emergency After-Hours Telephone: Please contact the U.S. Consulate inSurabaya:+(62)(811) 334-183Fax: +(62)(361) 222-426Email: CABali@state.gov

American Consulate Medan, SumatraUni Plaza Building4th Floor (West Tower)Jl. Let. Jend. MT Haryono A-1Medan 20231, IndonesiaTelephone: +(62)(61) 451-9000Emergency After-Hours Telephone: +(62)(61) 451-9000Fax: +(62)(61) 455-9033The U.S. Consulate in Medan, provides only emergency assistance toU.S. citizens and does not offer routine consular services.Email: Sumatra@state.gov

Your passport must have at least two blank pages and be valid for at least six months beyond the date of your arrival in Indonesia. If your passport does not meet these requirements, you will be denied entry into Indonesia. The Government of Indonesia does not recognize the 12-page U.S. emergency passport, issued by U.S. embassies and consulates overseas, as a valid travel document for visa-free travel, and, if traveling on this emergency passport, you may be refused boarding and/or entry by immigration officials. If you travel on a limited validity passport, such as an emergency passport, you must obtain a visa prior to arriving in Indonesia.

If you are traveling on a full-validity passport, there are three ways to enter Indonesia:Visa Exemption: This is a no-fee stamp placed in your passport upon arrival for travelers staying less than 30 days; no extensions are allowed and no adjustment to another visa status permitted. You must enter and exit through an immigration checkpoint at major airports and seaports. You also must have a return or onward ticket to another country and have not been previously refused entry to Indonesia or blacklisted.  Visa-on-Arrival: This is a $35 USD visa issued upon arrival valid for up to 30 days for tourism, family visitation, and other purposes. See the Indonesian Immigration’s website for more information. You may extend a Visa-on-Arrival one time for a maximum of 30 additional days, for another $35 USD.  Diplomatic or official passport holders should not apply for Visa-on-Arrival, and should either use visa exemption if staying in Indonesia less than 30 days, or obtain a visa in advance if staying longer than 30 days.  Visa in advance: Travel for more than 30 days or travel for non-tourism purposes, including business, employment and journalism, requires that the appropriate visa be obtained from an Indonesian embassy or consulate before arrival. If you are traveling on an emergency passport, you must obtain an visa before arrival in Indonesia.

Entry requirements are subject to change at the discretion of Indonesian immigration authorities. If you overstay your visa, you are subject to a fine of 1 million Indonesian rupiah (about $70 USD at current exchange rates; fees may change at any time) per day and may be detained and deported. U.S. citizens have been jailed for visa overstays or entering the country on the wrong visa class for their purpose of travel. Travelers coming to Indonesia for non-tourism purposes are strongly encouraged to consult Indonesian Immigration’s website.  

While you are in Indonesia, always carry your passport, valid visa, and work or resident permit, if applicable. Immigration authorities may request that foreigners present their travel documents during routine inspections of apartment buildings, other residential areas, or offices.  Travelers have been detained for questioning for not having their passports with them.

The U.S. Department of State is unaware of any HIV/AIDS entry restrictions for visitors or foreign residents in Indonesia. The Indonesian government screens incoming passengers in response to reported outbreaks of pandemic illnesses.

Find information on dual nationality, prevention of international child abduction and customs regulations on our websites.

Since 2002, Indonesian police and security forces have disrupted a number of terrorist cells. Although extremists in Indonesia continue to aspire to carry out violent attacks against Indonesian and Western targets, police have arrested more than 1,700 individuals on terrorism-related charges since 2002 and have greatly reduced the capacity of domestic terrorist organizations. Extremists may target both official and private establishments, including hotels, bars, nightclubs, shopping areas, restaurants, and places of worship. Whether at work, pursuing daily activities, or traveling, you should be aware of your personal safety and security at all times. 

Recent incidents of extremist violence include the May 2018 bomb attacks against three churches in Surabaya that killed 15 civilians and injured 50 more, and an attack in January 14, 2016, by terrorists using guns and explosives attacked near the Sarinah Plaza in Central Jakarta, which killed four civilians, including one foreigner, and injured 17 others. In 2002, more than 200 foreign tourists and Indonesian citizens were killed by a bomb in Bali’s nightclub district.

Demonstrations are very common in Jakarta, Surabaya, and other large cities, but less common in Bali. You should avoid demonstrations and other mass gatherings, since even those intended to be peaceful can become violent. Demonstrations may become more frequent ahead of the Indonesian general elections scheduled for April 2019.

Currently, travel by U.S. government personnel to the provinces of Central Sulawesi and Papua is restricted to mission-essential travel that is approved in advance by the Embassy security office.

Crime: Pick-pocketing, theft, armed car-jacking, and residential break-ins are common. Avoid travelling to isolated areas late at night. Beware of your surroundings, particularly vehicles or individuals that might be following you. 

Use a reputable taxi company or hire a taxi either at a major hotel or shopping center. Travelers have been robbed in taxis that have been painted to look like legitimate taxis.

Credit card fraud is a serious and growing problem in Indonesia. Avoid using credit cards when possible. Criminals have “skimmed” credit/debit cards to access and drain bank accounts. Use an ATM in a secure location and check the machine for evidence of tampering. Monitor your account statements regularly.

Tourists and Indonesians have suffered from serious illness and have even died from "drink-spiking” and drink poisoning incidents, particularly in clubs and nightspots in urban and tourist areas. 

See the Department of State and the FBI pages for information on scams.

Victims of Crime: Victims of sexual assault should seek prompt medical assistance, contact the Embassy, and call the local police at 112. For a criminal investigation to be initiated by the police, the victim must make a full statement to the local police, in person.  

See our webpage on help for U.S. victims of crime overseas.

We can:help you find appropriate medical careassist you in reporting a crime to the policecontact relatives or friends with your written consentexplain the local criminal justice process in general termsprovide a list of local attorneysprovide our information on victim’s compensation programs in the U.S.provide an emergency loan for repatriation to the United States and/or limited medical support in cases of destitutionhelp you find accommodation and arrange flights homereplace a stolen or lost passport

Domestic Violence: U.S. citizen victims of domestic violence may contact the Embassy for assistance.

Indonesia – Wikipedia tiếng Việt

Đối với các định nghĩa khác, xem Nam Dương.

Tên bản ngữRepublik Indonesia (Tiếng Indonesia)

Tiêu ngữ: Bhinneka Tunggal Ika (Tiếng Java cổ)(Tiếng Việt: "Thống nhất trong đa dạng")Hệ tư tưởng quốc gia: Pancasila[1]

Quốc ca: Indonesia Raya(Tiếng Việt: "Indonesia vĩ đại")Tổng quanThủ đô

và thành phố lớn nhất Jakarta6°10′N 106°49′Đ / 6,167°N 106,817°ĐNgôn ngữ chính thứcTiếng Indonesia

Ngôn ngữ vùngHơn 700 ngôn ngữ[4]Sắc tộcHơn 1.300 nhóm sắc tộc[3]Tôn giáo chính

(2018)[5]86,70% Hồi giáo10,72% Cơ Đốc giáo1,74% Ấn Độ giáo<1% KhácTên dân cưNgười IndonesiaChính trịChính phủCộng hòa lập hiến tổng thống chế đơn nhất

• Tổng thống Joko Widodo

• Phó Tổng thống Ma'ruf Amin

• Chủ tịch Hội đồng Đại diện Nhân dân Puan Maharani

• Chánh án Tòa án Tối cao Muhammad SyarifuddinLập phápHội nghị Hiệp thương Nhân dân (MPR)

• Thượng việnHội đồng Đại diện Khu vực (DPD)

• Hạ việnHội đồng Đại diện Nhân dân (DPR)Lịch sửĐộc lập 

• Tuyên bố 17 tháng 8 năm 1945

• Công nhận 27 tháng 12 năm 1949Địa lýDiện tích  

• Đất liền1.904.569[6] km2 (hạng 14)735.358 mi2

• Mặt nước (%)4,85Dân số 

• Điều tra 2020270.203.917[7] (hạng 4)

• Mật độ141/km2 (hạng 88)365/mi2Kinh tếGDP  (PPP)Ước lượng 2020

• Tổng số3,328,2 tỷ USD (hạng 7)

• Bình quân đầu người12.345 USD (hạng 95)GDP  (danh nghĩa)Ước lượng 2020

• Tổng số1.088.7 tỷ USD (hạng 15)

• Bình quân đầu người4.038 USD (hạng 108)Đơn vị tiền tệRupiah Indonesia (Rp) (IDR)Thông tin khácGini? (2018) 37,8[8]trung bìnhHDI? (2019) 0,718[9]cao · hạng 107Múi giờUTC+7 đến +9 (nhiều múi giờ)Cách ghi ngày thángngày/tháng/nămĐiện thương dụng220 V–50 HzGiao thông bêntráiMã điện thoại+62Mã ISO 3166IDTên miền Internet.id

Indonesia[10], tên gọi chính thức là Cộng hòa Indonesia (tiếng Indonesia: Republik Indonesia) là một đảo quốc nằm giữa Đông Nam Á và Châu Đại Dương. Indonesia được mệnh danh là "Xứ sở vạn đảo" vì lãnh thổ của nước này bao gồm 13.487 hòn đảo[11][12] với dân số ước tính đạt hơn 274,1 triệu người (năm 2020), xếp thứ 4 thế giới và đứng thứ 3 châu Á.

Indonesia là quốc gia có số dân theo Hồi giáo lớn thứ nhất trên thế giới, tuy nhiên khác với Malaysia và Brunei, trong Hiến pháp Indonesia không đề cập tới tôn giáo này là quốc giáo (do vậy không thể coi Indonesia là một quốc gia Hồi giáo giống như các nước Tây Á, Trung Đông, Bắc Phi, Malaysia hay Brunei,...). Indonesia theo thể chế cộng hòa với một bộ máy lập pháp và Tổng thống do dân bầu. Indonesia có biên giới trên đất liền với Papua New Guinea ở đảo New Guinea, Đông Timor ở đảo Timor và Malaysia ở đảo Borneo, ngoài ra vùng biển giáp các nước Singapore,Việt Nam, Philippines, Úc, và lãnh thổ Quần đảo Andaman và Nicobar của Ấn Độ. Thủ đô hiện tại là Jakarta và đây cũng đồng thời là tỉnh lớn nhất, tuy nhiên do sự quá tải dân số đang gây sức ép lớn lên hệ thống cơ sở hạ tầng, chính phủ Indonesia đang có chủ trương dời đô trong tương lai.

Quần đảo Indonesia từng là một vùng thương mại quan trọng nhất từ thế kỷ VII. Lịch sử Indonesia bắt đầu khi Vương quốc Srivijaya có các hoạt động giao thương với Trung Quốc và Ấn Độ. Những vị vua cai trị địa phương dần tiếp thu văn hóa, tôn giáo và các mô hình quản lý kiểu Ấn Độ từ những thế kỷ đầu tiên của Công Nguyên, tiếp sau đó, các vương quốc Ấn Độ giáo cũng như Phật giáo đã bắt đầu hình thành và phát triển. Indonesia bị ảnh hưởng bởi các cường quốc nước ngoài muốn nhòm ngó các nguồn tài nguyên thiên nhiên của quần đảo. Các nhà buôn Hồi giáo đã đưa đạo Hồi tới đây, đồng thời, các cường quốc châu Âu cũng bắt đầu tranh giành ảnh hưởng để độc chiếm lĩnh vực thương mại trên các hòn đảo Hương liệu Maluku trong Thời đại Khám phá. Sau hơn ba thế kỷ dưới ách thống trị của thực dân Hà Lan, Indonesia đã giành được độc lập sau Chiến tranh thế giới thứ hai. Sau độc lập, Indonesia tiếp tục rơi vào nhiều biến động lớn như xung đột quyền lực giữa các phe phái chính trị, nạn tham nhũng cũng như một quá trình dân chủ hoá chưa triệt để.

Tuy gồm rất nhiều hòn đảo, Indonesia vẫn có các nhóm sắc tộc, ngôn ngữ và tôn giáo riêng biệt. Người Java là nhóm sắc tộc đông đúc và có vị thế chính trị lớn nhất còn người Indonesia gốc Hoa là nhóm cộng đồng có sức ảnh hưởng lớn nhất tới nền kinh tế.

Indonesia là 1 trong 5 quốc gia tham sáng lập ASEAN, thành viên của nhiều tổ chức toàn cầu lớn trong đó nổi bật nhất là G-20. Năm 2020, nền kinh tế Indonesia có quy mô lớn nhất khu vực Đông Nam Á, xếp thứ 15 toàn cầu hoặc hạng 4 châu Á và thứ 7 toàn cầu theo GDP sức mua tương đương (ước tính 2020). Tuy nhiên, do dân số quá đông (hơn 274,1 triệu người) nên GDP bình quân đầu người của nước này vẫn ở mức trung bình thấp. Quốc gia này có chỉ số phát triển con người (HDI) ở mức cao và được công nhận là một cường quốc ở khu vực Đông Nam Á cũng như cường quốc bậc trung trên thế giới.

Khẩu hiệu quốc gia của Indonesia, "Bhinneka tunggal ika" - "Thống nhất trong đa dạng" (theo nghĩa đen "nhiều, nhưng là một"), đã thể hiện rõ sự đa dạng hình thành nên quốc gia này. Tuy nhiên, những căng thẳng tôn giáo và chủ nghĩa ly khai đã dẫn tới những xung đột bạo lực đe doạ sự ổn định kinh tế và chính trị. Dù có dân số lớn và nhiều vùng dân cư đông đúc, Indonesia vẫn còn nhiều khu vực hoang vu, đây là quốc gia có mức độ đa dạng sinh học đứng hàng đầu trên thế giới. Quốc gia này cũng rất giàu các nguồn tài nguyên thiên nhiên, có diện tích lãnh thổ rộng lớn nhất, dân số đông nhất và là quốc gia duy nhất thuộc G-20 trong số các nước Đông Nam Á, tuy vậy, tình trạng lạc hậu của các vùng nông thôn, tỷ lệ người nghèo cao cùng sự chênh lệch giàu nghèo, bất bình đẳng thu nhập gia tăng đang là những vấn đề, thách thức lớn của xã hội Indonesia hiện đại.Từ nguyên[sửa | sửa mã nguồn]

Chữ Indonesia xuất phát từ từ Indus trong tiếng Latinh, có nghĩa "Ấn Độ", và từ nesos trong tiếng Hy Lạp, có nghĩa "hòn đảo".[13] Tên gọi này đã có từ thế kỷ XVIII, rất lâu trước khi nhà nước Indonesia độc lập hình thành.[14] Năm 1850, George Earl, một nhà phong tục học người Anh, đã đề xuất thuật ngữ Indunesians — và, từ được ông thích hơn, Malayunesians — để chỉ những người dân sống trên "Quần đảo Ấn Độ hay Quần đảo Malaya".[15] Cũng trong bài viết đó, một sinh viên của Earl là James Richardson Logan, đã sử dụng Indonesia như một từ đồng nghĩa với Quần đảo Ấn Độ.[16] Tuy nhiên, các tài liệu của viện hàn lâm Hà Lan viết về Đông Ấn đã lưỡng lự trong việc sử dụng Indonesia. Thay vào đó, họ dùng thuật ngữ Quần đảo Malay (Maleische Archipel); Đông Ấn Hà Lan (Nederlandsch Oost Indië), khái quát chung Indië; phương Đông (de Oost); và thậm chí Insulinde.[17]

Geography of Indonesia - Wikipedia

Geography of IndonesiaContinentAsiaRegionSoutheast AsiaCoordinates5°00′00″S 120°00′00″E / 5.000°S 120.000°EAreaRanked 14th • Total8,063,601 km2 (3,113,374 sq mi) • Land23.62% • Water76.38%Coastline54,720 km (34,000 mi)BordersMalaysia: 2,019 km (1,255 mi)Papua New Guinea: 824 km (512 mi)East Timor: 253 km (157 mi)Highest pointPuncak Jaya (Carstensz Pyramid)4,884 m (16,024 ft)Lowest pointSea level0 m (0 ft)Longest riverKapuas River1,143 km (710 mi)Largest lakeLake Toba1,130 km2 (436 sq mi)ClimateMostly tropical rainforest (Af), Southeastern part is predominantly tropical savanna (Aw), while some parts of Java and Sulawesi are tropical monsoon (Am)TerrainPlain in most part of Kalimantan, southern New Guinea, eastern Sumatra and northern Java; Rugged, volcanic topography in Sulawesi, western Sumatra, southern Java, Lesser Sunda Islands and Maluku Islands; Rugged mountains in central, northwestern New Guinea and northern KalimantanNatural resourcesArable land, coal, petroleum, natural gas, timber, copper, lead, phosphates, uranium, bauxite, gold, iron, mercury, nickel, silverNatural hazardsTsunamis; volcanoes; earthquake activity except in central part; tropical cyclones along the Indian coasts; mud slides in Java; floodingEnvironmental issuesSevere deforestation, air pollution resulting in acid rain, river pollutionExclusive economic zone6,159,032 km2 (2,378,016 sq mi)

Indonesia is an archipelagic country located in Southeast Asia, lying between the Indian Ocean and the Pacific Ocean. It is located in a strategic location astride or along major sea lanes connecting East Asia, South Asia and Oceania. Indonesia is the largest archipelago in the world.[1] Indonesia's various regional cultures have been shaped—although not specifically determined—by centuries of complex interactions with its physical environment.Overview[edit]

Indonesia is an archipelagic country extending about 5,120 kilometres (3,181 mi) from east to west and 1,760 kilometres (1,094 mi) from north to south.[2] According to a geospatial survey conducted between 2007 and 2010 by National Coordinating Agency for Survey and Mapping (Bakosurtanal), Indonesia has 13,466 islands.[3] While earlier survey conducted in 2002 by National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN) stated Indonesia has 18,307 islands. According to the CIA World Factbook, there are 17,508 islands.[4] The discrepancy between the surveys is likely caused by the earlier different survey method including tidal islands, sandy cays and rocky reefs that surface during low tide and submerge during high tide. There are 8,844 named islands according to estimates made by the government of Indonesia, with 922 of those are permanent. It comprises five main islands: Sumatra, Java, Borneo (known as Kalimantan in Indonesia), Sulawesi, and New Guinea; two major island groups (Nusa Tenggara and the Maluku Islands) and sixty smaller island groups. Four of the islands are shared with other countries: Borneo is shared with Malaysia and Brunei; Sebatik, located off the northeastern coast of Kalimantan, shared with Malaysia; Timor is shared with East Timor; and New Guinea is shared with Papua New Guinea.

Indonesia has total land area of 1,904,569 square kilometres (735,358 sq mi), Including 93,000 square kilometres (35,908 sq mi) of inland seas (straits, bays, and other bodies of water). This makes it the largest island country in the world.[1] The additional surrounding sea areas bring Indonesia's generally recognised territory (land and sea) to about 5 million km2. The government claims an exclusive economic zone of 6,159,032 km2 (2,378,016 sq mi). This brings the total area to about 7.9 million km2.[5][6]

Indonesia is a transcontinental country, where its territory consisted of islands geologically considered as part of either Asia or Australia. During the Pleistocene, the Greater Sunda Islands were connected to the Asian mainland while New Guinea was connected to Australia.[7][8] Karimata Strait, Java Sea and Arafura Sea were formed as the sea level rose at the end of the Pleistocene.Geology[edit]

The tectonic plates & movements under Indonesia

The main islands of Sumatra, Java, Madura, and Kalimantan lie on the Sunda Plate and geographers have conventionally grouped them, (along with Sulawesi), as the Greater Sunda Islands. At Indonesia's eastern extremity is western New Guinea, which lies on the Australian Plate. Sea depths in the Sunda and Sahul shelves average 300 metres (984 ft) or less. Between these two shelves lie Sulawesi, Nusa Tenggara (also known as the Lesser Sunda Islands), and the Maluku Islands (or the Moluccas), which form a second island group with deep, surrounding seas down to 4,500 metres (14,764 ft) in depth. The term "Outer Islands" is used inconsistently by various writers but it is usually taken to mean those islands other than Java and Madura.

Sulawesi is an island lies on three separate plates, the Banda Sea Plate, Molucca Sea Plate, and Sunda Plate. Seismic and volcanic activities are high on its northeastern part, evidenced by the formation of volcanoes in North Sulawesi and island arcs such as the Sangihe and Talaud Islands, southwest of the Philippine Trench.[9][10][11]

Nusa Tenggara or Lesser Sunda Islands consists of two strings of islands stretching eastward from Bali toward southern Maluku. The inner arc of Nusa Tenggara is a continuation of the Alpide belt chain of mountains and volcanoes extending from Sumatra through Java, Bali, and Flores, and trailing off in the volcanic Banda Islands, which along with the Kai Islands and the Tanimbar Islands and other small islands in the Banda Sea are typical examples of the Wallacea mixture of Asian and Australasian plant and animal life.[12] The outer arc of Nusa Tenggara is a geological extension of the chain of islands west of Sumatra that includes Nias, Mentawai, and Enggano. This chain resurfaces in Nusa Tenggara in the ruggedly mountainous islands of Sumba and Timor.

The Maluku Islands (or Moluccas) are geologically among the most complex of the Indonesian islands, consisted of four different tectonic plates. They are located in the northeast sector of the archipelago, bounded by the Philippine Sea to the north, Papua to the east, and Nusa Tenggara to the southwest. The largest of these islands include Halmahera, Seram and Buru, all of which rise steeply out of very deep seas and have unique Wallacea vegetation.[13] This abrupt relief pattern from sea to high mountains means that there are very few level coastal plains. To the south lies the Banda Sea. The convergence between the Banda Sea Plate and Australian Plate created a chain of volcanic islands called the Banda Arc.[14][15] The sea also contains the Weber Deep, one of the deepest point in Indonesia.[16][17]

Geomorphologists believe that the island of New Guinea is part of the Australian continent, both lies on Sahul Shelf and once joined via a land bridge during the Last glacial period.[18][19] The tectonic movement of the Australian Plate created towering, snowcapped mountain peaks lining the island's central east–west spine and hot, humid alluvial plains along the coasts.[20] The New Guinea Highlands range some 650 kilometres (404 mi) east to west along the island, forming a mountainous spine between the northern and southern portion of the island. Due to its tectonic movement, New Guinea experienced many earthquakes and tsunamis, especially in its northern and western part.[21][22]Tectonism and volcanism[edit]

Most of the larger islands are mountainous, with peaks ranging between 2,000 and 3,800 metres (6,562 and 12,467 ft) meters above sea level in Sumatra, Java, Bali, Lombok, Sulawesi, and Seram.[23] The country's tallest mountains are located in the Jayawijaya Mountains and the Sudirman Range in Papua. The highest peak, Puncak Jaya (4,884 metres (16,024 ft)), is located in the Sudirman Mountains. A string of volcanoes stretches from Sumatra to Nusa Tenggara,[24] and then loops around through to the Banda Islands of Maluku to northeastern Sulawesi. Of the 400 volcanoes, approximately 150 are active.[25] Two of the most violent volcanic eruptions in modern times occurred in Indonesia; in 1815 Mount Tambora in Sumbawa erupted killing 92,000 and in 1883, Krakatau, erupted killing 36,000. While volcanic ashes resulted from eruption has positive effects for the fertility of the surrounding soils, it also makes agricultural conditions unpredictable in some areas.

Anda Suka Olahraga Lari? Waspada, Kuku Kaki Bisa Lepas lalu Menghitam dan Dicabut!

  Anda Suka Olahraga Lari? Waspada, Kuku Kaki Bisa Lepas lalu Menghitam dan Dicabut! Hai teman-teman semua, mungkin anda sudah gak sabar i...